Prajurit Keraton March 18, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.25 comments
Prajurit keraton merangkap pakar
Sekedar meramaikan suasana saja dengan ikutan posting foto prajurit keraton sekaligus yang katanya pakar yang tidak suka dengan blog.
Saya tidak tahu apakah foto ini asli atau tidak karena foto ini saya dapatkan dari blog abal-abal di sebelah sana. Anda sendiri mungkin sudah tahu pendapat pakar kita itu bahwa blogger adalah tukang tipu. Jadi, saya harap Anda melakukan verifikasi terhadap keaslian foto ini. Mungkin cuma 68% yang asli, sisanya palesu sahaja. Hati-hati!
Terus bagaimana cara mengecek apakah foto ini asli atau tidak? Satu-satunya cara ya dengan bertanya kepada seorang pakar metadata yang menjadi prajurit itu. Dialah satu-satunya sumber yang sahih yang mengetahui keaslian foto ini. Kepadanyalah kita harus berguru.
Hihihi…
Setengah Juta Spam di JalanSutera.com March 18, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.9 comments
Lima ratus ribu spam dilawan oleh tiga plugins
Pagi ini saya melihat statistik di dashboard blog abal-abal ini menunjukkan bahwa sudah lebih dari setengah juta spam yang ditangkal masuk ke dalam blog ini oleh Akismet. Jumlah tepatnya sampai sekitar pukul sembilan pagi adalah 508,387 spams. Saya tidak bisa membayangkan seandainya spam itu bisa menerobos masuk dan saya harus menghapusnya satu per satu. Ugh, betapa menyedihkannya dunia ini tanpa Akismet.
Sebagian besar dari spam itu adalah trackback spam. Sebenarnya bukan hanya jasa dari Akismet saja sehingga spam tidak bisa tembus ke JalanSutera.com. Ada dua buah plugins yang saya pasang, yaitu Math Comment Spam Protection dan Trackback Validator. Ketiga plugins itulah yang bahu membahu menangkal spam.
Berapa jumlah spam yang bisa ditangkal Akismet di blogmu? Saya akan menulis lagi statistik spam jika sudah ada minimal sejuta spam yang masuk perangkap.
Motor Mr. Flintstones March 18, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.8 comments
Sayangnya dia cuma bisa menurun, tanpa bisa menanjak.
Jika semua motor di Jakarta ini ramah seperti motor milik Mr Flinstone, tidak akan ada polusi yang menakutkan. Pemerintah juga tidak perlu menyediakan BBM berjuta kilo liter per tahun agar motor-motor itu bisa bergerak kencang. Tidak akan ada lagi jalanan yang berlobang di sana sini karena kelebihan beban (semoga juga kontraktor jalan tidak mengkorupsi dana perbaikan jalan dan semoga juga truk berbeban lebih dilarang beroperasi).
Alangkah indahnya Jakarta tanpa kebisingan kendaraan yang memekakkan telinga jika motor ini bisa beroperasi.
Sayangnya, ya sayangnya, kendaraan kreasi orang Baguio City di Filipina ini seakan cuma mimpi di siang bolong. Dia hanya bisa menuruni jalan, tanpa bisa menanjak ke atas jika tidak didorong. Sayang, ya….
Sumber: FotoThing.com
Tempat Memancing Alternatif bagi Nelayan March 17, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.9 comments
Memancing pun kini bisa dilakukan di jalanan tengah kota
Selama musim hujan ini pendapatan nelayan tradisional dari Muara Angke, Jakarta Utara, merosot tajam. Sekitar 50 persen kapal nelayan tidak melaut karena khawatir terhadap angin kencang dan ombak yang tingginy tiga meter lebih. Mereka memperkirakan akan rugi besar jika memaksakan diri melaut. Apalagi harga solar untuk mesin kapal juga sering menghilang dari pasaran. Tidak mengherankan jika nelayan harus membayar lebih mahal untuk seliter solar dibandingkan tahun lalu. Lengkaplah sudah penderitaan nelayan Muara Angke ini: angin besar, ombak tinggi, solar mahal, dan harga kebutuhan pokok membubung tinggi.
