jump to navigation

Busway Lewat Pondok Indah September 21, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
trackback

Setuju atau nggak?

busway

Busway melewati Pondok Indah? Ya, pemerintah provinsi DKI Jakarta memang mempunyai rencana untuk mengoperasikan busway melewti Pondok Indah, sebuah kompleks perumahan elit yang ada di sisi selatan Jakarta itu. Kompleks prestisius ini memang dekat dengan terminal Lebak Bulus. Menurut The Jakarta Post, lebih 74% penduduk Pondok Indah adalah ekspatriat, khususnya orang-orang yang berasal dari Amerika, Inggris dan Australia. Mereka kemungkinan besar bukanlah konsumen busway. Bagaimana dengan sisanya yang 25%? Ya, mereka adalah penduduk Indonesia biasa saja. Cuma, mereka memang kaya raya sehingga bisa memiliki rumah di kompleks elit ini. Mereka jarang naik angkot atau bis umum.

Rencananya Busway koridor 8 akan membelah PI. Otomatis, jalanan umum di sini pasti akan dipangkas khusus untuk lalu lintas Busway. Bagaimana dengan pohon-pohon yang selama ini ada? Sutiyoso bilang, pohon-pohon itu akan diganti jika ditebang. Namun warga Pondok Indah telanjur keberatan dengan rencana pemerintah ini. Berbagai alasan dilontarkan warga: kemacetan akan semakin parah, udara semakin panas karena tidak ada pepohonan, banjir akan terjadi jika hujan datang dan lain sebagainya.

Pemerintah sendiri bersikukuh untuk tetap melanjutkan pembangunan Busway koridor 8 ini. Sutiyoso pernah mengatakan bahwa rakyat miskin pun sering kena gusur jika tanah mereka diperlukan untuk sarana umum. Nah, bagaimana sekarang orang kaya? Apakah mereka mau busway lewat di dalam kompleks mereka?

Nah, seandainya (ini seandainya saja, lhoooo) Anda ini adalah warga Pondoh Indah: relakah Anda busway membelah perumahan Anda? Jika setuju, apa alasanya? Jika tidak setuju, kenapa gak setuju?


Be the first to like this post.

Comments»

1. Hedi - September 21, 2007

Berandai-andai kan, ya ga keberatan. Wong kantor saya ya di seputaran pondok indah kok. Jadi jalan kaki atau naik sepeda pancal aja, naik mobilnya pas weekend doang :D

2. Adityo Ananta - September 21, 2007

Nda pa pa, monggo wae ….
Punya banyak duit bukan berarti boleh bandel dong
Tapi ganti rugi tanahnya lumayan tuh kl sampe ngegusur halaman orang :)

3. didats - September 21, 2007

mungkin di bagian PI gag usah di kasih halte kali ya… :D

4. jalansutera - September 21, 2007

#3
Justru orang ke arah Pondok Indah itu karena pengin ke Mall PI yang sekarang sudah ada dua… kalo gak dikasih halte, apa penumpang buswae itu harus lompat dari buswae ke Mall? Nice idea…

5. Anthony Fajri - September 21, 2007

Wah kalo saya setuju. Soalnya tidak punya mobil.

6. avianto - September 21, 2007

Hebat ya sang tuan besar Jakarta memelintirkan masalah, kesannya orang-orang Pondok Indah yang salah. Hebat isunya adalah elitisme, sementara intinya justru bukan disana.

Saya lempar fakta-fakta aja ya?

1. Pohon-pohon di PI usianya sudah lebih dari 20 tahun (bahkan ada yang 30 tahun). Kalau ditebang dan akan diganti, apakah sama kualitasnya dengan pohon usia 20 tahun?
2. Proyek Busway ini akan mengorbankan trotoar/pedestarian pejalan kaki. Prioritas Bus lebih tinggi dari pejalan kaki? Tampaknya memang Jakarta harus jadi kota kendaraan bermotor.
3. Jalan Metro PI perarahnya terdiri atas 2 jalur dan sekarang pun sudah macet total. Katanya jalan akan tetap 2 jalur dan berarti = pohon ditebang, pedestarian hilang = gersang, panas dan tidak ada resapan hujan.
4. Proyek Busway koridor I – VII, semuanya tidak memiliki AMDAL. Efeknya? Banjir semua.
5. Proyek Busway koridor VIII ini sudah mulai dikerjakan (kecil-kecilan) – walaupun belum ada tender. Jadi sudah tahu dong siapa yang akan menang tender?
6. Proyek Busway koridor VIII direncanakan akan selesai dalam 75 hari (sangat cepat loh). Bersamaan dengan selesainya masa jabatan sang penguasa adijaya kota Jakarta. Kebetulan?
7. Apakah Busway sukses? Kemacetan tidak berkurang, antrian tambah semrawut. Silakan anda nilai sendiri.

Sentimen atas warga Pondok Indah (yang diisyukan katanya elit dan kaya raya) memang dilontarkan oleh banyak pihak sebagai senjata bahwa orang kaya selalu tidak mau menuruti kehendak negara. FYI, TIDAK SEMUA warga Pondok Indah kaya raya dan elitis – banyak juga yang termasuk ‘beruntung’ membeli rumah di kawasan tersebut pada saat harga masih sangat murah (tahun 1970-1980an).

PS: Ya ya, saya tinggal di sekitaran Pondok Indah dari tahun 1979 dan saya sering capek berargumen bahwa tidak semua warga PI itu kaya raya dan sok elitis – tapi akuilah, kompleks perumahan mana lagi di Jakarta yang hijau, teduh dan teratur?

7. jalansutera - September 21, 2007

#6
Ayoo, ada yang bisa membantah argumentasi Avianto, gak? Yang bisa sih paling Pak Sutiyoso ajah… Peace…

8. avianto - September 21, 2007

Penguasa adidaya paling mulia dan paling berkuasa Jakarta kan selalu pakai satu argumen saja untuk kasus Busway PI: “Elitisme – Penghuni Pondok Indah tidak peduli rakyat kecil – dan beberapa tema sekitarnya”.

Mana pernah tema selain ‘elitisme’ ditawarkan oleh beliau yang dipertuan agung raja diraja kota penguasa adidaya kota Jakarta?

9. pitik - September 21, 2007

Ah saya coba berargumen dengan avianto, karena setiap hari saya pake busway:
1. Pohon sudah 20 tahun, jelas berkualitas beda dengan yang baru ditanam, tetapi pernahkah warga PI demo tentang pembalakan pohon2 diluar jawa yang usianya mungkin lebih dari 20 th?apakah jika ini menyangkut lingkungan sendiri (sekitar rumah) baru kita protes, tetapi jika pohon itu tidak tampak dimata kita biarkan sahaja?
2.Maaf, saya lihat pedestrian di PI juga sangat jarang digunakan, karena memang lebih banyak yang suka naek mobil pribadi.
3.Macet totalnya jalan, saya kira bukan karena kendaraan umum sahaja, panjang jalan dan jumlah kendaraan sekarang sudah tidak sebanding. jika kendaraan dibatasi, maukah anda mengorbankan kendaraan pribadi?ah saya kok ragu.
4. Kenapa tidak dari dulu anda mengangkat isu amdal ini?busway sudah ada lama sebelum isu ini terlontar, lagi-lagi bukan menjadi masalah jika yang terkena dampak lingkungan orang lain, dan bukan PI.
5. Saya tidak tahu akan hal ini, tanyakan sahaja ke PEMDA.
6. Saya juga belum tahu mengenai rencana ini, karena itu tanyakan lagi ke PEMDA.
7. Busway tentu sahaja tidak akan mengurangi kemacetan, jika kita masih suka mempunyai 5 mobil atau lebih dalam satu keluarga. Tapi apakah anda pernah naik kendaraan umum dengan jarak amat jauh dan copet yang berkeliaran?Kalau pernah pasti anda akan memilih busway, setidaknya untuk saat ini.

oh ya, saya juga bukan pendukung sutiyoso…hehehe..pis ah..

10. jalansutera - September 21, 2007

#9
Good, ada yang mencoba berdiskusi dengan Avianto. Ada yang mau nambahin? Saya sendiri jarang lewat Pondok Indah. Padahal jarak dari kantor juga nggak begitu jauh. Ah…

11. bank al - September 21, 2007

Saya tidak tinggal di pondok Indah. Namun saya sependapat dengan Avianto dan mencoba menanggapi jawaban Pitik.

1. Tidak penting apakah warga Pondok Indah mengeluarkan isu pohon ini karena ada di daerahnya. Buat saya yg tidak tinggal di pondok indah, Isu ini belum terbantah.

2.Karena jarang digunakan lantas tidak disediakan? Bagaimana dengan yg sudah menggunakan? Dilupakan?

3. Jika Sutiyoso bisa memaksa mengambil jalan untuk kepentingan DKI, mengapa membatasi kendaraan pribadi tidak ?

4. Lantas kalau baru sekarang dilemparkan maka Amdal menjadi tidak penting?

5.Saya juga nggak tahu soal ini.

6. Idem dengan anda, saya juga nggak tahu.

7. Siapa bilang ? Yg di jalur Buncit justru menambah kemacetan. Dan sialnya, busway yg tersedia masih tidak manusiawi. Istri saya waktu hamil terpaksa berdiri dari Kuningan sampai Ragunan, sementara kendaraan pribadi lewat sini lebih macet daripada sebelum ada bus way. Lantas apa solusi transportasi bagi yg sebelumnya nyaman lewat di sini ?

Dulu proyek Busway yg koridor I memang bagus dan banyak membantu. Sekarang proyek ini sudah tidak terkendali lagi. Jalan di Jakarta dihabiskan untuk kendaraan pribadi, sementara transportasi yg layak belum disediakan. Mengapa pemerintah DKI tidak menyelesaikan dulu masalah busway di koridor buncit dan rambutan sebelum membuat koridor baru ? Mengapa harus dipaksakan menjalankan proyek ini jika masalah yg ada belum selesai ?

12. avianto - September 21, 2007

Sip. Ada bantahan. Tapi argumennya juga lemah sih ;). Jadi teruskan diskusinya nih:

1. Pohon sudah 20 tahun, jelas berkualitas beda dengan yang baru ditanam, tetapi pernahkah warga PI demo tentang pembalakan pohon2 diluar jawa yang usianya mungkin lebih dari 20 th?apakah jika ini menyangkut lingkungan sendiri (sekitar rumah) baru kita protes, tetapi jika pohon itu tidak tampak dimata kita biarkan sahaja?

