Calon Pemimpin yang Pencuri itu May 24, 2007
Posted by http://jalansutera.com™ in Blog.trackback
Jangan memilih pemimpin yang suka mencuri.

Seandainya anda diminta memilih pemimpin, maukah Anda memilih pemimpin yang sekaligus pencuri? Relakah Anda jika suara Anda diberikan kepada calon pemimpin yang suka mencuri? Wah, saya sarankan jangan, dech. Amit-amit…
Pencuri yang kerjaannya mencuri adalah mahluk yang hina. Dia tidak bermoral, tidak punya etika. Orang seperti ini tentu tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Eh, apa sih yang dicolong dari si calon pemimpin itu? Ssssstttt… dia itu mencuri start. Hah, mencuri start bagaimana? Iya, mencuri waktu start kampanye. Kampanye yang resmi belum dimulai, eh dia sudah memulainya terlebih dahulu. Wajahnya sudah nongol di berbagai media, spanduknya membentang di banyak tempat, posternya nempel di banyak tembok.
Belum jadi pemimpin saja sudah melakukan korupsi waktu, bagaimana jadinya nanti ketika dia sudah memegang amanat rakyat untuk benar-benar menjadi pemimpin? Jangan-jangan dia nanti akan menyelewengkan amanat rakyat. Jangan-jangan dia akan melakukan korupsi yang lebih besar, misalnya korupsi uang rakyat. Jangan-jangan…
Jadi, apakah dia yang kerjaannya mencuri pantas menjadi pemimpin? Tentu saja tidaaaaaaaakkkk. Jadi, pilihlah pemimpin yang bukan pencuri. Siapa dia? Jangan tanya saya. Lihat saja di televisi untuk membedakan mana yang pemimpin, dan mana yang pencuri.
Waspadalah….


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.
ada satu pencuri yg pantas jadi pemimpin mas..
yaitu pemimpin yg bisa “mencuri hati” rakyatnya :)
ati-ati lo mas ntar bisa dibredel, udah ada korbannya lho…
ada yg dihacking, ada yg dipecat…
kalo mencuri hati piye, jal?
@rasyid
dibreidel? siapa takut. saya toh tidak menunjuk hidung salah satu calon sebagai pencuri. terserah pembaca saja menafsirkannya.
@ndorokakung
kalo mencuri hatinya pada saat kampanye resmi sudah dimulai sih boleh saja. tapi, kalo mencuri hatinya dengan cara mencuri start kampanye ya nggak bagus juga. betul, khan, ndoro?
kalo dibredel berarti mereka mengakui kekuatan blog yang katanya cuma tren sesaat
Hihihi,
Siapa bilang saya mencuri start, lha wong saya belum resmi dicalonkan kok. Siapa bilang saya mencuri start, lha wong saya sedang kunjungan kok.
Kalau ada foto saya dilokasi kebakaran, itu kan sebagai wujud sumbangsih para pendukung saya, biar mereka tahu saya sangat memprhatikan rakyat.
Jangan menuduh tanpa bukti ah, nanti akan saya kerahkan team IT untuk melakukan penyelidikan pada blogger yang menulis hal ini. :-P
Buat gue pemimpin bukan orang yang jago mencuri hati rakyatnya. Tapi pemimpin yang mampu membuat rakyatnya rela memberikan hati mereka untuk dirinya…..
~so sweat
mas kayaknya calonnya ga sreg semua, golput dosa ga sih?? mending golput apa ngitung kancing?
@iway
itu risiko yang mesti anda tanggung. untunglah saya ada di wilayah yang berbeda dengan anda. jadi saya tidak mempunyai dilema, khan?
Wah gimana ya, mungkin itu sebabnya saya belum sekalipun ikut milih di pemilu alias golput abadi :D
Ah, cuman iklan anti narkoba aja kok. Sama iklan PMI. Sama iklan obat kumis.
Dia mencuri start?
Bukan!
