jump to navigation

1000 Spam April 21, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
10 comments

Spam harus ditangkal, komentar perlu dimoderasi

Hari ini, bersamaan dengan perayaan Hari Kartini, spam yang sudah menyasar blog ini berjumlah lebih dari 1000 buah. Tepatnya adalah 1008 buah padahal kemarin masih di kisaran angka 950 buah spam saja. Ini jika dihitung sejak pertama kali Akismet diinstal.

Awalnya, ketika dulu akan menginstal plugin ini ragu-ragu juga. Apa benar ada orang yang dengan bodohnya mau memanfaatkan blog yang tidak terkenal untuk menautkan link mereka lewat fasilitas komentar?

Saya mempunyai pandangan yang berbeda dengan Mas Budi Putera mengenai fitur moderasi untuk memantau komentar yang masuk. Beliau berpandangan bahwa semua komentar di blog harus saat itu juga ditampilkan untuk menegaskan sifat interaktif dan real timenya.

Saya berpandangan sebaliknya. Komentar perlu dimoderasi supaya spam tidak bisa nyelonong seenaknya. Tapi ini tidak untuk semua komentar, kok. Hanya komentar pertama dari masing-masing orang saja yang dimoderasi. Komentar kedua dan seterusnya dengan sendirinya “sudah dikenal” jika orang tersebut memasukkan nama dan alamat email yang sama dengan komentar pertamanya. Dengan demikian komentar-komentar selanjutnya tidak perlu moderasi lagi. Saya sendiri tidak pernah menghapus komentar orang lain betapapun berbedanya pandangan sang komentator itu terhadap entri yang saya tulis. Saya menganggap semua komentar menjadi bagian yang utuh dari sebuah blog.

Namun, tentu saja hal itu tidak berlaku bagi spam yang tiap hari menyerbu. Untuk yang satu ini saya mempercayakan kepada Akismet untuk menyelianya. Akismet adalah plugin buatan Matt Mullenweg untuk memfilter pesan-pesan yang masuk lewat fasilitas komentar blog ini. Akismet jarang sekali salah dalam menentukan apakah sebuah pesan itu benar-benar spam atau bukan. Yang perlu saya lakukan hanya mengeceknya pada sore hari untuk melihat berapa jumlah pesan yang dianggap spam oleh plugin ini. Akismet hanya menampilkan satu spam jika ternyata spam yang sama itu datang bertubi-tubi dengan isi informasi pengirim dan pesan yang sama. Dan kita masih bisa “mengoreksi” jika ternyata sebuah komentar yang valid dianggap spam oleh Akismet. Hanya dengan satu kali klik per hari semua spam itu sudah hancur. Seandainya kita yakin 100% dengan Akismet, spam yang ditangkap oleh 15 hari yang lalu akan dengan sendirinya dienyahkan dari server. Hebat, bukan?

Tapi, sehebat-hebatnya Akismet, masih ada juga spam yang lolos ke fasilitas komentar. Untunglah baru masuk dalam antrian moderasi sehingga dengan mudah ditandai sebagai “spam” dan serahkan ke Akismet lagi. Begitu seterusnya. Come on, spam me!

Kunci April 18, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
3 comments

Hilang satu hilang semua. Daripada mikir satu-satu, khan?

Teman saya, seorang yang bisa dibilang panjang ingatannya, bilang bahwa saya adalah orang yang aneh. Apa pasal? Sebabnya adalah karena saya kemana-mana membawa serenteng anak kunci dengan hanya satu gantungan saja.

Dia bilang,”Kenapa sih masing-masing kunci itu tidak diberi gantungannya satu-satu? Kamu khan punya banyak gantungan kunci yang nggak terpakai…”

Tentu saja saya hanya menjawab enteng sambil nyengir. Saya bilang bahwa saya orangnya pelupa. Dan sifat pelupa ini sungguh merepotkan kalo sedang menggejala. Pernah suatu saat kunci laci kerja tertinggal saat saya sudah separuh jalan ke tempat kerja. Pernah pula kunci rumah tertinggal di laci kerja saat saya sudah hampir sampai di depan rumah. Benar-benar bikin repot saja sifat mudah lupa ini.

Makanya, sekarang hanya perlu mengingat satu saja: bawa kunci semuanya dengan satu gantungan! Kunci apa saja gerangan?