Ouch… coba jangan dilarikan ke luar permasalahan dulu. Ini namanya fallacies. Sama seperti berargumen “kalau rumah sendiri dirampok kita ribut tapi kalau rumah orang lain di kota lain dirampok kita diam saja” :).

Begini, permasalahannya di Jakarta ini sulit mencari area yang penghijauannya telah berlangsung lama. Kata kuncinya “Jakarta” – kalau kita bicara pembalakan di luar Jawa, anda yakin tidak ada warga PI yang tidak ikutan protes? Benar-benar yakin? (walaupun mungkin juga ada yang ikut membalak – who knows?), kalau benar yakin, bisa saya minta faktanya?

2.Maaf, saya lihat pedestrian di PI juga sangat jarang digunakan, karena memang lebih banyak yang suka naek mobil pribadi.

Ada dua isu disini:
1. Pedestrian PI banyak penggunanya. Kapan anda melihatnya? Bisa tampilkan data statistik fakta?
2. Apakah dengan tidak ada penggunanya pedestrian otomatis dianggap tidak berguna? Jadi bisa dihilangkan saja? Bagaimana fungsi pedestrian sebagai ruang antara jalan dan bangunan? Ada arsitek atau urban planner yang bisa menekankan fungsi pedestrian disini?

3.Macet totalnya jalan, saya kira bukan karena kendaraan umum sahaja, panjang jalan dan jumlah kendaraan sekarang sudah tidak sebanding. jika kendaraan dibatasi, maukah anda mengorbankan kendaraan pribadi?ah saya kok ragu.

Saya penggemar kendaraan umum, enak – tidak capek, tinggal duduk dan tidur. Tapi apakah kendaraan umum yang ada sekarang sudah memadai? Sudah nyaman? Apakah ‘nyaman’ karena yang ada hanya itu?

4. Kenapa tidak dari dulu anda mengangkat isu amdal ini?busway sudah ada lama sebelum isu ini terlontar, lagi-lagi bukan menjadi masalah jika yang terkena dampak lingkungan orang lain, dan bukan PI.

Karena busway sebelumnya tidak ada yang lewat daerah pemukiman atau peruntukan untuk pemukiman sehingga tidak ada yang merasa harus ‘mengurusi’nya. Siapa sih yang tinggal di Thamrin? Pinggir jalan Kuningan? Sudah ada sih yang mengurus AMDAL untuk koridor I – VII, tapi ya… ada unsur ‘pembelokan kenyataan’ di situ.

5. Saya tidak tahu akan hal ini, tanyakan sahaja ke PEMDA.
6. Saya juga belum tahu mengenai rencana ini, karena itu tanyakan lagi ke PEMDA.

Siapa yang mau bertanya? Saya sih tulis disini karena itu fakta yang didapat dari Pemda.

7. Busway tentu sahaja tidak akan mengurangi kemacetan, jika kita masih suka mempunyai 5 mobil atau lebih dalam satu keluarga. Tapi apakah anda pernah naik kendaraan umum dengan jarak amat jauh dan copet yang berkeliaran?Kalau pernah pasti anda akan memilih busway, setidaknya untuk saat ini.

Oh… saya sekarang memilih busway karena memang tidak ada alternatif yang lebih baik dan malas bawa kendaraan sendiri. 5 mobil dalam satu keluarga, ah anda suka berlebihan ya ;).

Oh iya, tambahan info: Warga PI tidak pernah menolak pembangunan Busway – yang ditolak adalah jalur busway yang melalui Jalan Metro PI tetapi warga PI justru menyarankan untuk mengalihkan jalur busway melalui jalan Ciputat Raya (Pondok Pinang) yang sekarang ‘mati secara bisnis dan harga’ dan diharapkan justru akan menghilangkan kemacetan dari jalan Metro PI serta meningkatkan harga serta fungsi bisnis area Pondok Pinang. Masalahnya… uang pembebasan tanahnya dari mana ya ;).

Ada alternatif dan ini yang tidak pernah diberitahukan ke khalayak banyak kan?

13. avianto - September 21, 2007

Ehm, tergelitik :D

Mengapa pemerintah DKI tidak menyelesaikan dulu masalah busway di koridor buncit dan rambutan sebelum membuat koridor baru? Mengapa harus dipaksakan menjalankan proyek ini jika masalah yg ada belum selesai?

Kata kuncinya nih: ‘komisi proyek’, ‘masa jabatan’ dan ‘ambisi jabatan selanjutnya’.

Silakan berinterpretasi sendiri ;).

14. jalansutera - September 21, 2007

#13
Intepretasi yang bagus dari Avianto tentang mengapa buswae “dipaksakan” ada di Pondok Indah sebelum sang gubernur lengser keprabon. Hmmm… boleh juga…

15. Irvan - September 21, 2007

saya waktu itu nonton talkshow dengan “mantan” gubernur DKI yang satu ini. katanya, menurut penelitian, kalo ga dibangun sarana transportasi massal di jakarta, maka tahun 2014 jakarta bakal stagnasi. maksudnya, suasana bakal macet saat kita mau mulai ngeluarin mobil. jadi, macetnya sudah sampe garasi rumah-rumah yang punya mobil.

jadi rencananya, jakarta bakal dibangun 4 transportasi massal : busway, monorel, transportasi air, satu lagi saya lupa. :D

semoga menjadi pertimbangan, kalo ga mau liat jakarta yang stagnasi tahun 2014 nanti.

-IT-

16. jalansutera - September 21, 2007

#15
4 transportasi massal: buswae, monorail, tranAIR, dan macet massal. hahahha…

17. bank al - September 21, 2007

#15:
Pernyataan “mantan” gubernur ini perlu dipertanyakan kembali. Apa yg membuat dia yakin bahwa Busway bisa menyelesaikan masalah ?
Kenyataannya sekarang Busway ini justru malah menambah masalah. Jalan untuk kendaraan pribadi makin menyempit, sementara busway tidak nyaman bagi pengguna.
Akhirnya orang tetep menggunakan kendaraan pribadi, walaupun jalanan tambah macet.

Justru proyek busway ini yg tampaknya mempercepat kemacetan sampai garasi rumah2 yg punya mobil.

18. jalansutera - September 21, 2007

#17…
Ada buswae, tambah macet. Tairf tol naik, macet lagi. Kapan ya ada pembatasan usia mobil/motor yang boleh beroperasi di jalanan jakarta?

19. pitik - September 21, 2007

hehehe..saya senang sekali mendapat tanggapan argumen saya lemah…sudah jelas itu, kalo sampeyan nanyain data statistik dan lain sebagainya saya jelas ndak punya…
tetapi kok saya tergelitik sekali, sudahkah pernah disurvey juga antara yang terbantu dengan yang tidak dengan adanya busway ini?ini penting, jika memang busway jadi masalah bagi kebanyakan ya sudah di hentikan saja, kan demokratis tho? warga PI keberatan dan kemudian memberikan alternatif jalur, itu baik (dan sudah diberitakan lho..)tetapi yang jadi pertanyaan diotak saya ga habis2 adalah kenapa warga yang lain didaerah lain tidak pernah protes yah?ah saya berbaik sangka saja, mungkin warga lain diuntungkan sedang di PI dirugikan, tetapi lagi-lagi saya terbentur data, seperti yang dibilang avianto. Oh ya kalo sampeyan punya data, kenapa ga sekalian dijelaskan disini?
untuk bank al, sampeyan kayaknya lebih menyoroti masalah kemacetan, betul sekali kalo busway menambah kemacetan kendaraan pribadi jika yang dimaksud adalah hal itu. Tapi bukankah sampeyan bisa belajar naek kendaraan umum?yang tentu saja tidak senyaman kendaraan pribadi. Tapi saya turut prihatin jika istri anda disaat sedang hamil tidak mendapat tempat duduk di busway, karena setahu saya perempuan hamil adalah yang diutamakan duduk.
untuk masalah kenapa sutiyoso, maaf saya langsung menyebut nama saja dari pada berbelit2 :D, dan kebijakannya disaat terakhir2 dia menjabat, dan masalah internal dalam proyek (korupsi maupun yang lain), saya lagi2 akan lemah berargumen karena tak adanya data, mungkin avianto bisa membantu?

20. bank al - September 21, 2007

#19:
Mas Pitik, dengan kendaraan umum memakan waktu 3 jam,
Apa jika anda jadi saya akan juga memilih 3 jam di perjalanan ?

Yg saya soroti bukankah sekedar Bus Way menambah kemacetan. Namun adalah bahwa Bus Way tidak menyelesaikan permasalahan transportasi.
Ada atau tidak ada bus way, jalanan tetep macet (bahkan bertambah macet).

Orang yg sebelumnya naik metro mini mungkin akan lebih nyaman naik bus way.
Tapi bagaimana dengan yg sebelumnya naik kendaran pribadi ? Dan bagaimana dengan yg rumahnya tidak dilalu i jalur bus way (seperti saya) ?

Selain itu, jika anda perhatikan jalur Buncit, sekarang kendaraan pribadi masuk jalur bus way sehingga bus way juga macet. Kenapa bisa begitu? Polisi yg menyuruh mereka masuk. Mengapa ? Anda bisa tebak sendiri. Saya duga polisi juga sudah tidak tahu harus bagaimana lagi mengatur jalan melihat kendaraan pribadi tidak berkurang setelah ada bus way.
Akhirnya naik kendaraan pribadi ataupun bus way tetep saja macet, bahkan lebih macet daripada sebelum ada bus way.

Saya tidak menampik kenyataan tentu ada diuntungkan dengan adanya bus way ini. Seperti contohnya yg sebelumnya penumpang metro mini.
Namun apakah orang-orang yg menderita karena proyek ini patut dilupakan?

Akhirnya, jika jalanan tetap macet dan orang tetap harus membuang waktu berjam2 di perjalanan. Apa gunanya ada bus way ?

21. avianto - September 21, 2007

Mas Pitik, ada sedikit bahan supaya anda jangan menghabiskan otak anda untuk berpikir hal ini terus ;):

tetapi yang jadi pertanyaan diotak saya ga habis2 adalah kenapa warga yang lain didaerah lain tidak pernah protes yah?

Lihat jawaban saya sebelumnya, dari koridor I s/d VII, koridor manakah yang lewat “KOMPLEKS PEMUKIMAN”, mungkin saya perlu definisikan sedikit apakah kompleks pemukiman ini ya, kompleks pemukiman = daerah yang menurut tata letak dan tata ruang perencanaan pembangunan merupakan area pemukiman yang terdiri atas perumahan dan sarana komersial pendukung.

