Minal Aidin Wal Faizin yang Tidak ada dalam Budaya Arab September 25, 2008
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.trackback
Kata-kata ini berasal dari Bahasa Arab, tapi tidak dikenal dalam budaya Arab.

Lebaran hampir tiba, beberapa hari lagi akan dirayakan. Frasa yang akan banyak diucapkan orang di hari kemenangan ini adalah Minal Aidin Wal Faizin. Seringkali frasa berbahasa Arab ini diikuti dengan frasa berbahasa Indonesia: maaf lahir dan batin. Orang mengucapkan dua frasa ini biasanya sambil menyorongkan tangan untuk bersalaman. SMS pun akan banyak mengutip frasa ini. Bahkan iklan di media cetak dan televisi juga menampilkan rangkaian kata ini. Seringkali pula tulisan berhuruf latin ini dibikin sedemikian rupa sehingga menyerupai kaligrafi huruf Arab.
Tapi, tahukah Anda bahwa frasa Minal Aidin Wal Faizin itu tidak dikenal dalam budaya Arab?
Saya baru saja membaca buku berjudul Bahasa! terbitan TEMPO. Di halaman 177 buku ini, Qaris Tajudin mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin “berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen.” Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam lema kata per kata.
(Copy artikel berjudul Halal bi Halal oleh Qaris Tajudin itu bisa dibaca di halaman blog ini)
Lalu, apa arti Minal Aidin Wal Faizin? Terjemahan frasa ini adalah: dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Mungkin maksud lengkapnya adalah:”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Tuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).” Oh, saya baru tahu sekarang bahwa Minal Aidin Wal Faizin itu artinya bukan “maaf lahir dan batin”.
Demikianlah salah satu keunikan lebaran di Indonesia. Selamat menanti datangnya hari lebaran.


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.
Konon lebaran di luar negeri juga tak seheboh mudiknya kita di negeri ini.
Selamat untuk semuanya…
the best Indonesia
katanya yg ada di sana adalah taqabalallahu minna wa minkum..
budaya halal bihalal juga adanya di Indonesia :D
kalo di arab lebih merih Iduk adha kareana saat itu semua pesta daging dibandingkan idulfitri
halal bil halal dah jd tradisi kita, eh minal minul ya mas… met menunggu lebaran
@aria turns,
idul adha di arab (makkah) tidak meriah, yang ada itu sepi
semua orang mayoritas wukuf pada saat itu di arafah,
bahkan itu merupakan titik terendah pengunjung masjidil haram, saat itulah kabah dimandikan dan diganti sarungnya
mas, bukannya idul adha pas 10 dzulhijah? Kalau wuquf kan sehari sebelumnya?
jadi minal aidin adanya di endonesiah saja mas :)
Sebenarnya tak masalah boss, karena toh tidak semua harus berasal dari Arab, hehehe… Niatnya kan bagus. Kalau disebut bid’ah ya diserahkan pada orang yang mengerti dan ahlinya.
Contohnya, di Arab tidak ada Jamus Kalimasada yang terkenal di Jawa :-P
Meski demikian, kalau saya minal aidzin wal faidzin pada mas Puji gpp dong, soalnya suka ngeyel :-D
hehe, negara kita ini unik memang :D
Owh.. ternyata bukan mohon maaf lahir dan batin towh.. makasih infonya..
Indonesia memang beda, Selalu meng arabkan Islam. Tapi Oke juga budaya mudiknya berarti masih inget kampung halaman dan mempererat persaudaraan.
maaf lahir bathin deh..
kata2 mohon maaf lahir batin cuma ada di indonesia, kalau di malaysia, thailand, singapore, brunei, bilangnya zahir bathin..hehehe..teman2 foreigner saya sering terkejut kalau kita bilang minal aizin wal faizin pas lebaran, soale mereka gak tau, biasa cuma bilang eid mubarak, taqabbalallahu minna wa minkum, trus pulang deh ke rumah masing2, dianggap hari libur biasa, emang kalo di indo meriah banget ya lebaran…jadi pengen lebaran di indo…
Bid’ah itu untuk urusan ibadah. Kalo urusan ngasih selamat aja saya pikir gak ada masalah.
