Budi Anduk May 15, 2009
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.106 comments
Meski tetap menjadi obyek penderita, dia tidak akan memprihatinkan
Masing-masing orang punya masa tenarnya sendiri-sendiri. Jika tahun lalu nama Tukul Arwana meroket sampai ke luar angkasa, kini nampaknya Budi Anduk sedang melangkah ke jenjang ketenaran. Kita mengenal nama pelawak berambut keriting ini saat dia menjadi figuran acara Ngelaba-nya Patrio di TPI. Itu terjadi pada 1996. Sayang sekali, saya bukanlah fans acara-acara di televisi ini. Jadi, jangan harap saya tahu bagaimana kualitas lawakan Budi Anduk ketika itu. Tapi, banyak orang yang bilang bahwa Budi Anduk sering menjadi objek penderita dalam acara lawakan itu. Duh, memprihatinkan, ya?
Kemudian kita melihat nama Budi Anduk semakin tenar ketika nyaris setiap hari wajahnya muncul di layar Star ANTV dalam acara banyolan Tawa Sutra. Well, banyak lawakan garing dalam acara itu. Tapi kemungkinan itulah yang dicari oleh banyak penonton sekarang ini: lawakan garing dan olok-olok tidak lucu. Di sini Budi masih tetap menjadi objek penderita. Perannya tidak jauh dari orang yang dikerjai, orang yang dibikin bingung, orang yang dijorokin oleh pelakon lain.
Nama Budi kembali melonjak tenar ketika SBY, presiden kita itu, menjagokan Budiono untuk menjadi calon wakil presiden pendampingnya. Banyak orang yang memelesetkan nama calon wakil presiden yang Gubernur Bank Indonesia itu Budi Anduk. Maklumlah, orang sudah mulai jenuh dengan hiruk pikuk politik yang sudah lama memekakkan telinga. Tentu saja Budi Anduk tidak bisa disamakan dengan Budiono, demikian pula sebaliknya.
Inilah masa tenar bagi Budi Anduk, pelawak yang jago bermain gitar dan menulis naskah. Pria yang bernama asli Budi Prihatin itu nampaknya tidak akan lagi hidup di tengah keprihatinan. Apalagi kalau Budiono benar-benar menjadi wakil presidennya SBY, khan?
Blog Belum Mati May 4, 2009
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.59 comments
I’m back…

Jika dihitung sejak tulisan terakhir saya pada 5 November 2008 tentang reaksi kemenangan Obama atas McCain, berarti saya sudah genap enam bulan tidak menuliskan lema di blog ini. Ini bisa dibilang adalah rentang waktu terlama bagi saya untuk tidak menorehkan sesuatu di blog yang sudah online sejak tahun 2005 yang lalu.
Ada beberapa komentar menanyakan mengapa saya berhenti ngeblog. Ah, cuma saya yang hiatus masa’ masih juga diamati juga, sih? Kecuekan saya terhadap blog ini nampak semakin menjadi ketika pada 28 April kemarin mendadak blog ini hilang dari ‘peredaran’ sama sekali. Saya benar-benar alpa untuk memperpanjang masa aktif domain ini. Ups… khilaf!
Jadi, apa penyebab dari tidak aktifnya blog saya ini? Well, tidak perlulah ini dibahas. Intinya memang adalah kemalasan saya semata. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih. Kalau kemudian ada pertanyaan lanjutan: jadi, benarkah blog itu tren semata? Duh, please jangan lemparkan pertanyaan itu ke saya. Rentetan kata-kata yang diakhiri dengan tanda tanya itu terlalu kuno untuk kita bahas. Toh selama saya hiatus, saya masih berkomunikasi dengan teman-teman blogger yang lain menggunakan Facebook dan Twitter. Sesekali saya juga masih menuliskan komentar di beberapa blog yang saya jumpai.
Hmmm, apakah artinya saya mau bilang bahwa Facebook dan Twitter juga adalah bentuk blog yang lain? Aha, Anda tahu juga jawabannya, khan?
Begitulah. Hari ini saya beranikan diri untuk menulis sebuah entri lagi, di blog ini.


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.