Mengenai data, argumen saya tidak membutuhkan data, melainkan akal sehat dan logika – sementara argumen yang anda ajukan justru merupakan argumen yang harusnya didukung oleh data, misalnya:
- pernahkah warga PI demo tentang pembalakan pohon2 diluar jawa yang usianya mungkin lebih dari 20 th, harus ada data pasti, bukan sekedar ‘pernah’ atau ‘tidak’
- sudahkah pernah disurvey juga antara yang terbantu dengan yang tidak dengan adanya busway ini?, sudahkah? dan hasilnya bagaimana?
- mungkin warga lain diuntungkan sedang di PI dirugikan, data… data… data…

Jadi mas Pitik, saya sama sekali tidak bermaksud menihilkan argumen anda – tetapi argumen yang anda ciptakan sendiri membutuhkan data pendukung, karena tanpa data pendukung tersebut, argumen itu jadi seperti obrolan ngalor ngidul menjelang buka puasa :).

Tapi seru kok, saya senang dengan diskusi seperti ini – dan untuk mas Pujiono, maaf ya kalau blognya dijadikan sarana debat ala “Gubernur Kita” hahahaha ;).

22. beast - September 21, 2007

kalau saya warga PI, saya tidak akan buang buang waktu baca blog ini

:-)

23. okta - September 21, 2007

gw bukan warga pi tapi kalo disuruh berandai-andai gw suruh orang-orang tengok sejarah jalan itu. sebenarnya jalan itu jalan milik perumahan atau jalan umum…gitu lho….

24. Yono - September 21, 2007

Gw menulis ini bukan berpihak kepada sang penguasa yang ambisius (mungkin ada target tertentu) atau kepada penduduk komplek pondok indah, jadi netral aja.
Tapi kalau boleh jujur kita bisa melihat dan menilai kembali (secara objektif) apakah Busway yang sudah beroperasi sekarang ini bisa kita katagorikan sukses?
Kalau menurut gw yang bisa dianggap “berhasil” Cuma koridor 1 (blok M – kota), itu juga sekarang sudah tidak senyaman pada awal dioperasikan.
Sedangkan koridor2 yang lainnya lebih banyak bermasalahnya dari keuntungannya, pada jam2 tertentu polisi malah menganjurkan kendaraan pribadi/motor untuk memakai jalur busway (karena jalur non buswaynya macet). Sehingga busway yang seharusnya bebas kemacetan jadi ikut macet ……apa gunanya ada busway?
Belum lagi masalah lain yang ditimbulkan karena adanya busway seperti banjir dll.
Jadi kalau menurut gw,…keberhasilan busway dari semua koridor yang sudah ada hanya 30 sampai 40% saja; jadi sebaiknya sebelum membangun jalur baru,….perbaiki dulu jalur2 / koridor2 yang sudah ada,….jangan memaksakan membangun sesuatu karena “mumpung” masih sebagai penguasa kota.
Jakarta pernah menganti becak dengan bajaj,….sekarang pemda DKI beranganggapan bajaj sebagai salah satu sumber polusi. Intinya, jangan membuat atau membangun sesuatu yang akhirnya tidak akan dipakai (buang2 biaya),….atau mungkin ada maksud atau tujuan “tertentu”.

25. rifie - September 22, 2007

Ngga sekalian aja busway beroperasi di tebet?

Buat saya, proyek busway adalah suicide project. yeah. Kenapa? Karena dana miliaran tapi ngga ada komitmen dan ga konsisten. Mengatur Jakarta seenaknya dan se-instan2nya. Meh. Ada fasilitas tapi ga sebanding dengan kinerja dan uang yang dikeluarkan. Terlalu dipaksakan. Duit dibuang-buang kan sayang. :(

26. andre - September 23, 2007

yah…debat ini membuktikan kalau peran busway di kota jakarta amat penting…

ah sebetulnya aku lebih mengharapkan adanya semacam MRT(kereta bawah tanah) di jakarta….

yah lebih baik ada busway daripada nggak sama sekali….

bandingin ama pemkot bandung yang buslinenya cuma angan2 kosong nggak kewujud2

setidaknya pemda jkt sudah bisa memberikan sesuatu yang ada wujud barangnya, nggak sekedar kajian kosong

yah sebuah karya yang “lumayan”, “nggak parah2 amat” dibanding kesemerawutan jakarta yang udah amat parah…

masih lebih baik kok daripada proyek pesawat N250 nya IPTN yang cuma sekali terbang itu…

…yo maju terus…indonesia

27. susan - September 24, 2007

Busway di PI? No way. Setiap pagi dan malam sy lewat koridor jalan itu. Dan tiada hari tanpa macet. Gak kebayang, kalau busway ada di sana. berapa jam lagi hrs sy (mungkin juga penggunan jalan lain) habiskan waktu di jalanan itu. Ketidaksetujuan sy bukan karena sy (bakal) dirugikan (mungkin juga tidak) dalam soal waktu menmpuh pp rumah dan kantor. Tapi, kok pemerintah ‘maksa’ banget ya membangun koridor busway di PI. Kenapa tidak memantain baca=memanjangkan jalur) dari yg sudah dibangun. Misalnya yg dipasar minggu itu, toh bisa disambungkan, kalao memang tujuannya meringankan jalur selatan.

Saya sih mbayangkan, kalao kelak koridor usway itu keukeuh dinbagung di jalur PI, pasti tingkat polusi udara di jkt ini bakal berlipat ganda. Knp sebabnya, tanya ahlinya deh, berapa buangan emisi keluar saat kemacetan itu terjadi. Inget gak wkt tg 22 kemarin, saat jl sudirman-thamrin ditutup, akhirnya kemacetan tjadi di mana2, ada seorang ahli yg mengukur tingkat polusinya, hasilnya tenyata berlipat ganda. Coba kalau ada ahli juga yg mengukur kemacetan di daerah yg ada jalur2 busway, mungkin fakta ttg polusi akan ada angka yg baru.

Bukannya sok pencinta lingkungan, tapi bayangkan saja, polusi meningkat, paru-paru amburadul, pohon-pohon hijau pun menghilang, kemudian apalagi yg bisa kita banggakan dg jakarta ini?? Benahi sajalah apa yg sudah kita punya, jangan cari proyek melulu. Peace!

28. alexs - September 25, 2007

penolakan warga pondok indah terhadap busway koridor viii, adalah cermin arogansi golongan berjuis terhadap golongan proletar………untuk itu mari kita hancurkan masyarakat pondok indah yg menolak busway koridor viii…..

contoh2 arogansi dapat dilihat dng kasat mata….
mereka bilang ….trotoar untuk pejalan kaki…nyatanya trotoar mereka tanami bunga…mereka pagarin…..sehingga kami pejalan kaki ini gak bisa melewati trotoar tersebut……

saya pribadi gak kenal pejabat2 pemda dki, tapi saya dukung pembangunan busway koridor viii untuk masyarakat yg akan menggunakan angkutan umum……….

maka wahai masyarakat pondok indah yg menolak busway koridor viii……instrospeksilah kalian itu…..

29. jalansutera - September 25, 2007

Ada yang setuju, ada yang gak setuju. Ada yang bilang egois, ada yang bilang butuh amdal. Ada yang mau komen lagi?

30. yudiwbs - September 25, 2007

Selama solusinya masih model tambah sulam akan terus seperti ini. Maunya jangka pendek terus ya susah.

Coba buat pemerataan ekonomi dan politik. Jangan semua mengumpul di Jkt. Ini memang proyek jangka panjang (>10 tahun).

Lagipula dengan pemanasan global yang membuat air laut naik, beberapa puluh tahun lagi mungkin ibukota juga harus pindah. Kota-kota lain seperti Tokyo, London sudah mulai siap-siap. Kalau kita? Masa mau pasrah terus sih?

31. petroek™ - September 25, 2007

Seandainya (ini seandainya saja, lhoooo) Anda ini adalah warga Pondoh Indah: relakah Anda busway membelah perumahan Anda? Jika setuju, apa alasanya? Jika tidak setuju, kenapa gak setuju?
sebagai warga negara yang patuh terhadap pemerintah, saya akan mendukung pembangunan busway koridor 8 walaupun melewati pemukiman saya. Bahkan jika perlu saya akan memberikan bantuan dana kepada pemda dki supaya jalur busway PI lebih elit dari jalur-jalur busway lainnya. Kan PI gito loh….

32. jalansutera - September 25, 2007

#31 petroek™
Untung Sutiyoso gak baca blog ini. Kalo baca, petroek™ bisa dijadikan warga teladan nih. Hahaha … … …

33. tokecang - September 25, 2007

Yg pro dan kontra, biasanya berbanding lurus antara yg punya kendaraan/mobil (kontra) dan yg tidak punya kendaraan/mobil (pro), atau pemakai kendaraan pribadi/mobil (kontra) dan pengguna bus (pro). Ya nggak ? hahaha… gitu aja repot. Nggak bisa dipungkiri…

34. avianto - September 25, 2007

Hehe, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ada pembelokan isu dari isu “lingkungan” dan “kinerja busway” menjadi isu “elitis” untuk kasus busway Pondok Indah.

Coba lihat komentar alexs; Arogansi ‘borjuis’ dan ‘proletar’. Wah wah, kenapa harus bermain di level itu sih? Kita main di level akal sehat dulu deh. Menggunakan kata ‘hancurkan’ juga, wah wah… sudah sedemikan anarkisnya bangsa kita ini? Kalau ada yang tidak setuju “HANCURKAN SAJA” – hidup demokrasi!

Trotoar dipagari? Trotoar di Pondok Indah masih bisa dijalani pejalan kaki tuh – tidak disesaki oleh pedagang kaki lima juga?

Kalau anda menyeru warga PI untuk interospeksi, terimakasih – tapi boleh dong kita serukan interospeksi untuk yang terkesan memaksakan keinginan membangun busway untuk interospeksi juga apakah busway memang sudah sukses dan mencapai hasil yang diinginkan.

Terimakasih atas provokasinya bung alexs, anarkisme sepertinya memang sudah jadi budaya tak terpisahkan dari bangsa kita ;).

35. jalansutera - September 25, 2007

#34 Avianto
Tuh, Avianto sudah menjawab lagi. Ayo… ada yang mau diskusi lagi? Peace…

36. Sujatmiko - September 26, 2007

Udah lha babat aja jalan metro PI, pasar2 aja bisa dibakar kenapa cuma jalan segitu meter aja susah !! nanti juga ujung2nya issue ini akan reda dengan sendirinya. Orang kita kan senengnya yang “musiman” , sebentar hot, sebentar ilang. Lagi pulakan saya jadi enak kalo ngantor, bisa naek buswae aja. Peduli amat sama pengendara mobil, itu resiko mereka! Seperti halnya juga kita (para pejalan kaki) yang punya resiko ‘keamanan’ di jalan.

