15
May
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 36 Comments
Meski tetap menjadi obyek penderita, dia tidak akan memprihatinkan
Masing-masing orang punya masa tenarnya sendiri-sendiri. Jika tahun lalu nama Tukul Arwana meroket sampai ke luar angkasa, kini nampaknya Budi Anduk sedang melangkah ke jenjang ketenaran. Kita mengenal nama pelawak berambut keriting ini saat dia menjadi figuran acara Ngelaba-nya Patrio di TPI. Itu terjadi pada 1996. Sayang sekali, saya bukanlah fans acara-acara di televisi ini. Jadi, jangan harap saya tahu bagaimana kualitas lawakan Budi Anduk ketika itu. Tapi, banyak orang yang bilang bahwa Budi Anduk sering menjadi objek penderita dalam acara lawakan itu. Duh, memprihatinkan, ya?
Kemudian kita melihat nama Budi Anduk semakin tenar ketika nyaris setiap hari wajahnya muncul di layar Star ANTV dalam acara banyolan Tawa Sutra. Well, banyak lawakan garing dalam acara itu. Tapi kemungkinan itulah yang dicari oleh banyak penonton sekarang ini: lawakan garing dan olok-olok tidak lucu. Di sini Budi masih tetap menjadi objek penderita. Perannya tidak jauh dari orang yang dikerjai, orang yang dibikin bingung, orang yang dijorokin oleh pelakon lain.
Nama Budi kembali melonjak tenar ketika SBY, presiden kita itu, menjagokan Budiono untuk menjadi calon wakil presiden pendampingnya. Banyak orang yang memelesetkan nama calon wakil presiden yang Gubernur Bank Indonesia itu Budi Anduk. Maklumlah, orang sudah mulai jenuh dengan hiruk pikuk politik yang sudah lama memekakkan telinga. Tentu saja Budi Anduk tidak bisa disamakan dengan Budiono, demikian pula sebaliknya.
Inilah masa tenar bagi Budi Anduk, pelawak yang jago bermain gitar dan menulis naskah. Pria yang bernama asli Budi Prihatin itu nampaknya tidak akan lagi hidup di tengah keprihatinan. Apalagi kalau Budiono benar-benar menjadi wakil presidennya SBY, khan?
4
May
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 33 Comments
I’m back…

Jika dihitung sejak tulisan terakhir saya pada 5 November 2008 tentang reaksi kemenangan Obama atas McCain, berarti saya sudah genap enam bulan tidak menuliskan lema di blog ini. Ini bisa dibilang adalah rentang waktu terlama bagi saya untuk tidak menorehkan sesuatu di blog yang sudah online sejak tahun 2005 yang lalu.
Ada beberapa komentar menanyakan mengapa saya berhenti ngeblog. Ah, cuma saya yang hiatus masa’ masih juga diamati juga, sih? Kecuekan saya terhadap blog ini nampak semakin menjadi ketika pada 28 April kemarin mendadak blog ini hilang dari ‘peredaran’ sama sekali. Saya benar-benar alpa untuk memperpanjang masa aktif domain ini. Ups… khilaf!
Jadi, apa penyebab dari tidak aktifnya blog saya ini? Well, tidak perlulah ini dibahas. Intinya memang adalah kemalasan saya semata. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih. Kalau kemudian ada pertanyaan lanjutan: jadi, benarkah blog itu tren semata? Duh, please jangan lemparkan pertanyaan itu ke saya. Rentetan kata-kata yang diakhiri dengan tanda tanya itu terlalu kuno untuk kita bahas. Toh selama saya hiatus, saya masih berkomunikasi dengan teman-teman blogger yang lain menggunakan Facebook dan Twitter. Sesekali saya juga masih menuliskan komentar di beberapa blog yang saya jumpai.
Hmmm, apakah artinya saya mau bilang bahwa Facebook dan Twitter juga adalah bentuk blog yang lain? Aha, Anda tahu juga jawabannya, khan?
Begitulah. Hari ini saya beranikan diri untuk menulis sebuah entri lagi, di blog ini.
5
Nov
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 94 Comments
Sifat ksatria dua senator itu harus kita tiru

Bagi saya pribadi siapapun yang menjadi presiden Amerika Serikat tidak akan berpengaruh banyak. Hanya saja, Obama nampaknya memang mempunyai “hubungan batin” yang lebih dekat dengan kita di Indonesia. Ya, itu tentu saja karena dia pernah sekolah dan tinggal di Menteng ketika dia masih anak-anak. Bagaimana dengan program dan visinya? Terus terang saya tidak mempedulikannya, pun program dan visi McCain.
Continue reading
23
Oct
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 56 Comments
Tapi, ada yang lebih aneh daripada tanaman bisa ngeblog, lhooo
Nenek-nenek ngeblog, itu kita sudah tahu. Anak kecil imut ngeblog pun bukan lagi hal yang aneh. Tapi, bagaimana kalau ada tumbuhan yang bisa ngeblog? Ah, yang bener?
Adalah Midori-san, tumbuhan yang hidup di sebuah pot di Jepang, yang menuliskan update blog secara teratur dengan bantuan sensor yang ditempelkan di dedaunannya. Detektor itu mengambil sinyal elektronik di atas permukaan tumbuhan yang merespon cahaya dan sentuhan manusia. Data itu kemudian dipadukan dengan informasi cuaca dan suhu, lalu diterjemahkan menjadi blog post menggunakan algoritma komputer. Dan, flora itu pun ngeblog-lah. Oh, ternyata begitu ya caranya.
Continue reading
22
Oct
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 45 Comments
Merdeka Mati, Siapa yang Peduli?

Selain di Planet Terasi-nya Ronny Haryanto, blog abal-abal milik saya ini juga disindikasikan di agregator Merdeka. Berbeda dengan Planet Terasi yang memfokuskan pada blog yang kebanyakan membahas seputar teknologi, Merdeka merengkuh blogger yang punya konten ciamik dan desain bagus (kecuali blog saya ini). Asal tahu saja, dulu Merdeka punya semboyan “Bloggers Unite! Where the content kills, design rocks and magic happens.”
Continue reading
21
Oct
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 36 Comments
Canggih, tapi super mirip dengan desain koran ternama

Terus terang saya suka sekali memandang theme WordPress yang bernama The New Yorker ini. Demonya bisa dilihat di sini. Jika Anda adalah pemilik koran yang ingin cepat mengonlinekan konten Anda, theme ini bisa menjadi pilihan. Ya, memang tampilannya mirip sekali dengan situs koran terkenal di Amerika sono. Anda pasti tahu, khan?
Continue reading
16
Oct
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 17 Comments
10
Oct
Posted by JalanSutera.com™ in Blog. 57 Comments
Cukuplah kalau hanya ingin tahu intisarinya

Seperti sudah banyak dituliskan oleh blogger yang lain, Google menambahkan Bahasa Indonesia dalam Google Translate. Dengan demikian Google Translate kini mendukung 35 bahasa. Artinya, kita bisa menerjemahkan 34 bahasa lain menggunakan Google Translate.
Ini memang terjemahan yang dilakukan oleh mesin milik Google. Jadi, jangan harapkan adanya hasil terjemahan yang luwes, enak dibaca dan tidak kacau. Tapi, bagaimanapun juga hasil terjemahan kilat ini sudah cukup memadai jika kita hanya ingin mengerti intisari (gist) dari sebuah naskah dalam bahasa yang tidak kita ketahui artinya. Untuk mendapatkan makna yang sebenarnya, Anda harus mencari orang yang mengerti bahasa sumber dan bahasa hasil terjemahan.
Continue reading
Recent Comments