jump to navigation

Iklan Indomie itu September 8, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
17 comments

Kok Indofod belum memberi jawaban, ya?

Seingat saya, sudah ada dua orang yang protes materi iklan Indomie Goreng Kriuk (maaf, tanpa gambar dan tanpa link) yang dibintangi oleh Ruth Sahanaya, Kris Dayanti dan Titie DJ. Iklan itu menggambarnya terjadinya gempa sesaat setelah ada orang yang mengkriuk makanan ini. Gedung-gedung bergejolak, orang-orang terhenyak. Ya, begitulah cara Indofood mempromosikan produknya. Iklan ini masih tayang di televisi akhir-akhir ini.

Orang yang pertama protes adalah Thomas dari OrangeScale. Orang Yogya ini rupanya masih trauma dengan gempa yang dirasakannya sendiri beberapa waktu yang lalu. Thomas menyebut iklan ini sebagai iklan yang kejam dan bodoh.

Sementara itu, di harian KOMPAS nada yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh Haryono Widodo, juga orang yang berasal dari Yogyakarta. Pak Haryono berharap agar produsen makanan instan ini berempati terhadap penderitaan korban gempa di bumi Indonesia. Selain itu diharapkan tidak memanfaatkan musibah yang terjadi sebagai kesempatan merebut hati konsumen. Sama seperti Thomas, Pak Harjono juga menyebut iklan ini sebagai tidak etis.

Dua orang sudah protes, tentu ada yang tidak benar dengan materi iklan itu.

Sayang sekali sampai saat ini tidak ada tanggapan apapun dari Indofood. Di weblog Thomas tidak ada komentar dari raja mie terbesar di dunia itu. Di harian KOMPAS pun belum ada jawaban atas surat pembaca itu.

Lurker itu September 7, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
14 comments

Saya memang seorang “lurker”. Nggak ada salahnya, khan?

Seorang teman di kantor menyebut saya sebagai “lurker”. Saya tidak tahu istilah itu sampai ketika kemarin saya mengirimkan sebuah email ke milis resmi di kantor. Ini mungkin email pertama saya dalam tiga bulan terakhir. Saya memang kurang suka berdiskusi lewat milis. Nah, itulah sebabnya saya disebut sebagai lurker, menjadi anggota sebuah milis, jarang mengirimkan pesan, namun semua pesan yang ada di milis itu saya baca dengan seksama.

Ngomong-ngomong, kenapa saya menjadi seorang “lurker”? Saya sendiri tidak tahu mengapa. Kalau milis di kantor memang saya kurang begitu bergairah membacanya. Aturannya agak kurang jelas. Kadang email yang dikirim dalam forum ini begitu seriusnya, tapi kadang juga begitu amburadulnya. Batas antara yang serius dan yang tidak serius sangat jauh namun bercampur menjadi satu. Bayangkanlah milis yang seperti itu. Lebih baik menjadi seorang “lurker” saja, khan?

Ada alasan lain? Ehm, mungkin juga karena etika dalam milis yang tidak ditaati. Misalnya ada pemberitahuan di milis tentang adanya orang yang keluar dari tempat kerja. Anehnya, beberapa saat kemudian ada berbagai ungkapan menjawab email itu memberi ucapan selamat jalan, selamat menempati tempat baru, selamat bertemu lagi dan seabreg ungkapan yang aneh-aneh. Ya, saya pikir ini aneh. Wong teman kita itu sudah pindah, kok. Tidak mungkin dia membaca email itu di milis, bukan? Nah, lebih enak jadi “lurker” daripada menjadi anggota aktif jika milisnya seperti ini, khan?

Ya, begitulah. Saya memang seorang “lurker”. Nggak ada salahnya, khan? Apakah Anda juga seorang “lurker”?