Untuk pedestrian di jalan metro PI ? ealah coba aja jalan di depan rumah2 mewah itu, perasaan saya sih waktu itu takut kesamber mobil dari belakang, tipis banget pak !

37. Sujatmiko - September 26, 2007

@susan :
Lha sekarang yang mbikin macet sopo to ? ya mobil2 pribadi itu kan ? Ya uwes kalo nanti makin macet, ya makin macet, kalo nanti ndak bisa jalan , ya tunggu sampai bisa.

Harapan saya, supaya pemda DKI membuat satuan khusus untuk mengamankan operasional buswae nantinya, supaya ndak ada mobil/motor/angkot yang menggunakan lintasan buswae, mungkin disetiap jalan yang pembatasnya terbuka (contoh: bunderan PI, U turn). Dengan begitu penikmat buswae tidak terganggu kenikmatannya.

38. sufehmi - September 26, 2007

Naik busway cukup mengesalkan; pertama orang Indonesia banyak yang tidak mau antri (baca: egois). Saban naik busway rasanya gatal ingin mengemplang orang-orang yang dengan cueknya menyerobot antrian orang lain. Padahal pada necis & berdasi begitu, pastinya bukan orang yang tidak berpendidikan ya.

Kedua; berdiri di bis sih tidak apa, tapi kok, pegangannya bergoyang2 ? Walhasil saban turun dari busway jadi lelahnya bukan main, karena perlu tenaga ekstra untuk berpegangan di pegangan yang bisa bergeser-geser dan menyebabkan kita menghantam orang lain itu.

Ketiga; desain bus nya tidak dipikirkan baik-baik sepertinya. Walhasil, penumpang yang berdiri cenderung tertumpuk di tengah.
Kapasitas bus juga jadi berkurang, sehingga calon penumpang jadi semakin lama tertahan di halte sebelum bisa kebagian bis pada jam-jam sibuk.

Ke empat; ini bus-way atau TRANSJAKARTA-way ?

Enak saja menyerobot satu jalur khusus untuk dia sendiri & kendaraan UMUM yang lain tidak boleh turut memanfaatkannya (padahal kan bisa diatur kompromi/aturan mainnya), dan lalu terjadilah kebiasaan ala jalan tol — menaikkan tarif seenaknya, tanpa bisa di audit / diuji kelayakannya.

Mana tahu dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi tarif busway sudah naik sampai lebih dari Rp 10 ribu.

Kasihan sekali para pendiri republik ini, sudah susah payah membuatkan pasal 33 di UUD 45, tapi bisa dilanggar berkali-kali di berbagai bidang tanpa masalah sama sekali.

39. sufehmi - September 26, 2007

Berhubungan dengan poin 4 di komentar saya sebelumnya, sebetulnya busway jauh lebih merugikan para pengendara umum lainnya.
Karena jalur mereka jadi lebih macet daripada biasanya.

Kalau warga Pondok Indah sih, kebetulan saya juga domisili di situ (kalau kebetulan ketemu, silahkan boleh minta lihat KTP saya), dan situasinya, hampir semua tetangga saya memiliki supir & kendaraan yang cukup nyaman.

Mereka mungkin diperlihatkan ribut & protes di media massa, tapi kenyataannya, mereka ***tidak akan*** banyak disusahkan oleh busway.
Lha mereka tinggal duduk enak di mobilnya yang ber AC, paling supirnya yang tambah pusing karena kemacetan jadi semakin parah.

Dan juga karena masih ada solusi lainnya lagi bagi mereka – misalnya; tutup jalan Kartika untuk umum, maka mereka bisa lewat situ & terhindar dari kemacetan total di jalur busway tersebut.

Yang akan sangat disulitkan oleh busway JUSTRU adalah penghuni luar Pondok Indah yang sehari-harinya melintasi PI — pengguna kendaraan umum, penghuni kompleks2 sekitar Lebak Bulus & Ciputat, dst.
Mereka ini yang akan paling disusahkan dengan busway.

Jadi, jangan tertipu dengan pihak-pihak yang mengangkat isu elitisme untuk menggolkan busway.
Coba lihat dibaliknya; dan temukan masalah-masalah besar seputar busway (contoh: poin 4 di komentra saya sebelumnya) yang jadi tertutupi karena keributan soal elitisme / borjuisme ini.
Yang disusahkan justru rakyat biasa, bukan yang elitnya.

Pengalihan perhatian ini strategi dari zaman Orba euy… mosok masih mau tertipu terus dengan strategi basi seperti ini :-)

40. Ibal - September 26, 2007

Dari semua pembahasan ini sebenarnya sih ada satu poin yang udah disebut tapi bener2 luput dari fokus…Busway gak akan pernah berhasil maksimal jika tidak diiringi dengan pengendalian pertumbuhan kendaraan pribadi baik dari segi peningkatan populasi maupun pajaknya….

Saya justru agak heran dengan pemda DKI yang gak berusaha keras atas hal ini walau saya yakin mereka sangat menyadari ini adalah salah satu main problem (dari statement Sutijoso jakarta akan stuck tahun 2014 hal itu tersirat), tapi kebijakan ini memang kontraproduktif bagi para produsen mobil maupun motor, mereka pasti berusaha setengah mati melawan kebijakan seperti ini jika ada, mengingat jakarta adalah pasar paling potensial.

Apa Pemda takut mengatur hal ini? saya rasa tidak jika mereka tulus, ini yang seharusnya kita sama sama perhatikan….

Kembali ke Buswaynya sendiri, saya sekarang adalah penggunanya setelah 15 tahun bisa dikatakan gak pernah naik kendaraan umum kecuali taksi dan bajaj…bagi saya lumayan ya walau gak senyaman MRT sing ato MTR HK, dan mobil saya sekarang jarang digunakan kecuali yang buat anter jemput anak di daerah rumah saya…di Timur jakarta

Rasanya perselisihan ini gak terlalu perlu kalo semua pihak bisa mengendalikan diri dan fokus kepada tujuan…..ingat di Jakarta naik porsche atau mikrolet nyaris sama gak berkualitasnya dari sisi mengendarai…padahal dg naik busway dengan segala kekurangannya kita bisa memungkinkan santai denger musik atau baca buku terutama jika di luar peak timenya dan jelas ekonomis….sedang naik mobil sekarang ini rasanya udah peaktime semua, stress…..

41. jalansutera - September 26, 2007

# 40
kapan ya ada pembatasan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta. Khan bisa dibuat begini, misalnya: hari senin, rabu, jumat hanya kendaraan bernomor plat terakhir ganjil yang boleh beroperasi. hari selasa, kamis dan sabtu kendaraan bermotor bernomor polisi genap yang boleh beroperasi. hari minggu semua boleh beroperasi. macet dong. biarin saja. khan gak mengganggu bisnis.

42. sufehmi - September 26, 2007

@jalansutera – orang kaya, lagi-lagi, tidak akan kena masalah. Mereka tinggal beli mobil lagi.

43. sufehmi - September 26, 2007

@Ibal – saya rasa tidak perlu dikontrol; cukup berikan saja fasilitas transportasi publik yang bagus & biayanya terjangkau.

Daripada kena macet & biaya besar, otomatis pasti orang akan pilih yang cepat & terjangkau.
Ketika di Birmingham, kami biasa menggunakan bus kemana-mana, walaupun juga ada memiliki mobil.

Tapi di Indonesia kan tidak begitu. Fasilitas transportasi publik milik negara layanannya jelek. Sedangkan yang milik swasta layanannya jelek dan/atau harganya mahal :-)

44. Ibal - September 26, 2007

Kalo cuma pembatasan ganjil genab sih rasanya kurang efektif, karena bisa diakalin beli mobil jadi double untuk cover masalah itu, malah banjir mobil parkir ke jalan jalan he he he,
Sehaarusnya kita emang sadar kalo naik mobil itu mahal, maka siapapun bberhak naik mobil dan bayar mahal (banget) pajaknya, tapi yang gak punya duit di subsidi dengan kendaraan umum yang nyaman sehingga gak gerundel.
Nah populasi diatur salahsatunya dengan Zero growth (tentunya dengan populasi yang udah berkurang dari sekarang)…siapa aja bisa beli mobil baru asal memusnahkan satu mobil lama, Jadi mobil lama juga berharga karena pasti dicari sama orang yang mau beli ferrari or porsche tuk di musnahkan dan dapet sertifikatnya…Tapi ya syaratnya pemerintah mau negakin peraturannya gak ya…gak janji deh…soalnya ini negara UUD…but still I support Busway mau lewat mana kek…

45. avianto - September 26, 2007

Cuma sedikit mengamati komentar yang lain, kenapa ya yang setuju dengan busway di PI komentarnya selalu berbau anarkis? alexs dengan ‘hancurkan’ dan Sujatmiko dengan ‘babat’ dan ‘bakar’.

Apakah ada hubungan antara anarkisme pengguna busway (seperti yang diutarakan bung Sufehmi #38) dengan hal ini?

Cuma penasaran. Jangan diambil hati ;).

46. jalansutera - September 27, 2007

#42 sufehmi
iya sih. kalau ada pembatasan ganjil-genap ya orang kaya bisa beli lagi. mungkin pajak mobil mobil kedua dan seterusnya perlu dinaikkan. bersamaan dengan itu diberlakukan sistem ganjil-genap. kalo pajak mobil kedua dst dinaikkan, bukankah yang untung juga negara?

47. Zak - September 27, 2007

Intinya cuma 1…kejar setoran…sisa masa jabatan harus digunakan untuk mendapatkan tambahan uang korupsi dari proyek busway yang semaksimal mungkin dengan dalih kepentingan umum dan mengorbankan kepentingan orang lain

48. susan - September 27, 2007

#45 Mas Puji, bukannya pembatasan mobil dulu pernah dilakukan. Kalao gak salah tahun 90-an deh. no ganjil dan genap bergiliran. Tapi sepertinya gak ngaruh deh. Lagian gmn monitornya ya?? Mata polis bisa juling dong..hahaha.. Truss soal pajak mobil juga sepertinya sdh diberlakukan. kalau gak salah, mobil ke tiga atau ke empat deh (tolong koreksi). Tapi org indonesia memang ruarrr biasa. sepertinya aturan itu gak ngaruh.. yaa..faktanya, meski krisis, mall tetep penuh, pusat belanja di singapura jg sesak oleh para shopper Indonesia. Uhuyyy deh

49. alexs - September 27, 2007

untuk avianto…..
justru masyarakat PI yg menolak pembangunan koridor busway VIII itulah yg mengalihkan permasalahannya……dari permasalahan pembangunan koridor busway VIII menjadi permasalahan lingkungan hidup……..

trotoar gak bisa dilewati pejalan kaki….dialihkan menjadi koridor tidak ditempati padagang kaki lima….

saya sih gak anarki….cuma muak melihat arogansi warga PI yg menolak pemb busway kor VIII
okkkk

50. sufehmi - September 27, 2007

@jalansutera – kalo pajak mobil kedua dst dinaikkan, bukankah yang untung juga negara? — umm, untuk saat ini, belum tentu :) ingat statement Prof. Soemitro bahwa pengeluaran negara bocor ***minimal*** 30%, dan ini baru pengeluaran lho. Belum lagi kebocoran pada sisi pemasukan.

