Jitet Koestana March 24, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.comments closed
Kartunis ini adalah orang Indonesia peraih penghargaan internasional terbanyak. Masuk rekor MURI, bung!
Jika akhir-akhir ini Anda memperhatikan halaman KOMPAS, akan terasa ada sesuatu yang baru yaitu kartun dan ilustrasi yang lebih segar yang dibuat oleh Jitet Koestana. Setahu saya, Jitet memang baru di KOMPAS. Sebelum pindah ke KOMPAS, Mas Jitet adalah ilustrator di Tabloid SENIOR, anak usaha Kelompok KOMPAS Gramedia juga seperti halnya KOMPAS.
Saya suka sekali dengan gaya Mas Jitet ini dalam menggambar. Karakter ciptaannya sungguh bagus. Lihatlah SENORI, tokoh rekaannya yang terbit di Tabloid SENIOR. Si SENORI ini tampil seperti layaknya manusia biasa, natural. Komposisi ukuran bagian tubuh SENORI ini juga sama dengan manusia sesungguhnya. Ini berbeda dengan karakter rekaan kartunis lain yang kadang melebih-lebihkan ukuran tubuh manusia, ada yang kepalanya sangat besar, perutnya super buncit atau mulutnya super panjang. Mas Jitet memang beda. Ini yang membuat ilustrasi Mas Jitet enak dipandang. Belum lagi kalau ilutrasi itu dibuat berwarna. Sapuan warnanya juga mantap.
Memang, Jitet bukan orang baru di dunia kartun Indonesia. Puluhan kali dia menerima penghargaan internasional. Menurut Suara Merdeka, nama lelaki kelahiran 4 Januari 1967 tersebut pada 1998 tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai peraih penghargaan internasional terbanyak, yakni 36 buah. Saat ini angka itu telah bertambah menjadi 46 (atau sudah bertambah lagi, mungkin?). Beberapa penghargaan yang prestisius antara lain Grand Prize Seoul International Cartoon Festival” (1997), ”Cordoba International Cartoon Festival (2000), dan yang terbaru Grand Prize ”Syria International Cartoon Contest” (April 2005).
Ada yang sama antara Mas Jitet dengan kartunis-kartunis lain seperti A Loekis Haryadi (Seputar Semarang), Leak Koestiya (Jawa Pos), Hanung Kuncoro (TabloidBola), Prie GS (Suara Merdeka), Ramli (Bintang Milenia), dan Erianto Sulistyawan? Mereka semua adalah “lulusan” SECAC atau Semarang Cartoonist Club.
Potong Rambut Rp.1700 per Kilo March 23, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.6 comments
Di Yogya kreativitas atau kekeliruan-yang-disengaja bedanya sangat tipis.
Orang yang kurang teliti pasti berpikir bahwa tarif memotong rambut di sini adalah Rp.1700 per kilogram. Mana ada tarif potong rambut kok hitungannya per kilo.
Ternyata yang empunya rumah ini punya dua bisnis: jasa potong rambut dan pencucian pakaian alias laundry (bukan laundrey seperti tertulis di spanduk itu, lho..). Nah, laundry inilah yang tarifnya Rp.1700 per kilo. Khas gaya Yogya, murah meriah: ongkos cuci sekitar 13 potong pakaian dengan biaya lebih murah daripada sebotol Coca Cola.
Foto ini diambil di daerah Selokan Mataram, Puren, Yogyakarta pada dua pekan yang lalu.
1.500 Orang Difoto Bugil March 21, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.49 comments
Jika dilakukan di Monas, Tunick bisa dijerat undang-undang anti pornografi. Ha..ha..ha..ha
Untunglah Venezuela bukan Indonesia dan Caracas bukan pula Jakarta. Di saat kita sedang berdebat tentang Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan (Anti) Pornoaksi, 1500 orang berpose bugil atas nama seni di monumen Simon Bolivar. Fotografer Amerika Serikat Spencer Tunick selama dua jam mengambil foto kumpulan orang-orang tanpa pakaian itu di area terbuka.
Tunick mengorganisir kegiatan ini di daerah Avenida Bolivar di ibukota Caracas. Tempat ini sering digunakan oleh para pendukung presiden negeri itu Hugo Chavez untuk melakukan demonstrasi politik.