Tapi, kesedihan itu kini berubah jadi tawa riang manakala mereka tahu bahwa mencari ikan di Jakarta sekarang tidak hanya bisa dilakukan di laut saja. Sejak musim hujan ini, ikan-ikan ternyata banyak yang ngendon juga di genangan air di jalan protokol ibukota.
“Kami mengharapkan pemerintah daerah tidak cepat-cepat memperbaiki jalanan yang rusak ini. Kasihanilah kami para nelayan ini. Jika kami paksakan melaut, hanya kerugian yang akan kami dapat. Tapi, sejak kami bisa memancing di jalanan ini, kami bisa kembali mendapat penghasilan. Beras bisa kami beli meskipun itu hanya beras yang tidak bagus kualitasnya,” kata Karmin (45th) yang ditemui di sebuah genangan air di Kuningan, Jakarta, kemarin.
“Gubernur DKI memang benar-benar ahli menciptakan alternatif pekerjaan bagi kami. Ketika sang ahli itu tahu kami tidak bisa melaut, dia biarkan jalanan digenangi air supaya ikan bisa hidup. Kami sungguh-sungguh kagum kepadanya,” kata Karmin melanjutkan.
“Baru kali ini pemerintah daerah khusus ibukota ini mempunyai kepedulian yang tinggi kepada penderitaan rakyat miskin. Sekarang kami berharap dinas perikanan mendukung program gubernur ini. Kami mohon ikan-ikan disebarkan di seantero genangan air di Jakarta ini supaya bisa hidup dan kami bisa pancing untuk penghasilan sehari-hari,” kata Karmin yang mempunyai tiga orang anak kecil yang tiap hari harus diberi makan itu. (SP/HWX)
Mata dan Otak March 16, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.24 comments
Apa yang dilihat oleh mata tergantung pada otak
Teman saya mengatakan saya sedang melihat gambar porno ketika dia mengetahui saya menyimpan gambar di atas. Gambar itu dikatakannya sebagai gambar selangkangan. Tidak elok, katanya, mempertontonkan gambar seperti ini di kantor. Dia nampaknya serius sekali dengan komentarnya itu.
Saya cuma mesem saja ketika dia mengatakan hal itu. Dalam hati, saya mengambil kesimpulan bahwa kalau otaknya ngeres, gambar lampu pun bisa dianggap sebagai gambar selangkangan. Dasar otak porno! Hihihii…
Mitos-mitos Seputar Perawatan Bayi March 13, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.27 comments
Pokoknya mitos tidak bisa dilawan dengan logika!
Ternyata merawat seorang bayi tidak cukup hanya dengan cinta, logika dan pengetahuan semata. Ada hal lain yang harus diwaspadai: mitos! Terus terang saya memang bukanlah orang yang ahli merawat bayi. Makanya, saya banyak membaca buku-buku tentang kehamilan dan tentang perawatan bayi ketika si kecil masih dalam kandungan. Saya juga banyak mendapatkan informasi dari internet, referensi dari teman dan juga rekan kerja tentang bagaimana merawat seorang bayi yang baru lahir.
Namun, nampaknya itu semua belum cukup. Ada beberapa mitos yang mau tidak mau harus saya ikuti sekedar agar tidak terjadi pertengkaran antara menantu dan mertua. Saya sendiri menyadari bahwa latar belakang saya yang berasal dari Banyumas tentu saja berbeda dengan mertua yang berlatar belakang budaya dari seputaran Prambanan di sisi Timur Yogyakarta. Ini ibaratnya dua kutub yang didekatkan satu sama lain.
Mitos yang pertama ini saya ketahui ketika kami akan pulang dari Rumah Sakit pada hari Sabtu setelah tiga hari si kecil lahir. Saya pikir semuanya sudah beres, si kecil mulai beradaptasi, mamanya sudah kuat berjalan. Rencana pulang pada hari Sabtu yang cerah itu harus dibatalkan meskipun saya sudah mengurus administrasi di Rumah Sakit. “Tidak baik pulang dari Rumah Sakit pada hari Sabtu,” begitu kata istri saya menirukan perintah dari orang tua. Wah, kenapa tidak baik? Pokoknya tidak baik. Well, karena sudah ada kata pokoknya, saya pun nurut saja perintah itu meskipun hati kecil saya menganggap bahwa semua hari itu baik: Senin sampai Minggu semuanya baik tergantung pada niat kita. Saya mengalah saja, akhirnya kami pulang pada hari Minggu. Sepanjang hari Sabtu itu kami menginap di Rumah Sakit layaknya di hotel saja.