Kalau ditimbang antara menaikkan pajak mobil kedua (saya tahu banyak keluarga yang pas-pasan namun terpaksa memiliki 2 mobil; misal, yang satu lagi untuk usaha dagangnya) — dengan membangun infrastruktur transportasi publik yang benar-benar massal & dijamin terjangkau; saya kira akan jauh lebih baik yang kedua.

Dan, tentu saja, perlu ada usaha lebih lanjut untuk wealth distribution; dan solusinya pada saat ini bukan dengan desentralisasi kekuasaan (yang sudah terbukti malah menjadi desentralisasi korupsi).
Kalau kemakmuran sudah merata, maka berbagai masalah urbanisasi, termasuk kemacetan di kota-kota besar, otomatis akan berkurang dengan sendirinya.

@alexs – saya kira anda benar; walaupun isu penghijauan juga valid, namun kalau ditimbang dengan kepentingan publik maka saya kira bisa mengalah (misal: tebang pohon di PI, dan tanam di tempat lain)

Tapi jangan sampai lupa, seperti yang saya jelaskan di komentar saya sebelumnya, bahwa tetap saja busway justru akan merugikan Anda & kita, rakyat biasa, dan bukannya para penghuni pondok indah.

Kalau kita sampai justru mengalihkan sendiri masalahnya seperti ini, ya siap-siap saja menderita sendiri.

51. avianto - September 28, 2007

@alexs:

OK, menurut anda jadi permasalahan pembangunan busway koridor VIII tidak berhubungan dengan masalah lingkungan hidup. Jadi seandainya koridor VIII menyebabkan banjir, suhu udara meningkat, polusi bertambah serta hal-hal tidak menyenangkan lainnya, hal tersebut BUKAN masalah lingkungan hidup tapi masalah… nasib?

Anda tidak anarkis? Ah, bukankah anda sendiri yang menulis pada komentar #28:
untuk itu mari kita hancurkan masyarakat pondok indah yg menolak busway koridor viii

“hancurkan masyarakat pondok indah”? Apakah karena anda muak lalu menjadikan anda sah untuk menghancurkan masyarakat? Saya terus terang muak melihat arogansi anggota DPR, tapi apakah saya berhak memprovokasi ‘kehancuran para anggota DPR’? Hmm, mungkin saya harusnya merasa berhak ya? Terimakasih masukannya, mungkin memang kalau kita muak pada segolongan masyarakat harus kita ‘hancurkan’ saja masyarakat tersebut. Menarik…

52. Sujatmiko - September 29, 2007

Apanya yang dihancurkan ? dibangun lho mas… infrastruktur jakarta kan pelan pelan sedang dibangun. Kita seharusnya punya pandangan yang lebih luas. Semua ini adalah proses pendewasaan.

Kalo diinget2 awal dibangunnya bus way, banyak sekali yang protes pada masa itu! Bus wae di hujat habis habisan, setelah established, busway dimanfaatkan habis2an. Saya jadi geli sendiri, segitu bodohnya kah orang2 di Jakarta ini? Nggak ada bedanya sama mental anak balita kan? Benci tapi doyan?

Yah warga pondok indah harusnya bisa berbesar hati, ini kesempatan kalian untuk menunjukan sumbangsih kepada masyarakat DKI. Kalo emang nggak ikhlas juga, anggap aja ini merupakan “collateral damage”.

Ujung2nya kan saya jadi cepet kemana mana, lebih tepat waktu dan tidak terlambat lagi gara2 macet. Macet yang disebabkan oleh padetnya kendaraan pribadi. “saya” di sini bisa mewakili jutaan orang lainnya lho …

53. avianto - September 29, 2007

@Sujatmiko: anda menjawab komentar saya diluar konteks ;). Coba dibaca baik-baik dulu – baru dikomentari soal kata “hancurkan”, OK?

Hm, saya sudah tulis berkali-kali kalau warga Pondok Indah TIDAK menolak pembangunan busway, mereka hanya meminta prosedur pembangunannya harus memenuhi persyaratan pembangunan sarana publik – karena kalau busway di Metro PI dibangun begitu saja sekarang akan terjadi pelanggaran atas:

1. PP No. 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang.
2. UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
3. (Nah yang ini agak lucu dan ironis) Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta No. 76 tahun 2001 tentang Pedoman Operasional Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Sekali lagi tidak ada unsur penolakan disini, warga Pondok Indah mengusulkan ketiga aturan hukum tersebut diikuti terlebih dahulu sebelum memulai pembangunan – plus diadakan penyelidikan apakah ketiga aturan hukum tersebut telah diikuti dalam proses pembuatan busway koridor-koridor sebelumnya.

Seandainya busway bikin perjalanan semua orang lancar dan tidak macet tentu amat sangat menyenangkan kan? Tapi seandainya busway mengakibatkan kerusakan lingkungan, banjir, peningkatan polusi serta berbagai masalah baru? Saya tidak ingin melakukan ‘penilaian’ disini tetapi apakah busway merupakan satu-satunya pilihan untuk memecahkan masalah kemacetan di Jakarta?

Busway ‘dimanfaatkan habis-habisan’… Menarik sekali pernyataan anda, ‘dimanfaatkan habis-habisan’ karena memang busway itu nyaman, cepat dan aman ataukah karena tidak ada alternatif lain yang lebih baik?

Banyak hal yang bisa diangkat mengenai kasus busway ini mulai dari pembangunannya yang terkesan terburu-buru (kejar setoran?) hingga pelaksanaan operasionalnya yang tidak efektif (armada yang kurang? Jalan sudah ada tetapi bus tidak ada? Kondisi terminal serta bus yang sudah mulai hancur padahal belum sampai 5 tahun?). Silakan mau diangkat dari sisi mana.

Sekali lagi – jangan melihat masalah ini dari sisi ‘elitisme’ segolongan warga – bukan itu masalahnya kok, tetapi tentu masalah ini yang akan selalu diangkat oleh pihak-pihak yang ingin memaksakan kehendak tanpa peduli akan efek samping kehendaknya tersebut.

Taat hukum salah… peduli lingkungan salah… mengajukan alternatif salah juga… memang harus jadi penguasa untuk bisa menjadi ‘benar :).

54. alexs - October 1, 2007

comment sujasmiko ok juga.

kalau saya pejabat pemda dki, jalur busway koridor VIII akan tetap saya bangun. persoalan pohon yg ditebang (yg banyak diprotes orang PI) akan saya tanamin pohon lagi aja. soal usia pohon yg beda itu udah resiko………

Gak usah didengerin golongan berjuis yg menolak itu….Kalau mereka menghalang2i kerahkan kami untuk menghancurkannya…..

OCEHAN2 mereka memang cermin arogansinya…….
dalam hal ini kita gak perlu DEMOKRATIS….karena DEMOKRATIS GAK BAWA KESEJAHTERAAN…….

55. tika - October 1, 2007

saya tinggal di lingkungan pondok indah lho, tapi bkn di kawasan perumahannya, saya tgl di kawasan arteri-nya, tepatnya di wilayah kostrad gt d.. (ngaruh apa engga si klo disebutin?ga penting y?)

saya si cm ingin m’ngutarakan pdpt saja, org kan blh bd pdpt, ga usa b’debat sampe mengeluarkan kata-kata yang keras gt ah,, masa sampe ada ‘babat ‘ dan ‘bakar’ segala..

klo mnrt saya sih mmg penebangan phn itu salah, apalagi di jkt yg panas begini cm ya saya msh p’caya sama pmrth yg blg phnnya akan diganti, mskpn mgkn kualitasnya ga sebagus phn yg lama, cm kan phn yg tua jg ga begitu bgs, ntar bs2 roboh ketiup angin bsr lg (agak b’lbhn y?nmnya jg pdpt), lagian mnrt saya phn2 di kwsn PI itu gak ngaruh sm keteduhan, org ttp berasa panas koq,, phn yg di jln2 kan cm phn palem sebagai penghias mskpn ttp sdkt b’guna si buat p’hijauan tp klo mblnya ttp bnyk kan p’cuma, polusi ttp merajalela

trus ya, saya bingung, yg disarankan jalurnya dipndh itu jalur busway mulai dari lebak bulusnya atau darimana? saya sih krg setuju klo jln busway di pndh ke jl ciputat raya, abis di jln itu kan ga ada ‘tmpt2 yg menarik’, seinget saya cm ada sekolahan2 aja de, bknnya itu nantinya akan lbh m’ganggu kegiatan bljr mrk?kan sklhnya bnyk yg di pinggir jln..
klo lwt jl Iskandar Muda kan kita bs lgsg trn di PIM atau di kawasan Metro-nya, mnrt saya sih lbh strategis.. uda gt klo mo kemana2 nntinya akan jd lbh gmpg.. mnrt saya, busway justru menguntungkan org2 yg lingkungan tglnya dkt sama halte busway, kan jd cpt&ga bngg mo kemana, nnt klo bisnya uda jd, dr PIM bs lgsg ke Mangga Dua dong? mskpn nymbg2 tp lbh enak drpd naek bis biasa, bs ‘seabad’ lmnya (b’lbhn lg y?:)
terus ya, mnrt saya, program busway tdk akan b’hsl klo ga ada krjsama antra pmrth ama warga, liat aja.. busway ttp mct knp?
kekrgan armada (urusan pmrth), b
nyk kendaraan pribadi baik mtr maupun mbl yg maen ambil jalur busway (kslhn sapa?),
polisi yg nyuekin aja (urusan mental dan pembenahan oleh pmrth, tp ya klo polisi nyuekkin qt blh gt ngelanggar aturan? apa klo ada pls nkl qt jg mst ikutan nkl?),
bnyknya org yg lbh memlh naek kendaraan pribadi drpd busway m’buat jlnn di sktr busway mct (knp yg dislhin busway?emang klo ga ada busway ga mct?mnrt saya si ga ada busway ttp bnyk org yg bl mbl br dan bkn jlnn mct, ga t’lalu ngaruh, tp jgn mnt data statistik ya, ini kan cm mnrt saya)
ini sekali lg menrt saya, jlnn mct di jkt itu bkn dikarenakan busway saja, coba smua org mematuhi aturan2 yg ada dgn bnr, mslnya aja three in one, itu kan jg bs ngrgin mct, klo 1 org 1 mbl, di jkt ada brp org yg pny mbl? itung sndri d.. bnyk bgt kynya.. blm ditmbh mtr.. blm di tmbh org luar.. mknya mndg org2 pndh naek kendaraan umu aja, sejauh ini si yg plg nyaman ya busway.. klo prl sumbangin saran dan bantuin pengawasan dan pembangunannya, klo mo nyumbang duit mah terserah, tapi saya mah ga pny..

segitu aja, saya cm ga thn ga ikutan b’komentar di sini, abis diskusinya seru bgt! tapi secara keslrhn saya lbh m’dkg busway PI, kan jd gmpg klo mo kllg jkt, tgl blg “naek busway aja”

56. jalansutera - October 1, 2007

#55 tika
sy lbh sk jk anda kmntr di sn tnp sgktn shg mdh dibc olh smua org. hahahaha… nice comment..

