<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Minal Aidin Wal Faizin yang Tidak ada dalam Budaya Arab</title>
	<atom:link href="http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/</link>
	<description>West Meets East</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 22:28:55 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>By: KillBill1</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22117</link>
		<dc:creator>KillBill1</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 06:18:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22117</guid>
		<description>Kalo ngasih nama berbahasa/bernuansa Arab (padahal ada padanan kata Indonesianya) apa termasuk bid&#039;ah juga ya? atau biar dikira beragama Islam kali ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo ngasih nama berbahasa/bernuansa Arab (padahal ada padanan kata Indonesianya) apa termasuk bid&#8217;ah juga ya? atau biar dikira beragama Islam kali ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yusuf Supriadi</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22041</link>
		<dc:creator>Yusuf Supriadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 04:41:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22041</guid>
		<description>Subhanallah, tak terasa sekarang sudah hampir Idul fitri lagi.. mari kita manfaatkan sisa romadhon yang ada untuk maksimal dalam beribadah, semoga kita mendapat kemuliaan lailatul qodr. amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Subhanallah, tak terasa sekarang sudah hampir Idul fitri lagi.. mari kita manfaatkan sisa romadhon yang ada untuk maksimal dalam beribadah, semoga kita mendapat kemuliaan lailatul qodr. amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: satria</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22025</link>
		<dc:creator>satria</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 09:04:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22025</guid>
		<description>Artikelnya sangat menarik untuk menambah wawasan kita tentang budaya lebaran di Inonesia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikelnya sangat menarik untuk menambah wawasan kita tentang budaya lebaran di Inonesia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mazhab</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-21179</link>
		<dc:creator>mazhab</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 12:13:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-21179</guid>
		<description>arab malaysia( ambank)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>arab malaysia( ambank)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: godi</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-20015</link>
		<dc:creator>godi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 03:09:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-20015</guid>
		<description>Assaalaamu`alaykum wa rahmatullahi wa barokaatuhu.

Afwan untuk ukhti Rita untk artikel akhi Taufik Munir, ana ada komentar dengan Makna Almarhum, yang anti artikan sebagai harapan kepada Allah `azza wa jalla agar di rahmati.
Sya yakin anta tahu makna Al ma`bud, yaitu yang di sembah. Almarhum maka artinya yang dirahmati. Sya meyakini bahwa Allah merahmati orang2 yang Dia kehendaki saja (tidak semua). 
Sya sebutkan contoh yg wujud doa/harapan
kata jazaakallahu: semoga Allah mmbalasmu. Bagaimana dengan harapan agar di rahmati: cth: Rahimahullah: semoga Allah merohmatinya.
Perlu di ketahui, sebutan almarhum sekarang bukan hanya untk muslimin, tapi juga yg menyebutkan untuk org yg telah meninngal dari kaum kuffar. Wallahi, Untuk kaum muslimin saja kita tidak tahu siapa saja yang akan dirahmati Allah. Allahu a`lam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assaalaamu`alaykum wa rahmatullahi wa barokaatuhu.</p>
<p>Afwan untuk ukhti Rita untk artikel akhi Taufik Munir, ana ada komentar dengan Makna Almarhum, yang anti artikan sebagai harapan kepada Allah `azza wa jalla agar di rahmati.<br />
Sya yakin anta tahu makna Al ma`bud, yaitu yang di sembah. Almarhum maka artinya yang dirahmati. Sya meyakini bahwa Allah merahmati orang2 yang Dia kehendaki saja (tidak semua).<br />
Sya sebutkan contoh yg wujud doa/harapan<br />
kata jazaakallahu: semoga Allah mmbalasmu. Bagaimana dengan harapan agar di rahmati: cth: Rahimahullah: semoga Allah merohmatinya.<br />
Perlu di ketahui, sebutan almarhum sekarang bukan hanya untk muslimin, tapi juga yg menyebutkan untuk org yg telah meninngal dari kaum kuffar. Wallahi, Untuk kaum muslimin saja kita tidak tahu siapa saja yang akan dirahmati Allah. Allahu a`lam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rendy</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19761</link>
		<dc:creator>Rendy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 23:12:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19761</guid>
		<description>Oh gitu ya Mas, hehe. Baru tau saya, terima kasih atas informasinya. Juga yang comment pertama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Oh gitu ya Mas, hehe. Baru tau saya, terima kasih atas informasinya. Juga yang comment pertama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rita</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19307</link>
		<dc:creator>Rita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 15:51:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19307</guid>
		<description>Dari http://religiusta.multiply.com/

Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?

    *
      Minal &#039;aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
    *
      Mohon maaf lahir-bathin, minal &#039;aidin wal faizin
    *
      Semoga kita dimaafkan minal &#039;aidin wal faizin
    *
      Semoga kita minal &#039;aidin wal faizin
    *
      Semua benar. 

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari &#039;aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata &#039;Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka?

&#039;Aidin itu isim fa&#039;il (pelaku) dari &#039;aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses &quot;pemukulan&quot; (masdar), juga ada &quot;yang memukul&quot; (anda pelakunya). Kalau kamu &quot;pulang&quot; (kata kerja), berarti kamu &quot;yang pulang&quot; (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa&#039;il.

Kalau si Aidin, darimana? &#039;Aidin atau &#039;Aidun itu bentuk jamak (plural) dari &#039;aid, yang artinya &quot;yang kembali&quot; (isim fa&#039;il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah &quot;kembali kepada fitrah&quot; setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

    *
      &#039;aada = ia telah kembali (fi&#039;il madhi).
    *
      Ya&#039;uudu = ia tengah kembali (fi&#039;il mudhori)
    *
      &#039;audat = kembali (kata dasar)
    *
      &#039;ud = kembali kau! (fi&#039;il amr/kata perintah)
    *
      &#039;aid = ia yang kembali (isim fa&#039;il). 

Kalau si Faizin?

Si Faizin juga sama. Dia isim fa&#039;il dari faaza (past tense) yang artinya &quot;sang pemenang&quot;. Urutannya seperti ini:

    *
      Faaza = ia [telah] menang (past tense)
    *
      Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
    *
      Fauzan = menang (kata dasar).
    *
      Fuz = menanglah! (fi&#039;il amr/kata perintah)
    *
      Fa&#039;iz = yang menang. 

&#039;Aid (yang kembali) dan Fa&#039;iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi &#039;Aidun dan Fa&#039;izun. Karena didahului &quot;Min&quot; huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi &quot;Aidin&quot; dan &quot;Faizin&quot;. Sehingga lengkapnya &quot;Min Al &#039;Aidin wa Al Faizin&quot;. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan &quot;Minal Aidin wal Faizin&quot;.

Lalu mengapa harus diawali dengan &quot;min&quot;?

&quot;Min&quot; artinya &quot;dari&quot;. Sebagaimana kita ketahui, kata &quot;min&quot; (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya &#039;dari&#039; zuhur hingga ashar. Atau &#039;dari&#039; Cengkareng sampe Cimone.

Selain berarti &quot;dari&quot;, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:

Ba&#039;id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta&#039;ti li bad&#039;il azminah

Artinya: Maknailah dengan &quot;sebagian&quot;, kata penjelas dan permulaan tempat... dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.

Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata &quot;sebagian&quot; (lit-tab&#039;idh). Jadi secara harfiyah, minal &#039;aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG. Nah, pusing kan?

Tunggu dulu. Sabar, napa.

Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan &quot;almarhum&quot; yang artinya &quot;yang dirahmati&quot; (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan &quot;semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat&quot;.

Akan halnya dengan minal &#039;aidin wal-faizin, ini juga doa: &quot;Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan&quot;. Amin.

Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.