Aku gak iso mudhik mas puji….
memang sebenarnya, banyak kesalahan pengucapan “selamat lebaran” di Indonesia….
Assalamu’alaikum
Taqobbalallahu minna wa minkum lebih baik dibandingkan dengan Minal Aidin wal Faidzin, karena Taqobbalallahu minna wa minkum mengandung do’a buat saudara-saudara sesama muslim (artinya: Semoga Allah menerima amal kami dan amal Anda). Mau ngucapin Minal Aidin wal Faidzin ya boleh boleh saja selama gak dianggap bagian dari ajaran agama :)
Budaya imsak masuk kategori ini. Cek deh faktanya ;)
wah berarti artinya malah bagus dong, mendoakan orang lain ;)
Itu budaya orisinal Indonesia, dan kita harus bangga karenanya :)
arti Minal Aidin Wal Faizin? Terjemahan frasa ini adalah: dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Mungkin maksud lengkapnya adalah:”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Tuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).”
Kalau dilihat dari artinya seperti itu, maka bener juga ya kalau Minal Aidin Wal Faizin selalu diikuti kalimat : Maaaf Lahir Batin… jadi lengkap begitu.. :-)
cara orang indonesia dalam menyerap sebuah budaya mas, dimodifikasi dengan yang sudah ada..
Bahkan tradisi salam-salaman saling bermaaf2an pun hanya ada di Indonesia…
Tapi, memang inilah Indonesia. Negeri penuh keunikan
saya yakin banyak dari kita yg bangga indonesia punya budaya yang nggak dimiliki negara lain. tapi sayangnya, karena cuma ikut2an, kita jadi salah kaprah dalam memahami istilah2 tertentu.
menurut saya, isu2 seperti ini perlu diangkat terus menerus supaya menimbulkan public awarness. caranya? dibikin banner, mungkin.
jadi, ada yang mau bikinin? :)
@hendri (16)
Menurut saya Minal ‘aidin juga do’a, sama seperti taqoballallahu …
Sebagai doa, berarti keduanya sama – sama bagian dari agama. Apakah ada yang tahu dalil naqli (hadits) untuk ucapan taqobalallahu ?
Doa beda dengan sholat, bisa menggunakan redaksi apa saja dan bahasa apa saja selama kandungan isinya tidak bertentangan dengan ajaran agama.
@vavai (7), damian (13)
Apakah berdoa termasuk bid’ah ?
@kucingkeren(20)
Benar Minal ‘Aidin itu frasa yang terpotong dari sebuah doa lengkap, khas Indonesia, khususnya kalangan pesantren. Kalangan awam cuma kenal frasa akhirnya saja :-)
Kalau saya memilih keduanya, sehingga ucapan yang ada di kartu lebaran saya dulu (zaman belum umum SMS :-) kurang lebih demikian:
—————–
Ied Mubarrok
Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1429AH
Taqobbalallahu – minna – wa minkum – shiyamana – washiyamakum
Semoga Allah menerima – (amal) dari kami – dan (amal) dari kalian – (dan juga menerima) puasa kami – dan puasa kalian.
Ja’alanallahu – wa iyyakum – minal ‘aidin – wal fa’izin
Semoga Allah menjadikan kami – dan juga kalian – (termasuk) dari (golongan orang – orang) yang kembali (kepada fitrah) – dan yang menang (melawan hawa nafsu)
Mohon maaf Lahir Batin
—————–
Nah, ucapan yang tidak ada versi arabnya :-)
Iya sih, tapi kan kalau ada yang sudah dicontohkan oleh Muhammad SWA kenapa kita nggak ikutin?. Kadang2 para ustadz di Indonesia suka sekali menganggap suatu amalan selama itu baik boleh (bahkan dianjurkan) untuk diamalkan, meskipun jelas tidak pernah dicontohkan oleh Beliau.