Kunci berujung seperti ulir itu adalah kunci stir kereta beroda empat, kunci berujung bundar adalah kunci pintu kereta, kunci paling panjang tentu saja adalah kunci pembuka gerobak, kunci kurus pendek adalah kunci kamar pribadi, kunci ceking kotak adalah kunci pintu gerbang, anak kunci gemuk panjang adalah kunci pintu rumah, dua anak kunci berwarna hitam adalah kunci laci kerja. Masih ada lagi satu kunci mungil yang jadi pembuka ban cadangan! Total ada sembilan buah kunci dengan satu gantungan. Nah, gantungan itu sendiri berisi SIM, STNK dan kartu karyawan.

Dengan cara menyatukan semuanya saya jadi tidak akan lupa untuk membawanya kemanapun pergi. Eitttttt, nanti dulu. Pernah juga tiga atau empat kali semua kunci itu tertinggal di dalam mobil dan pintunya terkunci dari luar tanpa sengaja. Alamak!

Kodok Gendut April 18, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
8 comments

Kodok tambun lebih rakus daripada kodok kurus.

Kalau paman yang satu itu punya kodok yang bisa ngerock, saya punya kodok yang perutnya gendut. Kodok yang terbuat dari keramik ini sungguh rakus. Kodok yang pendiam ini tidak bisa ngerock, tapi rakus. Lihat saja matanya yang besar dan melotot itu. Nggak heran kalo ada anak kecil yang takut memegang kodok ini. Mulutnya juga super lebar, hampir selebar kepalanya. Dari atas dia tampaknya cemberut, padahal kalo dilihat dari depan dia manis, lho. Selalu senyum, tapi.. rakus!

Mengapa rakus? Mungkin ini salah saya mengapa memilih kodok yang perutnya besar sehingga uang berapapun akan ditelannya tanpa bekas. Benar-benar greedy kodok ini.

Awalnya adalah sebuah ide untuk mempunyai celengan tempat uang-uang recehan dimasukkan. Entah mengapa kami akhirnya memilih bentuk kodok yang tingginya sekitar 30 centimeter ini. Sejak sekitar dua tahun lalu kami masih rajin mengisi recehan lewat mulut kodok yang sedang tersenyum ini. Mulut ini oke-oke saja menelan uang lima ratusan logam.

Dulu, waktu pertama kali dibawa masuk ke rumah, sang kodok menolak menerima uang cepekan yang memang lebih tebal. Saya paksa si kodok ini untuk menelannya. Caranya? Gampang saja, mulutnya saya gergaji sedikit agar lebih lebar. Hehehehe, uang cepekan pun sekarang dengan mudah ditelannya. Mampus, loe!

Dua tahun telah lewat, perut tambun si kodok belum sampai setengahnya berisi. Jangankan setengahnya, seperempatnya juga keliatannya belum sampai, kok. Tapi, kami masih setia mengisinya dengan recehan kembalian uang tol. Kapan akan penuh? Nggak tahu dan nggak perlu dipikir.

Keledai April 6, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
6 comments

Ibu rumah tangga kok disamakan dengan keledai. Kurang ajar! Cuma di India.

“Keledai dungu tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya” demikian sebuah kata yang sering kita dengar ketika sekolah dulu.

Memang, keledai selama ini terkenal sebagai binatang yang bego, dungu, tolol bin bodoh dan pandir. Namun, tidak demikian halnya pemahaman banyak orang di negara bagian Rajashtan, India. Di dalam buku pelajaran sekolah orang-orang ini menganggap keledai sebagai binatang yang lebih setia dibanding ibu rumah tangga. Tidak hanya itu saja, keledai juga bisa dijadikan tempat curhat dan tidak banyak mengeluh. Wah, kualat mereka!

Koran Times of India mengutip buku pelajaran berbahasa Hindi yang menulis begini:”Keledai itu seperti ibu rumah tangga, bahkan lebih baik. Ibu rumah tangga sering mengeluh dan lari ke rumah orang tuanya. Kamu tidak pernah menjumpai itu pada keledai yang setia pada tuannya.”

Wah, bener-bener kualat itu orang India itu! Pantas saja kalau ibu rumah tangga di sana protes habis-habisan.