57. zal - October 2, 2007

Busway.. hmm, sebenernya yang jadi masalah utama adalah solusi transportasi yang kalo jaman kuliah saya dulu disebut sustainable transportation, jadi ga bakal bisa instant gitu, hasilnya juga ga bakal bisa langsung dinikmati,saya inget ada beberapa metode yang lazim di terapkan, kaya misalnya pricing, di jalan di terapkan pricing dan hasilnya di peruntukkan buat perkembangan transportasi itu sendiri, tapi ini indonesia bung, siapa yang bisa jamin dana itu ga diperuntukkan untuk selain kepentingan transportasi, dan saya bisa pastikan, kalopun d terapkan pricing tersebut, pasti efeknya kaya three in one, macet di tempat lain. Kalau menurut saya sih kebijakan kebijakan transportasi sekarang itu ya yang penting kembali ke hirarki transportasi itu sendiri, -pergerakan manusia- bukan pergerakan mobil, tapi menahan atau mempersulit kepemilikan atau penggunaan mobil juga dilema, mengurangi pemasukan pajak pastinya, kalo busway dipaksakan melalui PI dengan kondisi jalan cuma tersedia 2 lajur kayanya nekat deh, emang hal itu ga ada studinya ya? kerja Dewan Transportasi Jakarta (yang ketuanya dulu pembimbing skripsi saya :D) ngapain ya..?? ga takut terjadi kaya koridor kampung, (kp. rambutan-kp. melayu). solusi yang fantastis ya Monorail Itu bener MRT (mass Rapid transportation ) yang menghindari persimpangan sebidang, jadi emang ngurangi kemacetan dan menampung banyak penumpang.

58. Andrew - October 6, 2007

Busway rupanya menjadi pembicaraan hangat saat ini dan pada umumnya banyak yang mempermasalahkan dampak kematian (status melebihi macet) lalu lintas arena memang dampak inilah yang apling dirasakan oleh seluruh masyarakay.
Namun sebenarnya adapula pihak-pihak yang samapai saat ini lupa atau belum disebut. Salah satu pihak yang sering terabaikan dalam hal busway adalah pengusaha/pemilik angkutan umum bus reguler sepeti metromini, kopaja dsb yang sebelumnya melintas di jalur busway. Pernahkah ada yang terpikir bagaimana nasib para sopir dan pengusaha yang sebelumnya melayani jalur-jalur busway?
Well anyway kalau Jakarta membutuhkan angkutan massal itu sudah pasti namun apakah busway merupakan bentuk solusi yang paling tepat itu dapat diperdebatkan. Tapi dilain pihak perlu dipikirkan pula bentuk apa yang cocok? Subway dan Monorail merupakan ide yang baik namun dari segi teknis pembangunan dan pemeliharaan menurut saya masih teralu rumit untuk bangsa Indonesia. Saya bukannya tidak bangga menjadi orang Indonesia tapi sejujurnya memang begitu kan?

59. zal - October 6, 2007

#58
..Subway dan Monorail merupakan ide yang baik namun dari segi teknis pembangunan dan pemeliharaan menurut saya masih teralu rumit untuk bangsa Indonesia..
ya , mungkin gitu kali ya, makanya saya bilang itu solusi fantastis untuk kemacetan, mengingat mnghindari persimpangan sebidang dan menganngkut cukup banyak orang, dan teknis pembangunan sih, kalo infrastruktur nya saya yakin indonesia bisa, (masalahnya sesuai spesifikasi gak ntar bangunnya?)toh kalo memang belum bisa bangunnya kita bisa JO (Join Operation) dengan kontraktor mancanegara yang memang mampu, saya bangga jadi orang Indonesia bung, di kantor saya banyak orang filipin, Amerika dan Jepang, tapi bangsa kita gak kalah tuh jago nya, cuma… yang kadang ga bikin bangga ya mentalitas nya itu.., loh kok jadi OOT he3x

60. Sujatmiko - October 6, 2007

@avianto :
Ya amplop, maksud saya ngejawab dari perspektif yang berbeda, gitu aja ko repot.

Dimanfaatin habis habisan maksudnya :
- Lebih Nyaman dan Cepet, kalo ga percaya silahkan coba. BESAR harapan anda sudah pernah naik Kopaja/PPD/Mayasari bakti.
- Lebih Aman, kalo ga percaya silahkan coba. BESAR harapan anda sudah pernah naik Kopaja/mayasari bakti/PPD di daerah cililitan, senen, tanjung priuk, cawang/UKI, dan prapatan coca cola !
- Ga ada alternatif lain, nah kalo udah nyobain keduanya baru deh bisa nyimpulin sendiri apakah ada alternatif lain ? Ada sih taxi (mungkin kebanyakan orang PI afford nih heheh)

“Ga ada alternatif lain yang lebih baik”, justru itu pak pernyataan ini timbul karena pemerintah bikinin alternatif yang jauh lebih baik buat warga Jakarta. Betul apa bener ?

61. Sujatmiko - October 6, 2007

@avianto

Ya saya ngerti ko pak, ujung2nya kan gimana caranya supaya Busway nggak jadi dibangun lewat situ.

Trus katanya tadi serba salah, terutama tentang “alternatif”, lalu alternatifnya apa y ?

62. avianto - October 7, 2007

@Sujatmiko: Pertanyaan anda sudah dijawab oleh saya di komentar-komentar sebelumnya. Termasuk jawaban soal ‘alternatif’. Silakan dibaca sendiri ya. Kalau mau dan tidak malas sih :).

63. Sujatmiko - October 7, 2007

Yang pengalihan bus wae ke jalan ciputat raya ? Waduh kurang strategis tuh, lagian juga akan sama banyaknya pohon yang di tebang! Routenya jg terlalu muter2 kayak mikrolet, tidak sesuai dengan visi mis buswae, “CEPAT”.

Saya juga secara tidak langsung sudah menjawab asumsi2 bapak ko tentang bus wae yang menurut bapak intinya tidak banyak membantu soal masalah di jakarta. Asumsi yang mana ? liat aja sendiri postingan bapak yang lalu, kalau mau dan tidak malas sih. :D .

Jakarta itu butuh mobilisasi orang pak, bukan mobilisasi mobil/motor. Kapasitas jalanan sama mobil/motor nggak bakalan bisa ketemu. Dengan adanya bus wae paling tidak membantu mobilisasi orang bisa jauh lebih banyak. Betul apa benar ?

64. Sujatmiko - October 7, 2007

@avianto:
Yang pengalihan bus wae ke jalan ciputat raya ? Waduh kurang strategis tuh, lagian juga akan sama banyaknya pohon yang di tebang! Routenya jg terlalu muter2 kayak mikrolet, tidak sesuai dengan visi mis buswae, “CEPAT”.

Saya juga secara tidak langsung sudah menjawab asumsi2 bapak ko tentang bus wae yang menurut bapak intinya tidak banyak membantu soal masalah di jakarta. Asumsi yang mana ? liat aja sendiri postingan bapak yang lalu, kalau mau dan tidak malas sih. :D .

Jakarta itu butuh mobilisasi orang pak, bukan mobilisasi mobil/motor. Kapasitas jalanan sama mobil/motor nggak bakalan bisa ketemu. Dengan adanya bus wae paling tidak membantu mobilisasi orang bisa jauh lebih banyak. Betul apa benar ?

65. avianto - October 7, 2007

@Sujatmiko:
Anda tahu kurang strategis bagaimana? Pohon yang ditebang akan sama banyaknya darimana? Apakah anda sudah melakukan studi perbandingan secara ilmiah? Atau sekedar ‘betul apa benar’ ala anda?

Kita bicara fasilitas umum loh, fungsi transportasi, kepentingan orang banyak. Memang metode yang dipakai di kota ini adalah, bangun dulu, masalah yang timbul lihat belakangan (contoh koridor I yang sekarang dibongkar lagi karena ternyata jalannya tidak kuat untuk menahan beban busway – coba dari awal diperkeras kan tidak perlu kerja dua kali…). Contoh lagi mesin pembaca kartu multitrip di halte Al Azhar dan Setiabudi yang mati selama nyaris sebulan tanpa ada informasi kapan diperbaiki? Yang sudah ada tidak dirawat tapi ngotot mau bangun yang baru? Apa memang seperti itu maunya?

Setuju kalau Jakarta butuh mobilisasi orang – justru itu apakah busway memang jalan keluar yang sesuai? 80 orang per bus, mobilisasi untuk 10 juta orang (asumsi pengguna jalan raya = 5 juta orang deh). Perlu berapa bus jadinya? Jalan busway memang telah ada, tapi apakah busnya telah siap jumlahnya? Akhirnya yang terjadi adalah jalur kosong tidak berguna sementara jalur lain terhambat. Bus bukan “Mass Rapid Transport”, padahal yang dibutuhkan Jakarta adalah sesuatu yang “MASS”. Pertanyaan sederhana, seandainya semua orang Jakarta berhenti naik kendaraan pribadi satu hari saja, apakah busway sebagai sarana transportasi telah siap?