Kesimpulannya?

Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Asal jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.

Akhirnya, semoga kita minal &#039;aidin wal faizin. Amin!

# Taufik Munir</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dari <a href="http://religiusta.multiply.com/" rel="nofollow">http://religiusta.multiply.com/</a></p>
<p>Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?</p>
<p>    *<br />
      Minal &#8216;aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin<br />
    *<br />
      Mohon maaf lahir-bathin, minal &#8216;aidin wal faizin<br />
    *<br />
      Semoga kita dimaafkan minal &#8216;aidin wal faizin<br />
    *<br />
      Semoga kita minal &#8216;aidin wal faizin<br />
    *<br />
      Semua benar. </p>
<p>Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari &#8216;aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata &#8216;Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka?</p>
<p>&#8216;Aidin itu isim fa&#8217;il (pelaku) dari &#8216;aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses &#8220;pemukulan&#8221; (masdar), juga ada &#8220;yang memukul&#8221; (anda pelakunya). Kalau kamu &#8220;pulang&#8221; (kata kerja), berarti kamu &#8220;yang pulang&#8221; (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa&#8217;il.</p>
<p>Kalau si Aidin, darimana? &#8216;Aidin atau &#8216;Aidun itu bentuk jamak (plural) dari &#8216;aid, yang artinya &#8220;yang kembali&#8221; (isim fa&#8217;il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah &#8220;kembali kepada fitrah&#8221; setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.</p>
<p>    *<br />
      &#8216;aada = ia telah kembali (fi&#8217;il madhi).<br />
    *<br />
      Ya&#8217;uudu = ia tengah kembali (fi&#8217;il mudhori)<br />
    *<br />
      &#8216;audat = kembali (kata dasar)<br />
    *<br />
      &#8216;ud = kembali kau! (fi&#8217;il amr/kata perintah)<br />
    *<br />
      &#8216;aid = ia yang kembali (isim fa&#8217;il). </p>
<p>Kalau si Faizin?</p>
<p>Si Faizin juga sama. Dia isim fa&#8217;il dari faaza (past tense) yang artinya &#8220;sang pemenang&#8221;. Urutannya seperti ini:</p>
<p>    *<br />
      Faaza = ia [telah] menang (past tense)<br />
    *<br />
      Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)<br />
    *<br />
      Fauzan = menang (kata dasar).<br />
    *<br />
      Fuz = menanglah! (fi&#8217;il amr/kata perintah)<br />
    *<br />
      Fa&#8217;iz = yang menang. </p>
<p>&#8216;Aid (yang kembali) dan Fa&#8217;iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi &#8216;Aidun dan Fa&#8217;izun. Karena didahului &#8220;Min&#8221; huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi &#8220;Aidin&#8221; dan &#8220;Faizin&#8221;. Sehingga lengkapnya &#8220;Min Al &#8216;Aidin wa Al Faizin&#8221;. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan &#8220;Minal Aidin wal Faizin&#8221;.</p>
<p>Lalu mengapa harus diawali dengan &#8220;min&#8221;?</p>
<p>&#8220;Min&#8221; artinya &#8220;dari&#8221;. Sebagaimana kita ketahui, kata &#8220;min&#8221; (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya &#8216;dari&#8217; zuhur hingga ashar. Atau &#8216;dari&#8217; Cengkareng sampe Cimone.</p>
<p>Selain berarti &#8220;dari&#8221;, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:</p>
<p>Ba&#8217;id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta&#8217;ti li bad&#8217;il azminah</p>
<p>Artinya: Maknailah dengan &#8220;sebagian&#8221;, kata penjelas dan permulaan tempat&#8230; dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.</p>
<p>Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata &#8220;sebagian&#8221; (lit-tab&#8217;idh). Jadi secara harfiyah, minal &#8216;aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG. Nah, pusing kan?</p>
<p>Tunggu dulu. Sabar, napa.</p>
<p>Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan &#8220;almarhum&#8221; yang artinya &#8220;yang dirahmati&#8221; (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan &#8220;semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat&#8221;.</p>
<p>Akan halnya dengan minal &#8216;aidin wal-faizin, ini juga doa: &#8220;Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan&#8221;. Amin.</p>
<p>Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.</p>
<p>Kesimpulannya?</p>
<p>Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Asal jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.</p>
<p>Akhirnya, semoga kita minal &#8216;aidin wal faizin. Amin!</p>
<p># Taufik Munir</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Software UM</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19189</link>
