Sutiyoso (dan Fauzi Bowo) Memaksaku Naik Kereta November 5, 2007
Posted by http://jalansutera.com™ in Blog.45 comments
Asemmmm!.. Lewat manapun macet cetttt!

Dulu, ketika pertama kali koridor Busway digelar di sepanjang Blok M menuju ke arah kota, terus terang saya memberikan acungan jempol kepada penggagas ide ini. Saya pikir, inilah saatnya wong cilik mendapatkan layanan transportasi yang manusiawi. Paling tidak Busway koridor pertama itu pada awalnya bersih, dan yang juga penting: adem.
Kemudian, ketika koridor berikutnya digelar, saya yang tinggal di Tangerang terkena imbasnya. Underpass di Tomang tidak bisa dilalui pada pagi hari dari arah Tangerang. Lalu lintas dari tempat saya tinggal jadi terhambat lampu pengatur lalu lintas. Underpass justru dipakai untuk mengalirkan kendaraan dari arah Harmoni menuju Tangerang, padahal jumlah mereka jauuuuh lebih sedikit dibanding yang dari arah Kebon Jeruk. Tapi, sudahlah. Saya mempunyai jalan alternatif lewat Jalan Panjang. Artinya, saya masih tetap memaklumi bahwa Busway ini untuk kepentingan orang buanyak.
Kini, ampun deh. Jalur Busway mengepung saya dari arah manapun. Lewat Tomang jelas macet total karena ada beton Busway di depan Rumah Sakit Harapan Kita. Kalau lewat Jalan Panjang, jalur saya dihambat oleh pembangunan lintasan Busway juga. Kali ini saya jadi misuh, mengutuk penggagas Busway yang membabi buta membangun lintasan ini tanpa memikirkan dampaknya bagi orang buanyak.
Benar, kali ini saya benar-benar marah. Semua jalur alternatif juga macet. Nggak heran kalau KOMPAS hari ini membuat headline yang keras: Jakarta Bakal Stagnan. Kiranya tidak perlu menunggu sampai tahun 2014 untuk membuat Jakarta macet total.
Bagaimana solusi saya? Kemungkinan besar saya akan mencoba naik KRL dari Tangerang ke Jakarta. Ini memang baru rencana karena saya sendiri belum pernah naik KRL. Ada yang tahu informasi KRL dari Tengerang ke Jakarta? Sutiyoso (dan Fauzi Bowo) memaksaku naik KRL setiap pagi. Terpaksalah mobil masuk garasi saja.
Gaya Blogger Mengomentari Komentar November 2, 2007
Posted by http://jalansutera.com™ in Blog.22 comments
Blogger punya aneka ragam gaya mengomentari komentar

Apa sih asyiknya ngeblog? Salah satunya tentu saja adalah fasilitas komentar yang ada pada aplikasi blog. Tidak ada satu pun blog engine yang tidak menyertakan fitur komentar. Bahkan, ketika dulu BlogSpot tidak mempunyai fasilitas komentar, orang mencari layanan di luar Blogspot untuk menambahkan fitur ini, misalnya adalah layanan dari HaloScan. Karena adanya fitur komentar inilah blog digolongkan sebagai aplikasi Web2.0 yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara blogger dengan pembacanya. Bahkan, sekarang antarpembaca pun sering berdialog juga di blog milik orang lain.
Nah, bagaimana gaya para blogger mengomentari komentar itu? Saya lihat gayanya bermacam-macam. Mari kita tilik beberapa gaya blogger dalam mengomentari komentar.
Priyadi, misalnya, selalu mengutip komentar yang ingin dikomentarinya. Sebelum itu, dia menyematkan tanda # diikuti nomor urutan komentar. Tidak ada penambahan huruf tebal atau huruf miring pada tanda # dan nomor urutan komentar itu. Nah, mengikuti kutipan itu, dia kemudian menempatkan komentarnya atas komentar itu. Priyadi juga seringkali mengomentari komentar secara rombongan. Yah, kita khan tahu kalau dia selalu panen komentar setiap kali ada entri yang baru.
Anjar Priandoyo lain lagi gayanya. Blogger yang sekarang sedang menantikan kelahiran anaknya ini mempunyai gaya tersendiri. Komentarnya atas komentar selalu ditempatkan tepat di bawah komentar. Konsekwensinya dia harus mengedit setiap komentar yang akan dikomentarinya. Cara ini nampaknya lebih repot sih, tapi rasanya perhatian yang diberikan pemilik blog terhadap komentar yang masuk sangat besar. Nah, untuk membedakan jawaban atas komentarnya dengan komentar itu sendiri, Anjar meletakkan namanya diikuti dengan komentarnya atas komentar itu. Hurufnya pun dibedakan, dia menggunakan huruf italics atawa huruf miring. Mendapat komentar atas komentar di situsnya Anjar serasa mendapat konsultasi gratis yang diberikan secara personal. Coba saja deh komentar di blognya…
Tika yang kebangetan ituh punya cara yang beda pula. Komentarnya atas komentar diberikan secara rombongan. Masing-masing komentar yang dikomentarinya tidak ada yang dikutip seperti halnya yang dilakukan Priyadi. Dia cukup meletakkan tanda @ diikuti nickname komentator dan kemudian dia menuliskan komentar atas komentar. Cara ini lebih mudah dilakukan karena dia juga sering panen komentar. Meski dengan gaya yang sedikit berbeda, cara seperti ini juga dilakukan Didats, blogger yang sekarang sedang menjadi juragan minyak di Kuwait. Cuma, Didats tidak menggunakan tanda @, tapi dia memakai tanda #
Yah, begitulah cara blogger mengomentari komentar yang masuk. Masing-masing blogger mempunyai cara dan ciri tersendiri untuk mengomentari komentar. Semua gaya itu keren, nggak ada yang wellek. Nah, bagaimana cara sampeyan mengomentari komentar yang masuk?


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.