Sepulang dari rumah sakit, saya bermaksud merendam beberapa popok yang kotor. Air sudah saya siapkan. Sabun sudah akan saya masukkan ketika tiba-tiba ada larangan. “Jangan merendam baju bayi, nanti dia bisa masuk angin dan kedinginan,” kata mertua saya. Ketika ditanya mengapa seperti itu, jawabnya,”Pokoknya jangan direndam. Nanti langsung dicuci saja kalau sudah siap.” Well, lagi-lagi ada kata pokoknya yang menghalangi debat pendapat. Apa hubungannya antara perendaman baju dengan bayi kedinginan? Nggak ada, karena saya tidak mungkin memakaikan baju basah untuk anak saya. Tapi, begitulah adanya. Mitos tetaplah mitos. Dia tidak bisa disangkal dengan logika. Saya batalkan acara merendam baju bayi.
Nah, ketika sampai pada giliran mencuci baju bayi pun lagi-lagi ada aturannya. “Jangan memeras baju bayu dengan cara memelintirnya. Nanti bayimu suka menggeliat-geliat,” kata mertua saya. Kenapa? “Pokoknya jangan diperas seperti memeras baju orang tua. Peraslah baju bayi dengan mengepalkan tangan kuat-kuat, jangan dipelintir.” Lagi-lagi ada kata pokoknya yang menghalangi adu argumentasi. Untunglah mesin cuci bisa mengeringkan baju tanpa perlu memelintirnya saat memeras. Semoga mesin cuci itu tidak memelintir baju anak saya. Hahahaa…
Ketika si kecil akan tidur, saya diminta mencari gunting dan bawang lanang. Pasti Anda tidak tahu bawang lanang, khan? Ini adalah bawang putih yang isinya cuma satu siung saja. Di warung kemungkinan besar tidak ada. Saya bisa mendapatkannya di super market. Harganya belasan kali lipat daripada bawang putih seperti yang kita temui sehari-hari. Lalu, untuk apakah gunting dan bawang lanang itu ketika si kecil akan tidur. Konon, dua benda itu bisa mengusir roh jahat saat anak saya sedang tidur. Emang benar? “Pokoknya cari segera gunting dan bawang lanang. Setelah dapat, segera letakkan di bawah bantal anakmu!” Anda pasti tahu reaksi saya setelah mendengar kata pokoknya itu, khan?
Lucu juga, ya? Pernah ngalamin seperti ini juga?
ExtraBoss March 4, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.26 comments
Ini minuman paling ajaib di dunia

Istilah jongos sebenarnya terlalu kasar untuk diucapkan. Meskipun artinya adalah orang suruhan, konotasi kata jongos jauh lebih rendah daripada pesuruh. Kata ‘pesuruh’ itu sendiri harus dibedakan dengan kata ‘penyuruh.’ Yang pertama adalah orang yang disuruh(-suruh), sedangkan yang yang kedua adalah orang yang kerjaannya nyuruh(-nyuruh). Tidak ada orang yang ingin jadi orang yang kerjaannya disuruh-suruh. Orang penginnya mempunyai kekuasaan untuk memberikan perintah, memberikan instruksi kepada orang lain untuk mengerjakan apa yang dikehendakinya.
Makanya, jika memang benar ada ExtraBoss yang bisa mengubah seorang jongos menjadi seorang boss hanya dengan meminum ramuan itu, alangkah indahnya dunia ini. Saya yakin racikan ini akan menjadi minuman yang paling digemari di seantero jagad.
Tapi, kalau semua orang jadi boss, siapa dong yang jadi jongos? Siapa yang akan membelikan makan siang boss ketika semua orang sudah menjadi boss? Siapa yang akan ngelap sepatu boss tatkala semua jongos naik kelas jadi boss?
Update: Foto yang saya dapatkan dari kiriman email seorang rekan yang ngantor di bilangan Sudirman ini ternyata adalah karya seorang blogger dari Kendari yang bernama Arham. Silakan kunjungi blognya yang ada dua buah itu.


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.