SMS Penyedot Pulsa itu September 6, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
115 comments

Berlanggananlah sms premium dengan bijaksana

Saya tidak terbiasa membaca koran Pos Kota. Namun, sambil berangkat kerja tadi saya membaca selintas headline koran itu: Awas, Perampok Pulsa. Sebelum saya membaca versi online media ini, saya menduga pasti ini ada hubungannya dengan kuis-kuis sms dan konten sms yang dikirimkan oleh para content provider. Benar juga dugaan saya.

Bambang, warga Tanah Pasir, Penjaringan, Jakarta Utara, mengaku bahwa pulsanya berkurang karena dia menerima sms dari 3689. Setiap sms yang diterima dari short code itu akan menyedot Rp2000.

Rinto, warga Kampung Kamurang, Kebon Nanas, Tangerang juga kurang lebih mengalami hal yang sama. Dia mengikuti program Quit Smoking yang ditayangkan JakTV untuk minta ringtone ke nomor 7898. Namun pada hari berikutnya, ia mengaku mendapat SMS dari nomor yang sama dan pulsanya tersedot.

Kedua orang itu komplain ke pihak operator. Tapi, nyatanya sms itu tidak berhenti dikirimkan dan pulsa terus tersedot.

Saya menyimpulkan bahwa masyarakat belum mengetahui bahwa sms-sms seperti itu bukan dikirimkan oleh operator. Tapi, operator bekerja sama dengan content provider untuk menyediakan aneka kuis, tips, cerita, joke dan lain sebagainya. Inilah yang disebut sebagai sms premium sehingga harganya pun jauh lebih tinggi daripada sms normal yang sekitar Rp350 itu. Dengan demikian pihak operator seperti Indosat, Telkomsel, Telkom, XL dan lain-lain seringkali bukanlah penyelenggara sms premium itu.

Nah, untuk setiap sms yang dikirimkan oleh content provider itu ke pengguna handphone, maka pulsa akan berkurang. Dengan demikian, pulsa ini menjadi “mata uang” untuk membeli kuis, tips, cerita, joke yang diterima pengguna. Biasanya, untuk mendapatkan content itu pengguna harus melakukan registrasi atau pendaftaran. Tentu saja registrasi ini juga dilakukan via sms.

Di titik ini oknum content provider juga ada yang melakukan kecurangan seperti yang dialami oleh Rinto itu. Dia tidak merasa berlangganan, tapi sms premium tetap mengalir dan pulsanya terus tersedot.

Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana cara menghentikan mengalirnya sms itu?

Nah, di sinilah tampak tidak ada keseragaman pada masing-masing content provider. Ada yang caranya dengan mereply sms itu dengan mengetikkan “UNSUB” (maksudnya adalah unsubcribe atau tidak lagi berlangganan). Ada pula yang mengharuskan pengguna mereply sms itu dengan mengetikkan “UNREG” (atau unregistered atau tidak terdaftar lagi sebagai pelanggan). Bahkan ada juga yang cukup membalas sms dengan kata “STOP” atau berhenti berlangganan. Ketidaksergaman ini tentu saja membingungkan konsumen. Atau, jangan-jangan content provider memang sengaja membuat konsumen bingung sehingga mereka kesulitan untuk melakukan unsubscribing? Saya tidak tahu dan tidak menuduh hal ini.

Saya mengusulkan agar ada keseragaman dalam cara menghentikan langganan sms premium. Cara yang mudah adalah dengan mereply sms itu dengan kata STOP. Kata ini sudah jamak digunakan oleh seluruh masyarakat. Ketidakseragaman cara penhentian langganan hanya akan membingungkan masyarakat saja.

Jadi, bagaimana tips berlangganan sms premium dengan cara bijak?