Indonesia……Indonesia……..sukany nyleneh.
Gue lagi di arab nieee,
mudah-mudahan ga jadi ‘bang toyyib’ hikss………..
thanks infonya :)
wah, semoga menang dan kembali ke jalanNya…
Tentang ucapan hari raya Idul Fitri nih tak copas dari almanhaj:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka beliau menjawab [1] :
“Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied :
Taqabbalallahu minnaa wa minkum
“Artinya : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian”
Dan ( Ahaalallahu ‘alaika), dan sejenisnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan tetapi Imam Ahmad berkata : Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.[2]
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[3] :
“Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata :
“Artinya : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.
Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka
Imam Ahmad menyatakan : “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)” [4]
Adapun ucapan selamat : (Kullu ‘aamin wa antum bikhair) atau yang semisalnya seperti yang banyak dilakukan manusia, maka ini tertolak tidak diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah.
“Artinya : Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik.?”
[Disalin dari buku Ahkaamu Al Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, terbitan Pustaka Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]
_________
Foote Note
[1]. Majmu Al-Fatawa 24/253
[2]. Al Jalal As Suyuthi menyebutkan dalam risalahnya ” Wushul Al Amani bi Ushul At Tahani” beberapa atsar yang berasal lebih darisatu ulama Salaf, di dalamnya ada penyebutan ucapan selamat
[3]. Fathul Bari 2/446
[4]. Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam ‘Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan
ya iya lah masa’ ya iya dong.
duren aja dibelah bukan dibedong.
Budaya Arab pasti beda dengan budaya Indonesia, itu kehendak ALLAH.
Memang kalo masuk Indonesia jadinya nyeleneh,
saya ingin meminta maaf juga atas segala kekhilafan dan kekurangan baik secara langsung maupun tidak , karena sesungguhnya Allah SWT selalu punya hadiah untukmu saudaraku: sebuah cahaya untuk setiap kegelapan, sebuah rencana untuk setap hari esok, sebuah jalan keluar untuk setiap permasalahan, sebuah kebahagiaan untuk setiap kesedihan, tetap semangat, mengahadapi hidup, ALLAH SWT akan selalu bersama kita
Saat Wajah Tak Mampu Bersua & Saat Tangan Tak Mampu Menjabat,
Saat Lidah Salah Berucap & Bila Langkah Membekas Lara,
Bila Kata Salah Berucap & Bila Tingkah Menoreh Luka,
Hari Ini Izinkan Kedua Tangan Bersimpuh…
Memohon Maaf Atas Segala Salah & Khilafku,
Semoga Message Ini Mampu Mejembataninya,
“Taqqobalallahu Minna Waminkum,”
Minal Aidzin Wal Faidzin,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H
wassaalam wr wb
Info yang menarik…..
Mungkin itu ya, setelah ucapan Minal Aidin wal Faizin…terus ada tambahannya, mohon maaf lahir dan batin.
Berarti orang Indonesia kreatif???
:lol:
Saya juga baru tahu.
Selama ini persepsinya spt itu, apalagi jumlah katanya sama.
wah ternyata aku salah donk.. hehehehehe wah wah .. makasih infonya.. :P
@ anang–> minal minul itu apa? Ngece banget, ditimpuk fpi kapok lu.
Mohon maaf lahir dan batin
Dari:
http://iwanmalik.wordpress.com
nice info mas..
saya pikir ucapan ini tuh salah, makanya saya lebih sering make Taqaballahu mina wa minkum (salah gak ya..??)