Mereka mencuri start?
Saya tidak tahu persis yang mana yang dimaksud mas Rendy. Tapi saya ingat ada yang tumben2nya bikin kompetisi sepakbola.
‘Saya belum dicalonkan kok.. cuma mempopulerkan wajah saja’.
Saya tidak tahu persis yang mana yang dimaksud mas Rendy –> ups.. maaf..
maksudnya Mas Puji…
maaf.. maaf..
Mereka mencuri start? –> harusnya tanda tanya dihilangkan. jadi kalimat yang saya maksud adalah, “Mereka mencuri start!”.
Karena jujur saja memang ada dua yang mencuri start.
sekarang udah mulai masa kampanye blom sih…??? secara kayanya nggak cuman satu atau dua aja yg udah mulai pasang2 tampang di jalan2 utama Jakarta tapi seperti-nya semua calon udah mulai narsis…
kampanye mulai akhir juli. eh, sekarang kok sudah ada yang memulai, yak… parah bener nih… siapa dia? tebak sendiri…
Pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang memberikan contoh yang baik pula. Soal masalah pilkada DKI, saya rasa seperti kata bapak Wimar Witoelar “Mencari calon yang kompeten itu susah, tapi mencari calon yang tidak kompenten gampang sekali”. Dari calon-calon yang ada, semuanya bisa dikatakan ‘pencuri’, yakni ‘pencuri start’ kampanye. :)
k’lo ketahuan mencuri tembah di tmp
Ya udah..golput aja kalau emang gak ada yg mumpuni sebagai pemimpin.
Angka partisipasi bakal sangat rendah.
Nah..kalau partisipasi pemilih rendah, apakah itu berarti (calon) pemimpin yg kita tidak sukai bakal gagal terpilih ?
Mustahil,..karena bagaimana pun pasti tetap saja banyak orang yg ignorant, yg gak ambil pusing, yg mencoblos berdasarkan wajah-wajah familier yg mereka kenal di layar kaca/spanduk/apapun medianya.
Daripada protes-protes si ini mencuri, si itu mencolong. Lebih baik pro-aktif dalam pemilihan bakal calon pemimpin, jauh sebelum kampanye bergulir, dalam kongres partai misalnya.
Sudahkah kita melakukan itu?
Kalau macam kayak gini kan kalau ditelusuri ya salah kita juga. Kenapa sebelum si pencuri itu mencalonkan diri, kita TIDAK menghentikannya dari pencalonan.
tipi cenel mana sih?
kok aku gag nemu ada yg kampanye….
???
@didats…
elo musti nonton tv yang berbahasa indon. bukan berbahasa arab di quwait sono.
seperti mencari jarum dalam jerami,kalo tetap usaha pasti ketemu………gemah ripah loh jinawi..seperti jaman Majapahit
disini kurang terbuka ya…
sebut aja ADANG, SARWONO dan FOKE mencuri start pilkada DKI!!
selesai.
katepeku masih bandung…jadi ga punya hak pilih…
Kalau dalam perlombaan F1, para pembalap yang terbukti mencuri start (jump start) pasti akan dikenakan penalty oleh FIA. Tapi kalau kalau calon pemimpin yang mencuri start siapa ya kira-kira yang berhak dan “mampu” menghukumnya. Soalnya sudah jelas-jelas “nyolong start” tapi koq tenang-tenang saja melenggang ke tampuk kekuasaan?
biasa gitu dech,masing-masing mau saling mendahului malahan sesama simpatisan saling adu jotos, jadi tidaklah mengherankan di Indonesia banyak sekali kejadian tragis yang memilukan imbasnya adalah rakyat kecil, namun sampai dengan detik ini kita tidak jua sadar malapetaka yang menimpa negeri ini adalah ulah kita sebagai hamba Allah yang haus akan kekuasaan. Kita membutuhkan figur seorang pemimpin sejati, amanah, serta bertanggung jawab terhadap negara dan agamanya.