Btw, jawaban anda atas asumsi saya semuanya berdasarkan ‘perasaan’ :). Terus terang kalau mengambil keputusan untuk publik serta menjalankannya demi kepentingan publik dengan mengandalkan ‘perasaan’…

Oh iya, anda bilang lebih nyaman, cepat dan aman? Ah, berdesak-desakan seperti sarden bersama puluhan orang lain di halte busway yang tidak manusiawi, menunggu bus yang jumlahnya sedikit itu selama 1 jam dan copet serta pelaku ‘sexual harassment’ yang berkeliaran di dalam bus tampaknya masuk ke kategori nyaman, cepat dan aman anda ya? ;)

66. abdeee - October 9, 2007

mas avianto kalo boleh tau profesi & pendidikan terakhirnya apa sih? nggaaaa’…cuman penasaran doank kok, kayanya ‘play maker’ deh diruang debat ini, pinteeer banget nyari celah buat nyeplosin bola ke gawang…plok…plok…plok…(applaus dr saya).
upssss…sabarrrr…jangan sewot dulu nanya-nya sampe ke mslh pribadi yg ga ada hubungannya sama buswae (kali2 aja ada komentator disini yang bisa menghubung2-kan?), cuman pengen tau sahaja gitu loh…

ngga’ sreg juga kalo ga ngasi solusi,
buat pemda solusinya gini:
- buswaiy jalan truuuus, di PI ataw dimanapun dengen syarat jalan diperlebar dan buat jalan 2 lantai ataw lebih untuk meminimalisir kemacetan dipersimpangan akibat lampu merah (kalo saya lihat, biang keladi terbesar kemacetan-selain banyaknya kendaraan pribadi- adalah lampu merah;
- buat jalur khusus sepeda, sepeda motor, jangan dicampur sama kendaraan umum n mobil pribadi
- trotoar dibuat selebar mungkin yang diteduhi pepohonan rindang biar pejalan ga kepanasan plus sehat;
- pemda jangan beri izin lagi pembangunan di ruang kosong yang belum hijau, mending dibeli tuh lahan trus ditanami pohon…jadi hutan/taman kota deh;

pengennya sih gitu, tapi pemda dapat duit dari mana buat the above solutions?

67. Reza - October 17, 2007

saya tinggal di PI dan saya rasakan sendiri dari hari ke hari kemacetan semakin parah dan tidak memandang apakah itu weekdays or weekend.Saya mendukung 101% busway sebagai salah satu solusi mengatasi problem transportasi makro di jakarta ini.
saya setuju dengan pendapat yang menyatakan agar jalan utama PI itu ditutup saja untuk umum dan silahkan lewat jalan pondok pinang (yang merupakan jalan yang sebenar-benarnya) atau alternatif lainnya hal ini berdasarkan kenyataan historis bahwa atas kerelaan warga PI sendiri yang mempersilahkan jalan utama PI itu dibuka untuk umum (saat itu). saat ini, daripada menghabiskan uang rakyat untuk amdal dan segala birokrasi lainnya yang memusingkan dan belum pasti menyelesaikan masalah) maka jikalau internal PI sendiri diadakan survey untuk warganya, maka saya memilih untuk menutup jalan tersebut untuk umum. Maaf, mungkin ini terdengar sedikit arogan namun, apakah ada solusi singkat yang lebih baik? asumsi saya, macet memang dimana-mana, hal tersebut tergantung kita saja, apakah kita dapat bangun lebih pagi dan berangkat lebih pagi dari biasanya dan saya lebih setuju untuk peremajaan transportasi kota yang ada saat ini menjadi yang memadai dan nyaman.

damai selalu.

68. Henry - October 18, 2007

wah………..wah………wah…….

Proyek terus ya…………..

duit yg masuk kantong ngalir trs donk……..

dasar… oarng pinter ma orang atas ga mw rugi…

Yang punya rencana ini orang ga waras ya…!!!!!!

klw mau bikin proyek ya survei dulu jangan ambil enaknya aja…liat apa yang akan terjadi…….

69. cleopatra - October 22, 2007

setuju busway dibangun disemua ruas jalan termasuk PI, dengan syarat:

1. buat 2 kelas busway, ekonomis dan executive
2. executif tarif 5-10x ekonomis
3. executiv diberikan bus mewah, layanan, kenyamanan dan keamanan.

pasti banyak orang kaya naik busway dan membiarkan mobilnya digarasi. karena aman nyaman dan tidak bercampur baur dengan kelas ekonomi.

ps. saya adalah pengguna kendaraan pribadi yang tidak mau naek busway karena kumuh, bau dan penuh sesak.

70. dono - October 23, 2007

Ya beginilah kalau tipikal proyek ngejar ” setoran”. Lihat aja di bidakara,gatot subroto jalan tinggal 1(satu) jalur gara2 diembat jalur busway. Enak aja Sutiyoso ..sekarang, ninggalin bom waktu. Jadi gubernur aja arogan..jangan sampai jadi Presiden!!!

71. Muhammad - October 23, 2007

Setuju aja lah!

PI kawasan orang “kaya”, kalo gak di kasih BUSWAY alasan apa yang dipakai untuk menyimpan mobilnya digarasi.

Mending dikasih busway biar jalan tambah macet jadi ada alasan yang lebih baik buat orang “kaya” naik busway di PI. Mungkin gak perlu dipaksa lagi!

Kalo “kaya” biasanya punya mobil lebih dari satu. Misalnya punya dua saja, yang satu simpan di garasi rumah satunya lagi di garasi kantor.

72. dono - October 28, 2007

Program Busway tdk menyelesaikan kemacetan Jakarta. Disiplinkan dulu pengguna jalan, terutama motor dan angkutan umum seperti metromini dan sejenisnya.

73. PW - October 30, 2007

hmmm…busway yang melintasi pondok indah? setuju banget tuh! saya bukan warga pondok indah sih.. tp coba deh lihat dari segi pembangunannya.. lumayan kan bisa mengurangi polusi walaupun hanya sedikit.. maksudnya bisa aja dong yang tadinya selalu bawa mobil kalo kmn2 dan sekarang ada busway pasti akan beralih ke busway! saya punya mobil di rumah dan berusaha untuk menggunakan busway kalo pergi kerja,karena? cepat,lumayan nyaman (walaupun masih suka ngantri n jarang dapet tempat duduk), dan ekonomis! so..kalau dilihat dari segi masalah lingkungan? makanya sebaik mungkin kita pergunakan transportasi umum yang ada untuk mengurangi polusi dari asap kendaraan bermotor.. masalah penghijauan, ini masalah yang agak rumit! saya juga pecinta lingkungan, mungkin solusi untuk itu yah harus ada yang ngalah.. kalau menurut saya, masalah yang menyangkut hidup orang banyak lebih penting yaitu para pengguna busway yang rela desek2an! oke, polusi, banjir,etc.. tapi ada atau gak ada busway pasti tetep banjir kan? n yang gak setuju sama busway karena alasan lingkungan dan penghijauan… apakah smua udah buang sampah pada tempatnya?? (karena masiiih banyakkk banget yang buang sampah sembarangan…), udah meminimalisir penggunaan AC di rumah?? (inget ozon yang makin tipis??? global warming?), trus pengguna kendaraan pribadi…(asap knalpot karbon monoksida? racun lainnya?)saya juga pengguna kendaran pribadi..tapi karena emang belum ada aja public transportation yang menunjang selain busway yang rutenya terbatas…sooo…saya sangat setuju dengan pembangunan busway ini! :D

74. Rob - October 31, 2007

segi pembangunan ? bukannya kalo macet dengan mobil bertumpuk2 membuat polusi bertambah ? apakah dengan adanya busway melewati Jl. Metro Pondok Indah kemacetan tidak berpindah ke jalan2 seperti Fatmawati, Terogong, Veteran ? Sedangkan sudah terbukti oleh penelitian ahli2 kalau biang kemacetan ada di Jl. MPI .

Alasan kenapa pemprov DKI berpindah dari RENCANA AWAL yaitu melewati Jl. Ciputat Raya (Pondok Pinang) adalah(seperti tersebut dinas PU dalam pertemuan dg warga Pondok Indah) bahwa tidak ada dana.

Terlepas dr masalah apapun yg ada dan bakal terjadi di Koridor VIII, apakah ini yang kita mau ? Pemerintah yang mencoba2, mengabaikan UU, bahwa masyarakat yg terlibat langsung dengan proyek harus dilibatkan dalam pembuatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) (UU No. 23 Th. 1997, Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Apakah ini tidak sama dengan penyalahgunaan wewenang ? Bahwa mereka merasa di atas hukum ?

Pemikiran dangkal kalau menganggapi pernyataan bahwa warga Pondok Indah adalah orang2 kaya, tak pernah kena banjir (buktinya hujan minggu ini sudah menyebabkan banjir luapan kali juga), yang egois. Jangan mau termakan ucapan2 itu yang berbau kampanye pribadi untuk jabatan yg lebih tinggi.

75. PW - October 31, 2007

oleh karena itu.. warga yang bepergian biasanya menggunakan kendaraan pribadi beralih menggunakan public transportation, which is BUSWAY.. tentu dong dari segi pembangunan membantu bertambahnya infrastruktur di jakarta kita tercinta ini..
FYI, jalan fatmawati, veteran dan terogong sekarang juga sudah macet sekali.. saya lewat jalan2 tersebut hampir setiap hari..
warga Pondok Indah bukan warga egois kok atau yang seperti dibilang kaum elite lah, dsb. saya cukup paham dengan terganggunya warga PI karna pembangunan busway yang dinilai merugikan lingkungan.. tapi, apakah memang warga PI peduli lingkungan? dan apakah warga PI tidak melihat dari segi kebutuhan orang yang naik busway tiap hari? yang butuh transportasi layak tiap hari untuk kerja atau sekedar bepergian?
emang sih selalu ada pro dan kontranya, kalau saya sih berusaha untuk objektif aja! menurut saya solusi kemacetan jakarta yang makin parah yakni, tersedianya sarana transportasi yang layak,ekonomis, dan aman.. thats all..

76. dono - October 31, 2007

Hebatnya program busway…Mau tahu?! Kalau tdk ada program semacam ini, menurut Sutiyoso akan terjadi kemacetan massal th 2014. Lha, kalau program ini di jalankan secara konsiten maka kemacetan massal akan tejadi 2009. Hebat khan jadi..lebih cepat 5 (lima) tahun..