Br tau nih…
emang budaya lebaran dan budaya mudik itu adanya hanya di Indonesia
kata-kata Minal Aidin Wal Faizin sebenarnya adalah kata sambutan bagi pasukan nabi muhammad setelah pulang dan menang dari perang badar.
dan memang benar kalau kata-kata Minal Aidin Wal Faizin tersebut tidak ada disejarah islam sebagai kata -kata menyambut atau ucapan selamat idul fitri kecuali di indonesia, akan tetapi kita juga harus was-was apabila kita melakukan ibadah tetapi ibadah tersebut tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh nabi Muhammad maka ditakutkan ibadah tersebut jatuhnya menjadi Bid’ah.
[...] Saya rasa Indonesia terlalu kaya akan tradisi unik, apalagi untuk merayakan berakhirnya bulan Ramadhan. Misalnya, tradisi mudik yang selalu bikin heboh tiap tahun, tradisi maaf-maafan, sampai keidentikannya dengan ketupat (saya ikutan memasang gambar ketupat di atas). Bahkan kata Minal Aidin Wal Faizin, yang biasa diucapkan saat lebaran, juga cuma ada di negeri ini. [...]
Waah .. Jadi yang tepat harusnya bilang apa dong? Kalau misalnya diganti, takutnya malah orang-orang gak ngerti dan bingung. Maklum … dah terbiasa walaupun (mungkin) salah.
Selamat merayakan Idul Fitri mas. Mohon maaf lahir dan batin ..
Saya sering sekali berkata kata yang tidak semuanya indah, kadang saya salah, mungkin riya, mungkin sedikit dusta … dan saya mohon untuk dimaafkan segala kesalahan saya yah :)
Minal aidin wal faidzin … maafkan saya lahir dan batin karena beginilah kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta maaf dan memberi maaf.
Rindu [a.k.a -Ade-]
[...] seiring gema takbir berkumandang. Budaya perayaan kemenangan Minal Aidin Wal Faizin ternyata ndak ada di arab sana, padahal notabennya arab adalah basis [...]
Yang menarik juga, banyak yang mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin dengan maksud meminta maaf lahir batin karena mengira arti ucapan itu demikian :)
Tahukah Anda bahwa ucapan-ucapan seperti Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faizin dan Taqobbalallhu Minna Wa Minkum bukanlah ucapan yang berasal dari Nabi Muhammad SAW?
Lihat di http://penamuslim.wordpress.com/2008/09/30/taqobbalallahu-minna-wa-minkum/
Yah…
Itulah typical masyarakat Indonesia… Banyak yang berucap tapi tak tahu makna/artinya…
Gara2 sistem pendidikan Indonesia yang hanya mengajarkan nilai2 Eksakta tanpa mengajarkan nilai2 moral….
Islam itu bukan Arab !!
Jadi kita gak mesti ngikutin budaya Arab !!
Yang mesti kita ikutin, jelas hanya Rasulullah SAW melalui warisan beliau buat kita (Al Qur’an & Sunnah) !!!
Titik !!!
Minal Aidin wal Faizin “Mohon maaf lahir & bathin”.
Selamat hari raya Idul fitri 1429 H.
Best regards:
http://riswandizone.blogspot.com
Selamat hari raya Idul fitri 1429 H.
MINAL AIDIN WAL FAIZIN : Mohon maaf lahir & Bathin.
Wassalam:
Yani bin Muski
Alamat: Kp.Tajur Rt.29/08
Desa.Ciracap-Kec.Ciracap-Kab.Sukabumi
Jawa barat 43176
Email: yanisunarti@aol.com
Bagi saya itu bukan hal negatif ko….
iia.. emang gtu,, minal aidzin ga ada sejarahnya..
emang unik ya indonesia..
wakaka
Halo,
Saya rasa mendoakan orang bukanlah bidah, menurut saya Minal Aidzin Wal Fa Idzin nilainya sama dengan kalau kita mendoakan orang lain untuk kebutuhan kebutuhan spesial. Seperti semoga naik kelas, semoga lulus ujian, semoga keterima di universitas negri.
Sekian dulu.