Seorang peserta wanita berusia 30 tahun bernama Jerry Lino mengatakan,”Ini pengalaman baru. Di samping melepas semua pakaian, kegiatan ini juga adalah peristiwa seni. Saya tidak merasa telanjang.”
Sebenarnya sekitar 7.800 orang mendaftarkan diri untuk berpose telanjang ramai-ramai di Caracas ini, namun hanya sekitar 1.500 orang saja yang muncul.
Tunick adalah fotografer Amerika kelahiran Middletown, New York pada 1967. Dia meraih gelar Bachelor of Science dari Emerson College pada 1988. Dia memang terkenal sebagai fotografer yang sering merancang kegiatan “bugil bersama” dalam bentuk artistik yang disebut sebagai “seni instalasi”. Seringkali Tunick merancang acaranya di lokasi-lokasi urban.
Tunick memulai debutnya pada 1992 ketika memotret orang-orang telanjang di New York. Foto-fotonya dengan cepat populer dan menyebar ke luar Amerika. Tunick kemudian go-international dan dia mengadakan kegiatan sejenis di berbagai kota seperti Bruges, London, Lyon, Melbourne, Montreal, São Paulo, Newcastle/Gateshead dan Wina.
Kegiatan telanjang bulat seperti ini bukannya tanpa halangan. Tunick pernah ditahan pada 1994 bersama seorang model yang berpose telanjang di gedung Rockefeller Center di Manhattan.
Pada Juni 2003 Tunick berhasil mengumpulkan 7000 orang telanjang bulat di Barcelona. Inilah jumlah manusia terbanyak yang telanjang bulat beramai-ramai yang berhasil difoto oleh Tunick.
Untung di Caracas nggak ada Undang-undang Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi, ya… :P
Pranala Luar:
- spencertunick.com, Situs resmi Spencer Tunick
- I-20 Gallery of Spencer Tunick Images, galeri foto pilihan karya Tunick
Thunderbird RSS Feed Reader for Super Dummies! March 17, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.1 comment so far
Jika Anda geek, jangan klik. Hanya untuk super dummies
Seperti yang dituliskan oleh Budi Putera, kita bisa memanfaatkan aplikasi Mozilla Thunderbird sebagai feed reader alias pembaca pengumpan weblog. Membaca RSS Feed lewat aplikasi ini akan mengefisienkan waktu kita dalam melakukan blog walking karena jika sebuah weblog atau website melakukan perubahan konten, maka mereka akan mengirimkan feed itu kepada kita.
Nah, bagaimana cara melakukan setup agar sebuah feed bisa kita baca di Thunderbird? Baca langkah demi langkah di bawah ini. Maaf, hanya untuk yang super dummies saja. Yang geek harap maklum.
Anak Badung March 17, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.6 comments
Anak badung cari jati diri.
Foto ini saya ambil ketika liburan ke daerah lereng Gunung Slamet di Kabupaten Purbalingga pada akhir tahun lalu. Lokasinya di jalan dari arah Goa Lawa ke Kecamatan Bobotsari, lebih dari 20 kilomter di utara kota Kabupaten Purbalingga. Waktunya siang hari yang cukup terik, untunglah hawa di daerah ini sangat sejuk. Jalanan sangat halus, lalu lintas juga sepi, tidak ramai seperti di Jakarta.
Sebenarnya angkutan di daerah ini tidak sedikit jumlahnya. Untuk sekadar mengangkut anak-anak SMP itu, puluhan mobil lalu lalang tiap jamnya. Lagi pula, jarak yang ditempuh anak-anak ini pun tidak begitu jauh. Paling-paling hanya dua sampai tiga kilometer saja. Hanya butuh waktu maksimal 15 menit saja anak-anak itu naik angkutan umum. Ya, tapi mengapa mereka naik ke atap?
Ternyata di atas atap itu mereka berteriak-teriak ke teman-temannya yang masih ada di halaman sekolah atau di pinggir jalan. Entah apa yang diteriakkan, nggak jelas. Ada yang berdiri ketika kendaraan belum melaju. Ada juga yang uncang-uncang kaki dengan santai. ABG-ABG ini tampaknya bangga sekali bisa menantang bahaya dengan nangkring di atap angkudes alias angkutan pedesaan. Sesekali mereka juga terlihat dorong-dorongan dengan teman-temannya di atap mobil mini itu, tak menghiraukan bahaya. Dulu, ketika masih remaja, ada yang seperti mereka juga, khan?
