Gonta-ganti Nomor itu

Kartu milik konsumen atau negara? Yang pasti kita jadi raja.

mobile phone

Pertama kali mempunyai nomor hp ketika Satelindo dulu meluncurkan Mentari. Dulu harganya mahal sekali. Kalau tidak salah harganya hampir setengah juta rupiah. Padahal pulsanya hanya bernilai cepek saja. Setelah itu saya sempat beralih ke Simpatinya Telkomsel untuk beberapa saat. Nomor prabayar ini pun pernah punya lebih dari satu. Ada yang hilang, ada pula yang dihanguskan saja.

Sekarang saya menggunakan pasca bayarnya Telkomsel. Hitung-hitung, saya pernah menggunakan tiga jenis nomor, yaitu Mentarinya Indosat, Simpatinya Telkomsel, dan Halonya Telkomsel. Cuma XL yang belum pernah saya pakai.

Dulu, ketika bergonta-ganti nomor telepon, terasa sekali kerepotannya. Teman, klien dan saudara-saudara harus diberitahu bahwa saya berganti nomor. Wah, perlu puluhan SMS untuk mengirim announcement itu. Repot deh…

Tapi, seperti ditulis oleh KoranTempo, sebentar lagi industri telekomunikasi akan menerapkan mobile number portability. Artinya, nomor telepon seluler yang sudah dibeli konsumen akan menjadi miliknya selamanya kendati telah berpindah operator layanan seluler. Apa tujuan penerapan prinsip ini? Tujuannya agar operator semakin meningkatkan kualitas layanan mereka. Tentu saja yang diuntungkan adalah konsumen.

Koran Tempo menyebut nomor telepon seluler itu akan menjadi milik konsumen selamanya. Sementara itu Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar menyebut nomor itu akan menjadi milik negara. Mana yang benar? Saya tidak tahu.

Meskipun sekarang saya tidak berencana pindah operator selular, saya pikir Mobile Number Portability itu bagus, kok.

Berapa kali Anda ganti nomor telepon seluler? Berapa provider yang pernah Anda pakai?

Foto: Corbis.com

16 Responses to this post.

  1. jawab pertanyaan aja deh :)
    hanya 1 kali ganti operator dan beberapa kali nambah.
    Akhirnya fix dengan 1 operator gsm dan 1 operator cdma.

    Nanggapin tulisan ini
    Entah mo nomor bisa pindah operator, yang penting sinyal kuat, bisa terima/kirim sms dan yang paling penting hapenya ada battere yang terisi penuh dan pulsa yang unlimited (loh makin gak nyambung :) )

    Reply

  2. [...] Dalam blog Pujiono saya sempat katakan, bahwa Number Portability ini bisa jadi sebagai goal terakhir dari bisnis telekomunikasi di Indonesia, tapi saya juga sempat singgung bahwa ada sebelum hal itu terealisasi akan ada sharing infrastruktur. Simpel-nya begini: [...]

    Reply

  3. Posted by krisna on September 28, 2006 at 09:57

    kalo Hpnya yang ganti…. nomernya tetep ga ya…?
    hwaduhh…. ga ngerti nih….soalnya aku pake HP yang ga pake kartu… jadi bingung….. tuluuung……

    Reply

  4. itu baru sekedar ide kan? kalo diterapkan tambah susah mbedain mana mentari,simpati, XL atau yang lain.

    Reply

  5. Posted by ndah on September 25, 2006 at 11:34

    pertamax: mentari sbg #pribadi, trus ganti nomer ke mentari lagi krn bos2 kantor pada tau semua (melototin bocah item, guedhe, idup pula yg mbocorin)==> ampe skrang
    kedua : simpati, #&hp dikasih kantor. begitu cabut hp gw kasih OB-nya n #gw buang (ketauan pergi dgn esmosi)

    Reply

  6. Wah, kalau aku sih cuma pernah punya dua nomor mentari, terus ganti ke simpati dan migrasi ke Halo

    Reply

  7. Pertama saya pakai Indosat, kemudian Telkomsel dan terakhir XL

    Reply

  8. punya hengpon waktu dipinjemin orang tua, tapi malah ga dipake. secara aku ga bisa gaya sepenuh hati pake punya orang tua.

    trus beli sendiri, 160 rebu nomor simpati. tapi raib ditelen ama maling

    beli im3, raib karena ada masalah ama pacar.

    abis ntu ganti2 terus deh.

    dan sekarang pake xplor dari tahun 2004 akhir. kayaknya sih bakal ganti setelah aku pergi nanti…. ;)

    Reply

  9. Rendy: Banyak banget kartunya, kartu banyak menandakan handphone nya banyak… bagi sayu boss! ;)

    Reply

  10. IMHO, mobile number portability ini adalah goal terakhir dari bisnis telekomunikasi kayaknya. Sebelum itu terjadi kemungkinan akan ada banyak hal-hal disekitar kita yang akan terjadi. Mungkin sharing infrastruktur seperti tower juga akan terjadi. Ah, ntar aja kalo ada waktu saya tulis di blog saya :)

    Reply

  11. 1. Mentari (limpahan dari ortu waktu jamannya Nokia 5210 baru keluar)
    2. IM3 (pas baru launch. puas banget! sayang ‘harus’ hangus karena pilih Matrix)
    3. XL (hangus, dongkol; mahal bener biaya pakainya)
    4. Matrix (ngiler karena GPRS unlimited, sekarang buat nelpon+SMS doang)
    So far so good dengan yang terakhir…

    Reply

  12. 1.simpati, beli 600ribu, pulsa 500 ribu, punya fitur roaming makanya ganti, beli 1999 ganti 2002
    2.indosat m3, beli 75 ribu (2002), sampai sekarang masih dipake
    3.flexi beli 150 ribu pulsa 300 ribu, 2004 sampai sekarang
    4.esia beli 50 ribu pulsa 50 ribu, 2005 sampai sekarang
    5.FREN beli lupa, pulsa lupa, 2004 akhir sampai sekarang
    5.XL Bebas, beli 10 ribu pulsa 22 ribu, 2006 sampai sekarang

    rencana mau tambah halo..

    Reply

  13. Lah, nomornya ini nomor cantik–, paling tidak menurut saya. Lalu saya harus beli nomor lagi?

    –budiw

    Reply

  14. 1. mentari pulsa 100rb, beli 300rb
    2. matrix, cabut setelah bermasalah dengan billing
    3. halo sampai sekarang
    mudah2an no sekarang ndak berubah jika MNP diterapin.

    Reply

  15. oh, maksudnya nomor itu dijual pemerintah, bukan operator, ya? kalau begitu, jika sudah tidak kita pakai lagi, jual saja ke pemerintah, ya? kekekekkekkkkk… ;)

    Thanks Mas…

    Reply

  16. Tak terlalu penting milik siapa, konsumen atau negara: benar — konsumen jadi raja.

    Lha, kalau udah gak dipake, trus dikembaliin ke negara, sama juga boong kan?

    Cuma, kayaknya yang dimaksud berita Detikcom itu adalah nomor perdana portable ini nantinya akan dijual oleh pemerintah, jadi bukan oleh operator. Dan memang begitu aturan soal number portability itu.

    Reply

Respond to this post