“Taqqobalallahu Minna Waminkum,”
Minal Aidzin Wal Faidzin,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H
BB
Bid’ah hanya untuk kategori ibadah..
selamat idul fitri dari irwandiaz.co.cc
thanks 4 infona yaaaa
setidaknya dengan tulisan abang kan kita jadi tau…… tapi ngelurusinnya gimana ya…. emang dah membudaya.
indonesia….indonesia…….
ah… minal adin walfaidzin juga deh kalo gitu…… (makananya kan baik)
:)
Mas. Begitulah orang indonesia. Aku sudah nulis tentang itu di sini. Mampir ya….biar tambah lucu ajah…
benar,
dalam sebuah riwayat, ALLAHU allamu bishawab,
yang benar,
para shahabat ketika dahulu mereka bertemu,
mereka saling mengucapkan “Taqabballallahu Min A Wa Minkum”
hanya itu,
jadi…yach ucapkan itu saja!!
:)
[...] Idul Fitri 2. Waspadailah Minal Aidin wal-Faizin! 3. Minal Aidin Wal Faizin yang Tidak ada dalam Budaya Arab 4. Minal Aidin wal Faizin – Mohon Maaf Lahir Batin 5. Makna Minal ‘Aidin wal Faidzin 6. [...]
apapun,,,
kita negara dengan penduduk muslim terbanyak,,namun sayang arti’y saja ta’kenal,,
tanya pada diri kita
sebenarnya ta’ hanya satu kalimat tu saja,,
namun penerapan syariah islam’y pun dianggap menyeramkan oleh sebagian besar penduduk msulimnya
sungguh luar biasa,,
ooowwhh,, baru tahuuu,,,,
[...] Idul Fitri 2. Waspadailah Minal Aidin wal-Faizin! 3. Minal Aidin Wal Faizin yang Tidak ada dalam Budaya Arab 4. Minal Aidin wal Faizin – Mohon Maaf Lahir Batin 5. Makna Minal ‘Aidin wal Faidzin 6. [...]
Ohhh gittuu…… infor menarik…
Mas Aditcenter, saya punya pendapat. ..
Jangan menyalahkan nilai2 eksakta untuk sebuah kesalahan typical masyarakat Indonesia.
Dua-duanya penting, nilai eksak dan nilai moral. Lagi pula nilai2 eksak kita juga masih kurang kok? Sehingga sebagian kita berfikir kurang rasional.
Ok, salam kenal dan sukses bersama.
Saya tidak sependapat bahwa minal aidin wal faizin tidak ada dalam budaya arab. Pada kenyataannya saya saat ini ada di Mekkah al mukarommah KSA rata-rata orang arab tahu juga pengucapan dan arti minal aidin wal faizin. Walaupun yang lebih banyak di ucapkan adalah ” kullu am enta bi khoir” ( atau pasarannya untuk TKI ” kullu sannah enta toyib ” ).La waktu saya ucapkan ” minal aidin wal faizin ” mereka juga tahu…la wong itu bahasa mereka. Kalau masalah budaya ya jelas beda. Arab negara kaya/petro dollar kalau gaya budaya mereka tidak berlebihan / berlebihan itu karena sistem pemerintahan yang jelas berbeda dengan indonesia. Arab kerajaan, indonesia demokrasi. Untuk perayaan hari raya idhul fitri dengan hari raya idhul ad’ha di Arab saya lihat sama meriahnya…kalau tidak percaya datang saja ke Arab…http://kluwan.wordpress.com
mas, kalau taqobblallahu minna wa min kum bagaimana ?
Taqobbalallohu minna wa minkum wa taqobbal yaa kariim,
Ngaturaken sedaya kalepatan, nyuwun agunging pangaksami
Mugi kito tansah pinaringan barokah, rahmah lan maghfiroh saking
ALLOH SWT.
Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal fa’izin.