  • Pertama-tama, jangan mudah tergiur oleh iklan-iklan yang mengajak untuk berlangganan sms premium. Ingat, sms jenis ini harganya berlipat-lipat dibanding harga sms normal.
  • Pelajari dulu jenis content sms yang akan ada langgan. Apakah Anda benar-benar membutuhkan sms itu?
  • Pelajari juga harga tiap sms dan frekwensi pengirimannya per hari. Ini berhubungan dengan jumlah pulsa Anda yang tersedot atau jumlah uang yang harus Anda bayar jika Anda pengguna layanan pascabayar.
  • Pelajari cara melakukan unsubscribing atau tidak berlangganan. Biasanya iklan-iklan sms premium mencantumkan cara melakukan unsubscribing dan juga nomor telepon content provider. Jika brosur dan iklan tidak menjelaskan caranya, teleponlah content provider premium sms itu. Jika iklan itu tidak mencantumkan cara unsubscribing dan tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, lupakan content provider itu. Ke laut saja, deh…
  • Hentikan berlangganan sms premium segera setelah Anda merasa tidak membutuhkan content yang mereka kirimkan.

Ada yang mau nambahin?

Bermain Api itu September 5, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
6 comments

Bemain air, basah. Bermain api, terbakar

Seorang teman tidak kaget sama sekali ketika mengetahui Steve Irwin meninggal karena disengat ikan pari saat membuat film dokumenter di Australia kemarin. Dengan tenang dia mengatakan bahwa aksi-aksi yang selama ini dipertontonkan oleh Irwin di televisi adalah tingkah yang berbahaya.

“Bayangkan saja,” kata teman saya itu bercerita,”Irwin dengan tenang berani bercanda dengan buaya yang selama ini dikenal sebagai binatang buas. Bahkan Irwin berani menggoda buaya dengan memegang ekornya. Saya ngeri melihat aksinya di televisi itu.”

Teman saya itu tidak berhenti bercerita,”Kadang saya bingung ketika anak saya menonton acara Crocodile Hunter. Di satu sisi saya ingin si kecil lebih mengenal dunia hewan dan alam luas. Lebih bagus acara dunia hewan daripada sinetron, khan? Namun di sisi yang lain saya ngeri seandainya anak saya itu mencoba bertingkah seperti Irwin. Bayangkan saja, ular berbisa dipegang ekornya dengan santai. Anak-anak belum tahu bahwa untuk melakukan itu diperlukan keahlian khusus.”

Teman saya bahkan mengingatkan bahwa Irwin pernah menggendong bayinya yang baru berumur beberpa bulan sambil memberi pakan kepada buaya. Ini benar-benar gila. Apa jadinya jika Irwin, misalnya, terpeleset dan bayinya terlempar ke moncong buaya.

Sekarang Irwin sudah tidak ada. Dia meninggal disengat ikan pari.

Teman saya kembali berkomentar singkat,”Bemain air, basah. Bermain api, terbakar. Ya, begitulah hukum alam. Karena Irwin selama ini suka menyerempet bahaya dengan bermain-main dengan binatang, maka tidak heran dia tewas karena binatang juga.”

Bagaimanapun Irwin telah menorehkan sejarah sebagai seorang yang sangat mencintai alam, khususnya dunia hewan buas. Namanya tidak akan mudah dilupakan orang.

Selamat jalan, Irwin.

Crocodile Hunter itu September 4, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
20 comments

Crocodile Hunter itu telah tewas

Saya suka sekali nonton acara televisi berbentuk documentary seperti penjelajahan alam dan dunia satwa. Favorit saya adalah Steve Irwin, seorang pria asal Australia yang memiliki Australia Zoo di Berwah, Queensland, Australia. Acaranya yang berjudul “Crocodile Hunter” saya pikir jauuuh lebih bagus daripada sinetron-sinetron yang bertema buaya darat. Aksi Irwin yang seringkali mendekati bahaya enak sekali ditonton di malam hari. Banyak sekali pengetahuan yang kita dapat dari tontonan ini.