77. Rob - October 31, 2007

Terus kalo sekarang sudah macet, nantinya tidak bisa menjadi lebih macet. Selama ini yang saya tahu dan mendengar dari orang2 yg beralih dari kendaraan roda empat adalah kalau mereka berpindah ke kendaraan roda dua.
Ide dasar untuk mengurangi kemacetan & mengajak orang untuk naik transportasi umum memang bagus, tapi mengapa angkutan umum yang lain tidak dibenahi dulu ?
Yang diminta pertama adalah kesadaran pemprov DKI untuk mengikutsertakan warga dalam pembuatan amdal, ok kalau selama ini tetap berjalan (I-VII)tanpa amdal bukan berarti warga selalu setuju, tapi kadang mungkin tidak mengerti, kadang tidak perduli, kadang tahu kalau tak mau didengar.
Ada ga sih yang mikir kenapa mereka berpindah dari rencana awal untuk lewat Jl. Ciputat Raya (Pondok Pinang) yang notabene warganya meminta busway untuk lewat situ ? Kenapa mereka mengejar target bulan December untuk 3 koridor padahal tahu kemacetan parah bakal terjadi ?
Saya juga suka memakai busway, tapi kadang saya berpikir, sementara angkutan2 yg lain masih berantakan, PPD, Bianglala, Steady Safe yang dianaktirikan, kita menambah lagi armada. Apa nasib busway kalau nanti thn 2010 proyek subway dimulai ?

Memang solusi harus dicari,tp apakah penerapannya harus seperti ini ? Selama ini yang saya tahu kalau rakyat dipaksa, akan jadinya berontak.

78. Muhajir - October 31, 2007

Koridor VIII lewat PI itu diantaranya karena di sana ada mall. Supaya warga, persetan bagi yang tidak punya duit, dapat dengan mudah berkunjung ke mall…”Kuantar Kau ke Mall…”

Saya tidak mengatakan kalau koridor VIII lewat PI itu permintaan pemilik mall loch…
Setahu saya, rencana awal pembangunan koridor busway itu tidak melewati PI, melainkan melewati jalan ciputat raya. Pasti ada penyebabnya, dan itu bukan karena, maaf, angin kentut…..

79. Igmeister - November 1, 2007

sekarang…halte halte mau di taro dimana? di jalan panjang ngga ada jembatan penyebrangan dan separatornya ngga ada yang lebar, trus kalo udah sampe di underpass yang baru selese, buswaynya mau lewat mana? masa jalan baru buat busway trus mobil pribadi lewat jalan lama yang sekarang tinggal 2 jalur, 1 jalur di tempat tertentu, di pasar jumat aja udah mulai dibangun tuh, pas di tengah lagi…yang bikin proyeknya kuliah dimana sih? bego bngt, ngga mikirin macet kaya apa….busway jadi solusi, plis deh, jalur PI kaya gini aja macet bngt, apalagi di kurang 1 jalur…

80. PW - November 2, 2007

yah..kita lihat saja dulu nanti akhirnya gimana.. mudah-mudahan yang terbaik!

81. dono - November 4, 2007

Keburu macet gak karu-karuan, kalau kita lihat aja nanti… STOP DULU DECH JALUR BUSWAY NYA! Lebih penting benahi kedisilipan pengguna jalan i.e. motor jalan di jalur sebelah kiri dan infrastruktur jalan; kendaraan umum gak sembarangan berhenti dan ngetem;adakan drainase utk jalan(ingat jalan menggenang gara2 hujan, jadi sumber kemacetan; jalan bolong2(kendaraan lambat; jadi bikin mace juga). Itu dulu dech… baru mikirin busway; truckway…way..way yang lain..

82. Rob - November 4, 2007

Pengamatan pribadi mulai hari ini (4 November 2007, 08:15) :

Ternyata mereka sudah melanggar rancangan mereka sendiri untuk membuat karpet merah (dan bukan lapisan beton tinggi) di jalan Metro Pondok Indah…
Selamat bermacet ria deh bagi para pemakai jalan yang kebanyakan bukan warga Pondok Indah juga, melainkan, warga Ciputat, Bintaro,Cinere, dll.

Kesian juga yah polisi yang terjun langsung menghadapi kemacetan cuman denger makian orang.

Dan soal rute yg dibelok2an atau lurus saja, ternyata mereka sepertinya juga akan membelok2kan rute busway. Jd dr Jl. Ciputat Raya (Lebak Bulus) yg sekarang setiap harinya sudah menjadi sumber kemacetan total di situ, busway bukannya lurus ke Jl. Ciputat Raya (Pondok Pinang), melainkan dibelokkan lagi ke Jl. TB Simatupang, untuk dibelokkan lagi ke Jl. Metro Pondok Indah.

Dasar orang2 sinting, bikin macet aja….

83. xx_85 - November 4, 2007

pemerintah indo bego..buta ya..ga liat jakarta ud mct bgt..tp maklum si mreka buta..abisnya pikirannya duit molo..kkn all d way de

84. PW - November 5, 2007

yah..begini lah yang namanya negara berkembang.. apa2 masih setengah2..dan pro kontra dimana2.. tapi kita kan harusnya mendukung..supaya jadi negara maju! negara maju aja yang mendukung pasti dari rakyatnya dulu kan.. jalan di metro pondok indah dari kemarin sebagian sdh menggunakan lapisan beton tinggi untuk jalur busway, tanpa menebang pohon palem2nya.. bener banget harusnya benahin transportasi yang lain dulu, benerin jalan yang bolong2, drainase, disiplin,dll.. tapi kan emang butuh proses.. satu2.. kita mau makan juga ada prosesnya kan.. beli bahan2nya, masak, ditambah bumbu, n gak langsung jadi lho! dicobain dulu ada yg kurang ga asinnya, manisnya, baru deh siap..
its all about the process..

85. dono - November 5, 2007

Kita dukung kalau memang program busway membawa dampak mengurangi kemacetan. Nyatanya …kemacetan bertambah makin paraaaaah.!

Inilah tololnya Pemda DKI, sudah ngluarin dana yang besar, malah menambah masalah.

Belum lagi tdk ada transparansi atas pelaksanaan tender-tender pembangunan jalur busway. Sementara duitnya dari kita juga lewat STNK,Pajak dst.

86. Eddy William - November 6, 2007

Sekarang kan Jakarta udah dipimpin sama AHLI nya
ya AHLI bikin MACET

Kan dulu Bang Yos pernah bilang kalo Busway dibangun biar para pengguna mobil pribadi bosen sama macet… (artinya Busway dibuat biar kemacetan di Jakarta bertambah parah, biar para pengguna kendaraan pribadi merasa bosan dgn macet)

Berarti skrg cita-cita Bang Yos udah tercapai kan?

87. dono - November 7, 2007

Yang jelas gara2 program busway, ‘bekal’nya Sutiyoso makin banyak .

Lumayan., biar mampus lu..pade kena macet, gua kampanye duluu..ah, buat nyalonin jadi Presiden. Ntar gua bikin jalur busway dari Sabang sampe merauke…

88. iwan - November 7, 2007

B = Butuh
U=Uang
S=Sutiyoso
W
A
Y

Caranya Si Sutiyoso cari duit !!!!

89. parno - November 9, 2007

konsep busway memang dari awal sudah merupaken ide sinting ‘daripada’ gubernur sinting. dari awal kekuasaannya, apa yang ‘beliau’ lakuken untuk ngurangin macet? coba lihat itu 3in1 – apa hasilnya? munculnya joki merupaken konsekuensi logis dari tidak adanya alternatif lain. eh, malah jokinya di-kejar2 dan disalahin. bukannya program dikaji ulang, dibenahin atau gimana gitu, eh malah ngeluncurin ide busway yang tidak kalah sintingnya.

satu, sistem busway yang dicontek dari negara lain itu mempunyai sistem feeder yang sudah disiapkan dengan baik. bagaimana dengan busway ala bang yos? apakah feedernya siap?

dua, berapa banyak pohon yang dikorbankan untuk busway? udara jakarta yang full debu dan polutan, seharusnya bisa ‘agak’ disejukkan dengan banyaknya pohon, eh malah dibabat abis.

tiga, berapa banyak daerah resapan yang berkurang gara2 busway? jakarta langganan banjir dan usaha2 yang dilakukan sekarang ini malah bukannya mengurangi kemungkinan banjir. (nyimpang sedikit: awal tahun 90-an, daerah karet antara kuningan dan sudirman itu masih banyak yang berupa hutan. sekarang? full-mall, full aspal dan full beton … he-he-he).

empat, apakah ada studi tentang hasil ‘daripada’ busway ini? apakah benar bisa mengurangi kemacetan? atau malah nambahin kemacetan?

lima, bagaimana dampak sosialnya? apakah yang suffer hanya golongan kaya, seperti yang disinyalir oleh beberapa blogger disini? bagaimana dengan sopir taksi, sopir bis kota yang trayeknya tegusur busway, sopir metromini yang pendapatannya berkurang gara2 jalan yang lebih macet sesudah busway? berapa banyak waktu yang terbuang dijalan?

enam, bagaimana dengan amdal? jalan yang tambah macet membuat mesin2 mobil, bus dll jadi lebih lama nyalanya. lha mesin yang nyala itu kan ada gas buangnya? berapa banyak tambahan gas buang gara2 busway? berapa banyak tambahan gas ini yang harus dihirup oleh orang2 jalanan? bagaimana dampak terhadap kesehatan mereka? yang kena siapa sekarang? orang kaya atau miskin?

jakarta udah macet berat, ngapain ‘pemerintah’ masih tega2nya nambahin siksaan buat warganya? kenapa rencana subway (metro) atau monorel yang relatif lebih ramah lingkungan ndak pernah bisa jalan? kenapa kok selalu ribuuuuut masalah tetek bengek yang bikin proyek metro ditunda? ditunda sampai kapan? nunggu sampe mobil ndak bisa jalan lagi?

90. sandit - November 21, 2007

weleh.. weleeh…
br ngeliat hr ini.. tp seru juga yah..

cm mw ngasi comment sedikit bwt avianto dan alexs aja nih..

bwt avianto :
ngomong terus masalah arogansi, tapi udah sadar belum sama komentar-komentarnya yang sangat menonjolkan kearogansian?!
Tapi tenang aja, untuk masalah pembuatan AMDAL dan lainnya yang berhubungan dengan lingkungan, coba deh kerjasama dengan LSM lingkungan dan mahasiswa Teknik lingkungan yang ada di Jakarta!!

Bwt alexs:
Bos.. Coba deh.. mendingan cari dulu deh arti kata proletar di kamus.. Artinya apa?? Kira2 bener gak tuh kalimatnya?? Cm mw ngasih cluenya nih.. Kalo memaksakan suatu kehendak tuh, perbuatannya siapa??
Itu perbuatannya kaum proletariat.. HEhehe.

Oia, satu lagi nih.. Kali ini gw setuju banget sm avianto.. Sampe kapan semua masalah kita selesaikan dengan anarkisme??


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>