Sugeng Riadin Idul Fitri 1429 H
Setahu saya, frase Minal aidzin wal faidzin ini memang produk asli orang Indonesia. Sepertinya kurang afdol kalau pas bersalaman tidak mengucapan ungkapan tersebut. Saya khawatir itu bisa jadi suatu hal yang dianggap sebagai bagian dari agama (?). Kalo yang saya tahu, konon Nabi Muhammad hanya mengajarkan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” ketika bersalam-salaman di hara fitri.
Wallahu a’lam bish shawwab!
tradisi Mudik masal juga cuma ada di negeri ini. >,<
[...] Akhir dari Ramadhan Saya rasa Indonesia terlalu kaya akan tradisi unik, apalagi untuk merayakan berakhirnya bulan Ramadhan. Misalnya, tradisi mudik yang selalu bikin heboh tiap tahun, tradisi maaf-maafan, sampai keidentikannya dengan ketupat. Bahkan kata Minal Aidin Wal Faizin, yang biasa diucapkan saat lebaran, juga cuma ada di negeri ini. [...]
assalamualaikum wr.wb
dalam hemat saya, rasanya kurang tepat untuk mengatakan bahwa “minal aidin walfaizin” tidak ada dalam budaya Arab, karena telah lama saya dan kawan-kawan bertempat tinggal baik dalam rangka menempuh pendidikan maupun kegiatan lainnya di tanah Arab dan Timur Tengah lainnya, masalah minal aidin walfaizin sama saja penggunaannya sebagaimana layaknya di negara2 yang berpenduduk muslim lainnya, jadi hendaknya dapat melihat lebih dalam dan dan lebih jauh sebelum mengatakan apa itu makna “minal aidin walfaizin” atau untuk lebih jauh lagi anda dapat melakukan croscheck atau sarch saja di Google.com, pasti insyaallah anda akan menemukan jawaban yang lebih lengkap.
karena itu dapat membuat makna islam menjadi kerdil alias terbonsai.
ini contoh kecil yang dapat anda lihat.
salam,
posting yang bermanfaat, sorry ngikut thread comment ini sebagai salam kenal… sy Agus Suhanto
hatur nuhun atas info nya, salam kenal….
intinya…minal ‘aidin wal fa idzin yang lebih dimaknai maaf lahir batin sebenarnya gak ada contohnya dari Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jadi minta maaf bisa kapan aja dan dimana aja.
Terimakasih pencerahannya oms
minal aidin wal faizin gapapa ah… karena maknanya adalah doa…
klo diikuti mohon maaf lahir batin, ini yang kadang suka disalah artikan, sehingga orang” itu mikirnya mohon maaf lahir dan batin, padahal kan bukan…..
tapi gw lebih prefer ngmg…
taqqabalallahu minna wa minkum….
Assalamu’alaikum,…Wr.Wb. Mungkin kata sedikt berubah makna, karena ucapan lisan dan arti yg agak berbeda. Itulah bukti Allah Maha kaya,….Yang lebih penting keikhlasan memaafkan dan meberanian meminta maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah selalu menuntun kita ke Jalan yang lurus yang benar yang di Ridhai Allah SWT, Amiin.
Allah maha tahu doa tiap hambanya meskipun bukan bhs arab, apalagi isyarat bg org yg tdk mampu bcr.
G masalah pake yg mana, ditambahi mhn maaf jg baik krn qt g tau kpn qt bbuat dosa pada org dkt qt. Puasa mhapus dosa qt pd Allah tp dosa sesama manusia dhapus jika ada kata maaf-memaafkan. Jadi sempurna khan? Mhn koreksi.
Alhadulillah ada yang ngasih tau.., terimakasih mas…
Alhamdulillah ada yang ngasih tau…, terimakasih mas….
The article is totally wrong. We have and use “Minal Aidin wal Faizin” in Arabic. It literally means “I hope you always celebrate this happy occassion and you will be from the winners”. “Aidin” is taken from the word Eid and means “Many returns of Eid”
Wah, baru tau saya.. ini beneran info yang mind blowing haha.. I’ll post link to this article in our blog. Thanks bro.