Sayang, Steve Irwin sekarang sudah meninggal dunia. Dia mengalami kecelakaan di sebuah tempat di Cairns. Menurut situs Courier Mail, Irwin terbunuh karena dadanya tertusuk ekor ikan. Ketika itu dia sedang berenang di kepulauan Low Isles di Port Douglas untuk membuat film bawah air. Irwin terbunuh sekitar pukul 11 siang hari ini waktu setempat hari ini.

Tidak ada lagi Crocodile Hunter yang perkasa dan bernyali tinggi. Selamat jalan Steve Irwin…

Nasib Tyson itu August 31, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
18 comments

Benarkah tinju adalah olahraga manusia beradab?

Membaca artikel di Sports Illustrated tentang nasib Mike Tyson saya jadi semakin yakin bahwa tinju bukanlah olahraga manusia yang beradab. Dulu, ketika dia masih muda, Trevor Berbick dibuat terjengkang dan harus menyerahkan sabuk juara dunia kelas beratnya. Juara dunia kelas berat termuda pun akhirnya disematkan kepada anak badung asal Brooklyn itu. Bukan hanya Berbick saja yang dibuat lunglai di atas ring. James ‘Bonecrusher’ Smith pun dibuat terbirit-birit menghindari jotosan anak muda berumur 20 tahunan itu. Si Penghancur Tulang itu tampak seperti bukan seorang petinju selama pertandingan karena berputar-putar terus untuk menghindari jotosan Tyson.

Berturut-turut petinju besar seperti Pinklon Thomas, Toby Tucker, Tyrell Biggs, Larry Holmes, Tony Tubbs, Michael Spinks, Frank Bruno, Carl Williams dibantai habis oleh Tyson.

Tyson baru kena batunya ketika menghadapi James Douglas di Jepang. Dia terjengkang KO di ronde ke 10.

Pelan namun pasti Tyson kembali. Henry Tillman, Alex Stewart, Donnovan Ruddock, Peter McNeely, Bister Mathis Jr., Frank Bruno, dan Bruce Sheldon, pun kembali dibabat.

Sayangnya, pada partai revans melawan Holifield, Tyson bertindak bodoh. Kuping lawannya digigit hingga putus. Dia didiskualifikasi. Pada pertandingan ulangannya pun Tyson kalah lagi. Mulailah masa jayanya memudar. Tapi, dia masih mempunyai kekuatan untuk membantai Francois Botha, Orlin Norris, Julius Francis, dan Lou Savarese. Kembali Tyson bertindak bodoh ketika menghadapi Andrew Golota. Meski Golota takluk di ronde pertama namun ternyata Tyson terbukti menggunakan marijuana. Goblok banget, khan?

Masa suram benar-benar berada di depan mata Tyson. Dia hanya menang melawan Brian Nielsen dan Clifford Etienne, petinju kelas teri yang tidak terkenal. Saat yang dihadapi adalah Lennox Lewis dan Danny Williams, Tyson tidak berdaya. Dia kalah KO. Bahkan ketika melawan Kevin McBride pun dia seperti sansak saja, dipukul tak berdaya pada ronde ke enam. Benar-benar akhir yang tragis.

Awalnya Tyson adalah monster yang ditakuti semua lawannya. Dia bisa mencetak $35 juta sekali naik ring. Pundi-pundinya terisi $300 juta. Mobil mewah, mansion super lux pernah dimilikinya. Tapi itu dulu. Dulu ketika dia menjadi monster.

Sekarang, seperti ditulis oleh SI, Tyson hanyalah sebuah pajangan di hotel Alladin di Las Vegas. Dia dipajang sebagai tontonan. Memang tanpaknya dia sedang berlatih. Tapi, berlatih apa? Nggak jelas. Banyak orang yang memperhatikannya, namun lebih banyak lagi yang cuek dengan aksinya itu. Ya, inilah kerjaannya sekarang untuk menutup utangnya yang jutaan dollar.

“Hidup,” katanya,”telah banyak berubah.” Kasihan sekali.