		<dc:creator>Software UM</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 03:39:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19189</guid>
		<description>Ini bukti bahwa Indonesia memang Unik...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukti bahwa Indonesia memang Unik&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mas No'</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19160</link>
		<dc:creator>Mas No'</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 14:53:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19160</guid>
		<description>Bagaimana dengan do&#039;a : semoga aja laris dagangan kita [bagi Para pedagang], semoga aja cepet dapat keturunan [tiap ada pengantin baru], dan berbagai versi do&#039;a dengan bahasa bermacam..?
Kalau do&#039;a mah dalam hati aja, Allah juga mendengarkan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana dengan do&#8217;a : semoga aja laris dagangan kita [bagi Para pedagang], semoga aja cepet dapat keturunan [tiap ada pengantin baru], dan berbagai versi do&#8217;a dengan bahasa bermacam..?<br />
Kalau do&#8217;a mah dalam hati aja, Allah juga mendengarkan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tintamirah</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19140</link>
		<dc:creator>tintamirah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 18:05:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19140</guid>
		<description>salam kenal..oke juga ulasannya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal..oke juga ulasannya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Romantic Renaissance &#187; Blog Archive &#187; Glossy Brotherhood</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19137</link>
		<dc:creator>Romantic Renaissance &#187; Blog Archive &#187; Glossy Brotherhood</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 17:13:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19137</guid>
		<description>[...] gue baru baca di blognya Mas Pujiono yang menulis bahwa frasa minal aizin wal faizin tidak ada dalam budaya Arab dan artinya [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] gue baru baca di blognya Mas Pujiono yang menulis bahwa frasa minal aizin wal faizin tidak ada dalam budaya Arab dan artinya [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kei Savourie</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19134</link>
		<dc:creator>Kei Savourie</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 03:31:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19134</guid>
		<description>Wah, baru tau saya.. ini beneran info yang mind blowing haha.. I&#039;ll post link to this article in our blog. Thanks bro.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, baru tau saya.. ini beneran info yang mind blowing haha.. I&#8217;ll post link to this article in our blog. Thanks bro.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ismail</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19132</link>
		<dc:creator>Ismail</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 11:31:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19132</guid>
		<description>The article is totally wrong. We have and use &quot;Minal Aidin wal Faizin&quot; in Arabic. It literally means &quot;I hope you always celebrate this happy occassion and you will be from the winners&quot;. &quot;Aidin&quot; is taken from the word Eid and means &quot;Many returns of Eid&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>The article is totally wrong. We have and use &#8220;Minal Aidin wal Faizin&#8221; in Arabic. It literally means &#8220;I hope you always celebrate this happy occassion and you will be from the winners&#8221;. &#8220;Aidin&#8221; is taken from the word Eid and means &#8220;Many returns of Eid&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Muhammad Maman</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19128</link>
		<dc:creator>Muhammad Maman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 01:07:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19128</guid>
		<description>Alhamdulillah ada yang ngasih tau..., terimakasih mas....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah ada yang ngasih tau&#8230;, terimakasih mas&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Muhammad Maman</title>
		<link>http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19127</link>
		<dc:creator>Muhammad Maman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 01:06:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19127</guid>
		<description>Alhadulillah ada yang ngasih tau.., terimakasih mas...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alhadulillah ada yang ngasih tau.., terimakasih mas&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