[...] gue baru baca di blognya Mas Pujiono yang menulis bahwa frasa minal aizin wal faizin tidak ada dalam budaya Arab dan artinya [...]
salam kenal..oke juga ulasannya
Bagaimana dengan do’a : semoga aja laris dagangan kita [bagi Para pedagang], semoga aja cepet dapat keturunan [tiap ada pengantin baru], dan berbagai versi do’a dengan bahasa bermacam..?
Kalau do’a mah dalam hati aja, Allah juga mendengarkan..
Ini bukti bahwa Indonesia memang Unik…
Dari http://religiusta.multiply.com/
Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?
*
Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
*
Mohon maaf lahir-bathin, minal ‘aidin wal faizin
*
Semoga kita dimaafkan minal ‘aidin wal faizin
*
Semoga kita minal ‘aidin wal faizin
*
Semua benar.
Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka?
‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses “pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya). Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il.
Kalau si Aidin, darimana? ‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.
*
‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi).
*
Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
*
‘audat = kembali (kata dasar)
*
‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
*
‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).
Kalau si Faizin?
Si Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya “sang pemenang”. Urutannya seperti ini:
*
Faaza = ia [telah] menang (past tense)
*
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
*
Fauzan = menang (kata dasar).
*
Fuz = menanglah! (fi’il amr/kata perintah)
*
Fa’iz = yang menang.
‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didahului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan “Minal Aidin wal Faizin”.
Lalu mengapa harus diawali dengan “min”?
“Min” artinya “dari”. Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya ‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.
Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:
Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah
Artinya: Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan permulaan tempat… dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.
Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian” (lit-tab’idh). Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG. Nah, pusing kan?
Tunggu dulu. Sabar, napa.
Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan “almarhum” yang artinya “yang dirahmati” (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan “semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat”.
Akan halnya dengan minal ‘aidin wal-faizin, ini juga doa: “Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. Amin.
Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.
Kesimpulannya?
Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Asal jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.
Akhirnya, semoga kita minal ‘aidin wal faizin. Amin!
# Taufik Munir
Assaalaamu`alaykum wa rahmatullahi wa barokaatuhu.
Afwan untuk ukhti Rita untk artikel akhi Taufik Munir, ana ada komentar dengan Makna Almarhum, yang anti artikan sebagai harapan kepada Allah `azza wa jalla agar di rahmati.
Sya yakin anta tahu makna Al ma`bud, yaitu yang di sembah. Almarhum maka artinya yang dirahmati. Sya meyakini bahwa Allah merahmati orang2 yang Dia kehendaki saja (tidak semua).
Sya sebutkan contoh yg wujud doa/harapan
kata jazaakallahu: semoga Allah mmbalasmu. Bagaimana dengan harapan agar di rahmati: cth: Rahimahullah: semoga Allah merohmatinya.
Perlu di ketahui, sebutan almarhum sekarang bukan hanya untk muslimin, tapi juga yg menyebutkan untuk org yg telah meninngal dari kaum kuffar. Wallahi, Untuk kaum muslimin saja kita tidak tahu siapa saja yang akan dirahmati Allah. Allahu a`lam
Oh gitu ya Mas, hehe. Baru tau saya, terima kasih atas informasinya. Juga yang comment pertama.
arab malaysia( ambank)
Artikelnya sangat menarik untuk menambah wawasan kita tentang budaya lebaran di Inonesia
Subhanallah, tak terasa sekarang sudah hampir Idul fitri lagi.. mari kita manfaatkan sisa romadhon yang ada untuk maksimal dalam beribadah, semoga kita mendapat kemuliaan lailatul qodr. amin
Kalo ngasih nama berbahasa/bernuansa Arab (padahal ada padanan kata Indonesianya) apa termasuk bid’ah juga ya? atau biar dikira beragama Islam kali ya?