Saya jadi ingat dengan Ellyas Pical, petinju kita yang juga hidupnya tidak enak setelah tenaganya habis. Belakangan dia malah tersangkut kasus narkoba, khan? Juga Muhammad Ali yang terkena penyakit parkinsons itu. Ah, kenapa masih ada juga tinju, sih? Benarkah tinju adalah olahraga?

Upah minimum itu August 31, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
19 comments

Kerja satu jam di Amrik sama dengan kerja seharian di Indon.

Bulan kemarin saya meminta beberapa orang tukang untuk merenovasi rumah. Bayarannya satu hari adalah Rp50.000. Jumlah itu adalah nilai bersih yang mereka terima karena saya masih menyediakan makanan dan juga rokok. Artinya, jika mereka bekerja penuh selama 30 hari, maka satu orang tukang akan mengantongi Rp1.500.000 (net). Upah sebesar itu masih di atas Upah Minimun Propinsi th 2005 untuk DKI Jakarta yang sebesar Rp711.843 per bulan.

Jumlah uang yang dikantongi oleh seorang tukang itu ternyata masih di bawah upah minimum pekerja di Amrik yang rata-rata dibayar US$5.15 per jam. Artinya, jika dia bekerja 8 jam sehari, maka dia akan membawa US$41.2 per hari atau sekitar Rp412.000 per hari.

Wah, pekerja kita kalah jauh, ya… Kasihan banget ya pekerja di Indonesia. Ah, pasti tidak sesederhana pikiran saya ini, khan?

Dubbing film itu August 30, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
24 comments

Dubbing film menjengkelkan, khan?

Saya memang bukan seorang movie mania meskipun mempunyai ratusan judul DVD. TV lebih sering menjadi alat yang meninabobokan saya. Tapi, rasanya kesel juga ketika semalam menonton Bioskop TransTV. Semalam televisi itu memutar film yang berjudul Belphegor, the Phantom of Louvre. Pemainnya antara lain adalah si cantik Sophie Marceau yang berperan sebagai Lisa, seorang wanita yang rumahnya berseberangan dengan museum Louvre di Prancis itu.

Ternyata film itu adalah karya seni bikinan Prancis yang berjudul Belphégor – Le fantôme du Louvre. Yang menjadi masalah adalah televisi kita memutar versi Inggrisnya, bukan versi asli yang menggunakan bahasa Prancis. Meskipun saya tidak benar-benar fasih menggunakan bahasa Inggris dan Prancis, saya kesel juga melihat mulut para pemain yang bolak-balik melongo tapi tidak mengeluarkan suara. Ini memang konsekwensi sebuah dubbing film.

Dubbing memang memudahkan orang untuk menikmati tayangan yang tidak kita mengerti bahasa yang digunakan. Namun, dubbing juga menyebalkan tatkala di bagian bawah layar juga masih ada subtitle yang menjerjemahkan tiap perkataan yang dilontarkan oleh pemain. Akan lebih baik kiranya jika sebuah film yang menggunakan sub-title tidak menggunakan dubbing. Gunakan saja bahasa aslinya. Bukankah bahasa Prancis juga sebaiknya kita kenal?

Saya coba membandingkannya dengan film Mandarin yang juga diputar pada jam yang sama dengan filmnya Sophie itu di CTV. Film itu masih menggunakan bahasa aslinya, bahasa Mandarin dan sub-title disediakan. Saya pikir ini lebih asyik, khan? Bukankah DepKomInfo juga tidak melarang tayangan berbahasa selain bahasa Indonesia dan Inggris? Beberapa film India juga sekarang sudah ber-nehi-nehi, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia yang justru tampak kaku, khan?

Ya, saya lebih suka yang asli daripada yang menggunakan dubbing. Sementara film itu diputar, saya sudah terbawa mimpi dan televisi secara otomatis mati dengan sendirinya sebelum tengah malam tadi.

Anda lebih suka yang asli, bukan begitu sodara-sodara?