Itulah remaja di sebuah kota kecil. Kenakalan mereka tidak berbeda dengan kenakalan teman-temannya di Jakarta. Hanya kadarnya saja yang berbeda.
Endonesah atau English? March 17, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.5 comments
Endonesah atau English? Ini blog saya, kok.
Pagi-pagi ini ada yang kirim pesan secara khusus ke email korporat saya. Dia menanyakan mengapa weblog ini sekarang berubah menggunakan bahasa Indonesia, bukan Inggris seperti sebelumnya. Email itu belum saya jawab. Saya yakin sang pengirim email itu nantinya juga akan membaca weblog ini kembali.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan perubahan ini. Baik bahasa Inggris yang digunakan dulu ataupun bahasa Indonesia yang digunakan sekarang adalah sama-sama piranti penyampai pesan. Tidak lebih dan tidak kurang.
Dulu, sebenarnya saya iseng-iseng ingin mencoba keampuhan Google Adsense untuk menangguk rejeki. Dan saya sudah membuktikannya bahwa memang baris-baris iklan dari Google itu bisa memberikan rupiah, eh maaf, dollar. Untuk melaksanakan eksperimen sederhana itu, saya mencoba mengirimkan lema dalam bahasa Inggris, bahasa yang dipilih oleh banyak pemasang iklan untuk mendapatkan kata kunci atawa keywords. Itu saja alasannya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Lalu, mengapa sekarang saya beralih menggunakan bahasa Indonesia? Eksperimen itu sudah selesai sekarang, tidak perlu lagi diperpanjang di weblog ini. Saya alihkan ke tempat lain saja. Jalansutera.com yang sedang Anda baca sekarang tidak akan pernah lagi memasang iklan milik pihak ketiga. Tempat ini sekarang adalah arena bersenang-senang.
Kalau ada pertanyaan berapa yang saya dapat dari Adsense, maka saya akan menjawab: “Rahasia perusahaan, bos!”
Bakso Bethesda March 16, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.22 comments
Makanan uenak ternyata bisa ada juga di tempat orang sakit.
Minggu kemarin aku sempat ke Yogyakarta setelah sekitar dua tahun tidak menyambangi kota itu. Sebelum urusan utama diselesaikan, justru aku pengin mencoba lagi makan bakso di kantin Rumah Sakit Bethesda. Dulu, jaman masih kuliah, kantin rumah sakit yang berada di Jalan Jend. Sudirman ini berada di areal perparkiran. Sekarang keadaan berubah. Ruang yang dulu (sekitar tujuh atau delapan tahun lalu) ditempati pedagang bakso sekarang sudah menjadi ruang khusus untuk pasien stroke. Tukang parkir yang mangkal di situ pun tidak tahu bahwa di tempat itu dulu pernah bediri kantin yang ramai.
Ternyata sekarang kantin rumah sakit yang didirikan pada 20 Mei 1899 itu berpindah ke arah dalam. Kompleks kantin ini sekarang membentuk huruf U. Tukang baksonya sendiri ada di ujung gang buntu ini.
Aku pesan bakso daging seperti dulu aku sering memesannya. Tidak ada yang berubah dari cara mereka menyajikan. Sendok yang dipakai pun masih sama, sendok bebek yang bertangkai pendek dan berdaun lebar. Garpunya pun masih sama, bentuknya kecil dengan dua ujung tajam.
Bakso tanpa mie dan tahu itu pun akhirnya bisa aku santap. Puas rasanya bisa menikmati makanan yang berada di rumah sakit yang dulunya bernama RS TOELOENG/PITULUNGAN ini. Bagi saya yang suka menerapkan prinsip “save the best for last“, daging yang dihidangkan paling cocok dimakan dengan dicampur kecap dan sambal setelah semua kuah dihabiskan. Nyam-nyam-nyam.
Bagi Anda yang belum berkesempatan mencicipi bakso Bethesda ini, silakan nikmati dulu gambar dalam ukuran yang lebih besar, JPG 498kb. Dijamin, air liur akan diproduksi lebih kencang.
WordPress 2.0.2 March 10, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.1 comment so far
An important security issue has been brought to the attention of the WordPress team and they have worked diligently to bring us a new stable release that addresses it. The latest version WordPress 2.0.2 contains several bugfixes and security fixes. Update now!


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.